Lahir di keluarga terkemuka di Northumberland, Grey disekolahkan di Kolese Eton dan Universitas Cambridge. Saat melakukan perjalanan keliling Eropa dalam Grand Tour, pamannya mengamankan pemilihannya sebagai anggota parlemen (MP) untuk Northumberland dalam pemilihan sela tahun 1786. Grey bergabung dengan lingkaran Whig di London dan merupakan pemimpin lama gerakan reformasi. Ia sempat menjabat sebagai Menteri Angkatan Laut dan sebagai menteri luar negeri dalam Kementerian Semua Bakat dari tahun 1806 hingga 1807 dan kemudian menjabat sebagai oposisi sebagai anggota Dewan Bangsawan selama hampir 24 tahun.
Ia diminta untuk membentuk kabinet oleh William IV pada tahun 1830, setelah pengunduran diri Wellington. Sebagai perdana menteri, Grey mengawasi pengesahan Undang-Undang Reformasi 1832, yang mendistribusikan kembali kursi parlemen dan menstandarisasi serta memperluas hak pilih di Inggris dan Wales. Undang-undang ini disertai dengan Undang-Undang Reformasi Skotlandia dan Undang-Undang Reformasi Irlandia pada tahun yang sama. Pemerintah Grey juga memberlakukan Undang-Undang Penghapusan Perbudakan 1833, yang melarang praktik perbudakan di Kekaisaran Inggris. Grey mengundurkan diri sebagai perdana menteri pada tahun 1834 setelah terjadi perselisihan kabinet mengenai kebijakan di Irlandia, dan kemudian ia pensiun dari politik.
Setelah berselingkuh dengan Duchess of Devonshire yang sudah menikah, yang menghasilkan seorang putri yang dibesarkan oleh orang tua Grey, Grey menikahi Mary Ponsonby dan memiliki lima belas anak. Namanya dikaitkan dengan teh Earl Grey.
Kehidupan awal dan keluarga
Earl Grey ke-2 lahir di Fallodon, Northumberland pada 13 Maret 1764 di sebuah keluarga tuan tanah. Ia merupakan putra ke-2, namun putra sulung yang masih hidup dari Charles Grey dan Elizabeth Grey dari County Durham. Ayahnya merupakan seorang prajurit yang menyandang pangkat jenderal dan diberikan gelar bangsawan sebagai Baron Grey (1801) dan kemudian Earl Grey (1806).[1]
Pada usia 6 tahun, Grey disekolahkan di Marylebone dimana ia menghabiskan 3 tahun yang sengsara. Ia kemudian ke Kolese Eton dimana ia bertemu dengan orang-orang yang kelak menjadi sekutu politiknya seperti Samuel Whitbread dan William Henry Lambton.
Setelah wafatnya George IV dan William IV naik taktha pada 1830, pemilu diadakan dan dimenangkan oleh Adipati Wellington yang mempertahankan mayoritasnya di pemerintah. Pada 15 November 1830, sehari sebelum Henry Brougham dijadwalkan mengajukan mosi reformasi, pemerintah kalah dalam pemungutan suara mengenai daftar pegawai negeri. Wellington mengundurkan diri keesokan harinya dan raja segera meminta Grey untuk membentuk sebuah kabinet.[2][3]:239-40 Grey menjabat pada tanggal 22 November 1830 dan membentuk kabinetnya. Semua kecuali satu dari tiga belas anggota kabinetnya adalah bangsawan atau pewaris gelar bangsawan, sementara posisi junior diberikan kepada anggota keluarganya, termasuk putranya Henry Grey, sesuatu yang menarik perhatian para pembuat cetakan satir pada masa itu.[4]
Rapat kabinet pertama pemerintahan baru tersebut membahas kerusuhan Swing, yaitu kerusuhan agraria di wilayah selatan dan timur negara itu.[5]:263 Penindasan keras terhadap kerusuhan tersebut meninggalkan apa yang digambarkan Trevelyan sebagai "noda pada reputasi Grey yang sangat bersih," meskipun Lord Melbourne-lah yang, sebagai menteri dalam negeri, sebagian besar bertanggung jawab atas tindakan tersebut.[3]:252-3
Pada tahun 1831, pemerintah mengesahkan Undang-Undang Truk 1831 (juga dikenal sebagai Undang-Undang Pembayaran Upah dalam Bentuk Uang), yang melarang sistem upah truck, di mana pekerja dibayar dengan komoditas dan bukan uang. RUU tersebut diajukan oleh Edward Littleton, Anggota Parlemen untuk Staffordshire.[6]
Undang-Undang Reformasi 1832
Grey berjanji akan memberlakukan reformasi politik ketika diangkat menjadi perdana menteri. Ia pernah berkata kepada William IV bahwa pemerintah dibawahnya akan berencana untuk menghapus daerah pemilihan yang kosong untuk menambah perwakilan dari kota-kota industri yang bertumbuh pesat seperti Manchester, Birmingham, Bradford dan Leeds.[7] William IV balik berkata bahwa ia meminta pemerintah Grey untuk melakukan reformasi yang "wajar".
