Sungai Cimanis menghadapi beberapa permasalahan lingkungan yang berdampak pada permukiman dan infrastruktur di sekitarnya.
Abrasi dan Longsor
Abrasi tebing Sungai Cimanis merupakan masalah berulang di beberapa wilayah. Di Desa Blender, Kecamatan Karangwareng, Kabupaten Cirebon, abrasi menggerus tanah di belakang rumah warga dan telah terjadi sebanyak empat kali, dengan insiden skala besar terakhir pada 20 April 2025, setelah hujan lebat. Kejadian ini mengancam rumah penduduk dan menyebabkan longsor yang merusak bagian dapur serta menumbangkan pohon besar.[4]
Selain itu, di Desa Beringin, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, longsor tebing Sungai Cimanis sempat memutus saluran irigasi pertanian dan nyaris memutuskan jalan usaha tani. Kondisi ini, diperparah oleh cuaca ekstrem dan intensitas hujan tinggi, menimbulkan kekhawatiran warga akan luapan air yang dapat membanjiri permukiman.[5]
Pendangkalan dan Penumpukan Sampah
Di Desa Karangsuwung, Kecamatan Karangsembung, Kabupaten Cirebon, Sungai Cimanis mengalami pendangkalan dan penumpukan sampah selama puluhan tahun tanpa normalisasi. Kondisi ini diidentifikasi sebagai penyebab utama luapan air dan banjir yang sering mengancam permukiman warga saat musim hujan.[6]
Geologi
Keterkaitan dengan Sesar Baribis
Sungai Cimanis memiliki keterkaitan erat dengan aktivitas Sesar Baribis, salah satu zona sesar mayor di Jawa bagian barat.[7]
Ahli geologi dari Institut Teknologi Bandung, menemukan tanda-tanda aktivitas Sesar Baribis segmen Cirebon di Sungai Cimanis, khususnya di tiga titik di Desa Susukan Lebak. Tanda-tanda tersebut meliputi bekas gerusan pada batuan atau yang disebut slicken side (cermin sesar). Keunikan di lokasi Sungai Cimanis adalah ditemukannya dua arah slicken side (ke atas dan ke samping), yang mengindikasikan adanya perubahan pergerakan arah sesar. Lengkungan vertikal antara batas muka sawah di area datar dan perbukitan memanjang di sekitar Sungai Cimanis, yang mengindikasikan adanya aktivitas sesar naik. Kesamaan tanda-tanda aktivitas sesar di Sungai Cimanis ini dengan kecenderungan aktivitas Sesar Baribis di utara Jawa, seperti hamparan sawah di area datar yang berbatasan dengan perbukitan dengan ketinggian puluhan meter, serupa di Subang dan Purwakarta.[7]
Meskipun tanda-tanda telah ditemukan, para peneliti menyatakan bahwa penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan. Ini meliputi penggalian kedalaman untuk mengetahui batas batuan, penggunaan metode geolistrik untuk mengukur patahan, dan radiocarbon dating untuk mengetahui usia fosil.[7]
Referensi
↑"Ci Manis". Mapcarta (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-16.
↑"Kali Bangkaderes". Mapcarta (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-16.