Cingpoling bermula ketika Demang Kesawen dan tiga pengawalnya—Krincing, Dipomenggolo, dan Keling—melakukan latihan bela diri secara terbuka saat mengikuti pisowanan (sowan) ke Kadipaten Karangduwur. Karena tindakan tersebut dianggap mengganggu, mereka kemudian menyamarkan gerakan dalam bentuk tari perang dan diperkenalkan sebagai Cingpoling, nama gabungan dari suku kata akhir nama ketiga pengawal tersebut.[2] Tradisi ini awalnya digunakan sebagai bentuk gladi keprajuritan dan hiburan untuk para bangsawan.[butuh rujukan]
Gerakan dan ciri khas
Ragam gerak kesenian Cingpoling dilakukan secara berulang karena pada dasarnya kesenian ini bukanlah sebuah tarian, melainkan penyamaran gerak seorang prajurit. Urutan geraknya dimulai dari cakrak, ujung, titenan, gambul, dugangan, kitrangan, jajagan, adon-adon, gebragan, genjotan, limpen, hingga teteran.[3] Tidak seperti pencak silat pada umumnya yang menekankan pada pertarungan atau duel, Cingpoling mengedepankan aspek pertahanan diri dan spiritualitas. Gerakan-gerakan dalam Cingpoling sering kali diselingi dengan dzikir dan doa, serta mengandung filosofi pasrah kepada Tuhan setelah berikhtiar secara maksimal. Hal ini menjadikan Cingpoling tidak hanya sebagai aktivitas fisik, tetapi juga bagian dari laku hidup dan ibadah.[butuh rujukan]
Gerakan dalam Cingpoling ditandai dengan kecepatan dan kelincahan, namun tidak meninggalkan unsur keindahan gerak. Dalam pertunjukan, para pesilat Cingpoling mengenakan kostum hitam sederhana dan sering kali membentuk formasi tertentu yang diiringi oleh gamelan atau instrumen musik tradisional. Teknik yang diajarkan meliputi tangkisan, elakan, kuncian, hingga serangan dengan tangan kosong. Namun semua teknik itu dijalankan dalam bingkai etika, bahwa bela diri ini bukan untuk menyerang, tetapi untuk melindungi diri dan orang lain.[4]
Cingpoling merepresentasikan warisan keprajuritan lokal yang unik di Purworejo, sekaligus mencerminkan adaptasi dari latihan militer menjadi bentuk seni pertunjukan. Tari ini memperkaya ragam tari tradisional Indonesia dan menjadi simbol identitas budaya Desa Kesawen dan sekitarnya.[butuh rujukan]