Pada Desember 1830, pemerintahnya membentuk sebuat sub-komite yang beranggotakan empat menteri (Viscount Duncannon, Baron Durham, Sir James Graham dan Lord John Russell) untuk membuat RUU Reformasi.[1] RUU tersebut, dengan restu raja, diajukan ke Dewan Rakyat pada 1 Maret 1831.[1] Pada bacaan pertama, RUU tersebut disahkan dengan hanya mayoritas 1 suara. Fraksi Partai Tory pimpinan Robert Peel menyatakan bahwa RUU tersebut akan menghancurkan sistem bangsawan dan memicu revolusi sementara beberapa politikus radikal mengecam Grey karena RUU tersebut tidak mencakupi kelas buruh dan RUU dipandang "belum cukup".[8] Partai Tory kemudian mengeluarkan amandemen yang kemudian disahkan dengan 8 suara mayoritas, Grey meminta William IV untuk membubarkan Parlemen dan menyelenggarakan pemilu baru.[1] Pada awalnya, William IV enggan menggunakan hak prerogatifnya untuk membubarkan parlemen sesuai saran Grey namun dikarenakan Partai Tory juga melakukan hal yang cukup menjengkelkan raja, William IV mengikuti saran Grey dan membubarkan parlemen.[9]
Pemilihan umum Britania Raya 1831 merupakan pemilu yang gemilang bagi pemerintah Grey, mencerminkan dukungan umum terhadap reformasi. Pemerintah Grey sekali lagi mengajukan RUU Reformasi di Dewan Rakyat pada 24 Juni 1831 yang disetujui namun RUU tersebut mati di Dewan Bangsawan yang menolak RUU tersebut, menyulutkan amarah publik.[8] Grey kembali mengajukan RUU Reformasi untuk ketiga kalinya dan meminta William IV untuk memasukkan anggota-anggota Whig di Dewan Bangsawan supaya RUU dapat disahkan. Pemerintahnya juga mengancam William IV bahwa mereka akan mundur jika raja tidak serius dalam memberlakukan reformasi. Meskipun kali ini Dewan Bangsawan tidak sepenuhnya menolak RUU tersebut, bangsawan Tory pimpinan Adipati Wellington mulai memasukkan amandemen-amandemen untuk mengalahkan tujuan reformasi. Grey mundur dari jabatannya dan William IV meminta Adipati Wellington untuk membentuk pemerintahan. Namun, amarah publik terhadap Wellington, keengganan Robert Peel untuk masuk ke pemerintahan baru Wellington, dan krisis moneter yang disebabkan oleh pengunduran diri Grey membuat William IV memohon Grey untuk kembali menjabat. Grey kali ini meminta raja untuk menciptakan bangsawan Whig atau meminta fraksi Wellington untuk tidak melawan. William IV awalnya mencoba meredamkan Wellington namun kemudian berjanji kepada Grey bahwa ia akan membuat daftar calon bangsawan baru dari Whig. Ketakutan, Wellington memerintahkan pendukungnya untuk tidak menghadiri sidang Dewan Bangsawan agar tidak melawan RUU tersebut dan pada akhirnya Dewan Bangsawan menyetujui RUU Reformasi pada 4 Juni 1832 dan William IV mengesahkan RUU tersebut pada 7 Juni 1832.[8][10]
Undang-Undang Reformasi mendistribusikan kembali kursi parlemen di wilayah-wilayah administratif (borough) dengan menghapus hampir semua wilayah administratif yang korup dan wilayah administratif yang dikuasai oleh kelompok tertentu, serta memberikan kursi kepada kota-kota yang sebelumnya tidak memiliki perwakilan, termasuk kota-kota industri. Kualifikasi pemilih di wilayah-wilayah administratif distandarisasi, memberikan hak suara kepada pemilik properti laki-laki (termasuk kantor, gudang, atau toko serta rumah) dengan nilai sewa minimal £10 per tahun, asalkan mereka adalah pembayar pajak yang berdomisili di wilayah tersebut. Di wilayah-wilayah administratif (county), di mana hak pilih didasarkan pada undang-undang abad ke-15 yang memberikan hak suara kepada pemilik tanah senilai 40 shilling atau lebih per tahun, hak pilih diperluas kepada pemilik properti dengan nilai sewa tahunan minimal £10, dan pemilik properti dengan nilai sewa £50. Sebagai hasil dari undang-undang tersebut, jumlah pemilih di wilayah-wilayah administratif Inggris meningkat sekitar 61 persen, sementara di wilayah-wilayah administratif Inggris meningkat sekitar 29 persen. Namun, peningkatan tersebut tidak konsisten, dan beberapa wilayah dan kabupaten mengalami penurunan jumlah pemilih sebagai akibat dari undang-undang tersebut. Di seluruh Inggris, terdapat 614.654 pemilih terdaftar setelah undang-undang tersebut diberlakukan.[11] Undang-undang tersebut mengabadikan prinsip bahwa hanya laki-laki yang dapat memilih, sementara sebelumnya perempuan hanya memberikan suara pada kesempatan yang sangat jarang. Sebagian besar laki-laki kelas pekerja masih dikecualikan dari hak pilih.[12] Meskipun demikian, UU Reformasi 1832 merupakan titik awal demokratisasi Britania Raya yang kemudian dituntaskan pada era Ratu Victoria.[13]
Morrell, W. P. British Colonial Policy in the Age of Peel and Russell (2023)
Phillips, John A.; Wetherell, Charles (1995). "The Great Reform Act of 1832 and the political modernization of England". American Historical Review. 100 (2): 411–436. JSTOR2169005. doi:10.1086/ahr/100.2.411.
Trevelyan, George Macaulay (1920). Lord Grey of the Reform Bill (London: Longman, Green and Co.) online