Kota Caruban adalah nama ibu kota resmi dari Kabupaten Madiun yang terletak di Kecamatan Mejayan. Sebelumnya pusat pemerintahan kabupaten berada di Kota Madiun yang kemudian dipindahkan ke Mejayan pada tahun 2010.[1] Selanjutnya pada tahun 2019, ibu kota Kabupaten Madiun resmi berubah nama dari Mejayan menjadi Caruban.[2] Nama Caruban dipilih karena Caruban merupakan kabupaten tersendiri pada zaman kerajaan. Kemudian Caruban dilebur ke Kabupaten Madiun dan berubah status menjadi kawedanan atau daerah pembantu bupati yang membawahi beberapa kecamatan seperti Saradan dan Gemarang.
Caruban merupakan pusat ekonomi Madiun bagian timur di perlintasan jalan nasionalNgawi-Surabaya dengan infrastruktur lengkap seperti pasar, alun-alun, terminal bus, hingga stasiun kereta api. Caruban memiliki kesenian dongkrek serta makanan khas, yaitu brem dan pecel yang menjadi ikon Kabupaten Madiun. Caruban juga memiliki tempat wisata religi populer seperti komplek Makam Kuncen yang terdapat makam tokoh-tokoh penting masa Kesultanan Mataram. Tokoh tersebut antara lain Kiai Ageng Anom Besari yang berjasa menyebarkan Islam di wilayah ini, Pangeran Mangkudipuro (Bupati Madiun ke-14), Raden Cokrokusumo I (Bupati Caruban pertama), serta bupati Caruban lain dan tokoh lainnya.[3]
Geografi
Caruban adalah kota kecil yang ramai di Kabupaten Madiun bagian timur. Di kawasan ini terdapat pertigaan yang menghubungkan Surabaya di timur, Kota Madiun di barat, dan Ngawi di utara. Sedangkan bagian selatan, terdapat jalur penghubung Caruban dengan kawasan wisata di lereng Wilis seperti Kecamatan Kare.[4]
Pada zaman Kesultanan Mataram, Caruban adalah kabupaten yang berdiri sendiri sekitar tahun 1500 M dengan bupati pertamanya adalah Raden Cokrokusumo I (Tumenggung Alap-Alap) dan pusat pemerintahannya berada di Desa Krajan. Pada masa Bupati Notosari, didirikanlah sebuah desa perdikan atau desa khusus bernama Kuncen yang digunakan untuk memakamkan para Bupati Caruban dan kerabatnya. Nantinya Caruban dilebur ke Kabupaten Madiun setelah wilayah ini jatuh ke tangan Belanda pasca Perang Diponegoro tahun 1830-an.[5]
Pemerintah Kolonial Belanda melakukan reorganisasi wilayah dengan membentuk Karesidenan Madiun yang terdiri dari beberapa kabupaten, dan kabupaten membawahi kawedanan / distrik. Wilayah Mejayan merupakan pusat dari Kawedanan Caruban yang sekarang menjadi Kecamatan Mejayan, Saradan, dan Pilangkenceng. Caruban adalah satu dari empat kawedanan yang ada di Madiun selain Kawedanan Madiun, Uteran, dan Kanigoro. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 1963 sistem kawedanan dihapus diganti Pembantu Bupati. Lalu Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah atau Otonomi Daerah maka kedudukan Pembantu Bupati dihapus, sehingga kecamatan langsung berada di bawah kabupaten. Hal ini juga menyebabkan nama Caruban hilang secara de jure berganti dengan Mejayan.[1][2]
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 52 Tahun 2010, ibu kota Kabupaten Madiun resmi dipindahkan dari Kota Madiun ke Kecamatan Mejayan. Hal ini bertujuan untuk menata administrasi karena Kabupaten Madiun dan Kota Madiun merupakan dua pemerintahan yang berbeda sehingga perlu dipisah. Pemerintah Kabupaten Madiun mulai mempersiapkan perpindahan pemerintahan dengan membangun perkantoran dinas dan alun-alun. Kemudian pada tahun 2019 dengan adanya Peraturan Pemerintah No. 3 Tahun 2019, ibu kota Kabupaten Madiun resmi berubah dari Mejayan menjadi Caruban.[1][2]
Daftar desa dan dusun
Caruban terletak di Kecamatan Mejayan yang mencakup 11 desa dan 3 kelurahan, serta dibagi menjadi beberapa dusun / dukuh / lingkungan, yakni sebagai berikut:[4]
Brem adalah kudapan khas Madiun dengan rasa manis yang diolah dari cairan tape yang berasal dari fermentasi ketan. Brem adalah salah satu ikon Kabupaten Madiun. Salah satu sentra brem di Madiun adalah Desa Kaliabu, Kecamatan Mejayan. Brem dipasarkan dalam bentuk lempengan kotak putih berukuran kecil.[8]
Dongkrek
Kesenian dongkrek Mejayan
Dongkrek adalah kesenian daerah asli dari Desa Mejayan. Kesenian ini berupa tarian menggunakan topeng dan iringan musik sebagai ritual tolak balak. Tarian ini mengkisahkan upaya Raden Ngabei Lo Prawirodipuro dalam mengatasi pageblug sekitar tahun 1867. Saat itu masyarakat Mejayan terkena wabah penyakit yang menimbulkan korban jiwa. Kronologis upaya Raden Ngabei Lo Prawirodipuro dalam mengusir pageblug mayangkoro inilah yang menjadi inti cerita dari kesenian dongkrek ini. Dalam kisah tersebut, Raden Ngabei Lo Prawirodipuro berusaha mencari cara menyelesaikan masalah ini dengan bertapa tetapi diganggu oleh para jin genderuwo. Dia berhasil mengalahkan genderuwo tersebut dan meminta mereka untuk mengatasi pageblug yang menimpa desanya. Dari sisi bunyinya masyarakat pada waktu itu mendengar musik dari kesenian dongkrek ini yang berupa bunyian ‘dung’ berasal dari beduk atau kendang dan ‘krek’ ini dan alat musik yang disebut korek. Alat korek ini berupa kayu berbentuk bujur sangkar, di satu ujungnya ada tangkai kayu bergerigi yang saat digesek berbunyi krek.[10]