Badan usaha milik negara
Pada bulan Mei 2004, setelah Dewan Negara Republik Rakyat Tiongkok menyetujui penggabungan perusahaan-perusahaan yang sebelumnya berada di bawah Kementerian Industri Kimia untuk membentuk China National Chemical Corporation (ChemChina), Ren Jianxin pun ditunjuk sebagai CEO. Pada bulan Desember 2014, ia ditunjuk menjadi chairman dewan direksi.[4]
Di dalam divisi agrokimia ChemChina, terdapat sejumlah perusahaan, termasuk Sanonda Holdings, Cangzhou Dahua, Shandong Dacheng, Jiangsu Anpon, Anhui Petrochemicals, dan Huaihe Chemicals. Pada tahun 2011, perusahaan ini juga mengakuisisi 60% saham produsen pestisida generik terbesar di dunia, yakni Makhteshim Agan asal Israel dengan harga US$2,4 miliar. Nama perusahaan tersebut kemudian diubah menjadi Adama Agricultural Solutions.[6]
Divisi bahan kimia dan bahan kimia khusus ChemChina masing-masing mengakuisisi satu perusahaan asal Prancis pada tahun 2006.[7] Pertama adalah Adisseo Group, sebuah produsen pakan nutrisi hewan global yang fokus memproduksi metionin, vitamin, dan enzim biologis. Pada saat dibeli, Adisseo menguasai 30% pangsa pasar metionin dunia.[7] Kedua adalah bisnis silikon organik dan sulfit dari Rhodia.[7] Dengan akuisisi tersebut, perusahaan ini pun menjadi produsen silikon organik terbesar ketiga di dunia.[7]
Divisi pemrosesan petrokimia ChemChina mengoperasikan sejumlah kilang, termasuk kilang kecil yang disebut sebagai pabrik teko, dengan total kapasitas pemrosesan sekitar 25 juta ton (25.000.000 ton panjang; 28.000.000 ton pendek) per tahun atau sekitar 500.000 barel per hari. Setelah impor produk bahan bakar dan minyak mentah ke Tiongkok diliberalisasi, perusahaan ini pun membuka kantor dagang di Singapura pada bulan Oktober 2013.[8]
Pada bulan Maret 2015, diumumkan bahwa pemegang saham Pirelli telah menerima tawaran senilai €7,1 miliar dari ChemChina.[9][10]
Akuisisi Syngenta
Pada bulan Februari 2016, ChemChina mengajukan tawaran akuisisi senilai $43 miliar kepada Syngenta.[11] Akuisisi tersebut pun menjadi akuisisi terbesar yang dilakukan oleh perusahaan asal Tiongkok terhadap perusahaan asal luar Tiongkok.[11][12] Akuisisi tersebut masih harus menunggu persetujuan dari Committee on Foreign Investment in the United States (CFIUS) dan panel pemerintah Eropa, karena berhubungan dengan keamanan dan keselamatan makanan. Pada bulan Juni 2016, ChemChina dan Syngenta merevisi berkas transaksi yang diserahkan ke CFIUS, sehingga proses peninjauan akuisisi harus diulang dari awal.[13] Pada bulan Agustus 2016, CFIUS akhirnya menyetujui akuisisi tersebut, sementara peninjauan Komisi Eropa masih berlangsung,[14] terutama mengenai divestasi Adama Agricultural Solutions ke Sanonda.[15]
Pada bulan Desember 2016, Australian Competition & Consumer Commission menyetujui akuisisi tersebut, sementara peninjauan Komisi Eropa masih berlangsung.[16] Pada bulan April 2017, Komisioner Kompetisi Eropa dan Federal Trade Commission Amerika Serikat akhirnya menyetujui akuisisi tersebut, asalkan ChemChina mendivestasi produksi pestisida parakuat, abamektin, dan klorotalonil.[17][18] Komisi Eropa juga menekankan kekhawatirannya mengenai hormon tumbuhan dan menegaskan kembali komitmen yang diharapkan mengenai divestasi produk yang terkait dengan ADAMA.[19] Hingga tanggal 26 Mei 2017, rencana ChemChina untuk membeli Syngenta dengan harga $44 miliar hampir selesai,[12] dengan ChemChina meminjam banyak dana untuk membeli saham Syngenta.[12] Akuisisi tersebut akhirnya selesai pada bulan yang sama dengan ChemChina menguasai 82,2% saham dan depository receipt Syngenta.[15]