Cangkriman (Carakan: ꦕꦁꦏꦿꦶꦩ꧀ꦩꦤ꧀) merupakan kalimat teka-teki bahasa Jawa yang maksudnya harus dibatang atau ditebak. Cangkriman disebut juga badhéan atau bedhékan.[1]
Macam cangkriman
Cangkriman dapat dibedakan menurut wujudnya, di antaranya adalah sebagai berikut:[1][2]
Cangkriman yang berupa tembung wancahan
Pak bo létus. Tepak kebo (ana) léléné satus. (Jejak kerbau ada ikan lele berjumlah seratus).
Sing endhèk didhudhuki, sing dhuwur diurugi. Timbangan, traju, dhacinan. (Yang pendek dikurangi, yang tinggi ditambah. Jawaban = timbangan).
Cangkriman yang mengandung surasa bléndéran
Wong wudunen iku sugih pari.
Kata "pari" artinya: singkatan kata dari paringisan (meringis merasakan sakit).
Biru bisané dadi wungu dikapakaké? (Biru supaya bisa menjadi ungu diapakan).
Jawab: digebug atau dipukul
Biru = babi turu berarti babi yang sedang tidur dan wungu dalam bahasa Jawa bisa berarti warna ungu atau bangun dari tidur.
Énak endi iwak kucing karo iwak pitik? (Enak mana daging kucing dan daging ayam?)
Jawab: jika yang ditanya itu menjawab enakan daging ayam, berarti dia pernah mencicipi/memakan daging kucing.
Gajah ngidak endhog ora pecah. (Gajah menginjak telur tidak pecah).
Jawab: maksudnya yang tidak pecah yaitu gajahnya.
Suru supaya bisa mlayu dikapakaké? (Suru (daun pisang yang dilipat dua kemudian dijadikan semacam sendok untuk makan bubur) bisa lari apabila diapakan?)
Jawab: digebug atau dipukul
Suru = asu turu atau anjing yang sedang tidur. Mlayu = lari.
Gajah numpak bécak kétok apane? (Gajah naik becak kelihatan apanya?)
Jawab: kétok ndobosé atau tampak bohongnya/tidak mungkinnya
Wong dodol témpé ditalèni. (Orang jualan tempe diikat).
Jawab: maksudnya yang diikat bukan orangnya tetapi tempenya, karena penjual tempe di pasar tradisional biasanya menjual tempe dibungkus daun jati atau daun pisang kemudian diikat dengan tali bambu.
Wong dodol klapa dikepruki. (Orang jual kelapa dipukuli kepalanya).
Jawab: maksudnya yang dikepruk atau dipukul itu bukan orangnya, tetapi kelapanya. Karena penjual kelapa di pasar tradisional biasanya menjual kelapa yang masih bertempurung dan akan memecah tempurung itu bila ada yang membelinya.
Wong mati ditunggoni wong mésam-mèsem (Orang mati dijaga orang tersenyum-senyum).
Jawab: maksudnya yang senyum bukan yang meninggal tetapi orang yang menjaganya.
Kesusastraan
Cangkriman telah berkembang lama di tengah masyarakat Jawa. Dalam kesusastraan Jawa, cangkriman banyak muncul dalam karya-karya sastra berbentuk tembang. Contohnya yaitu dalam kisah Sri Maharaja Bérawa (Sri Maharaja Bhirawa) dari Medhang Kamulan. Dikisahkan cangkriman ini disampaikan oleh Sri Maharaja Bhirawa kepada Brahmana Kèstu (Bathara Wisnu).[3] Berikut ini adalah isi cangkriman tersebut yang tertuang dalam tembang kawi bermetrum Prawiralatita:[3]
tuwuh doning mudra tirta = anggèning tumuwuh telenging toya / seta tekèng purwandaya = pethak ingkang wit / mapatra pita laksmita = godhong jenar sumunar / sirang puspa maha rakta = ingkang sekar langkung abrit //
mabapté kang pala kresna = anedheng ingkang woh cemeng / mèsi nandhang mancawarna = isi sesotya amancawarni / masa drasa mata wiswa = raos nem prakawis dados wisa, dados jampi / taman kena risahakna = boten kénging kapisahaken //
Terjemahan dari larik tembang di atas ialah teka-teki mengenai tumbuhan. Ciri-cirinya ialah: (1) tumbuh di sekitar sumber air; (2) tanaman berwarna putih; (3) daunnya berwarna kuning; (4) bunganya berwarna merah; (5) buahnya berwarna hitam; (6) isinya bagai intan berwarna-warni.
Seni pertunjukan
Kethoprak merupakan salah satu seni pertunjukan yang cukup populer di kalangan masyarakat Jawa. Pertunjukan ini semacam drama yang menampilkan percakapan kehidupan sehari-hari. Dalam pertunjukan seni kethoprak sering kali menyajikan komedi dalam percakapannya. Salah satu penyampaian komedi dalam kethoprak yaitu melalui cangkriman berwujud tembang macapat. Tembang macapat yang populer digunakan untuk menyajikan cangkriman ialah Pocung. Berikut ini adalah kutipan tembang Pocung yang digunakan dalam pertunjukan seni kethoprak:[4]
Bapak pucung badhénen cangkriman ingsun / kidul kono ana / wit-witan kang sarwa pèni / gondhongira kaya asem wohé mirah //
Bapak pucung badhénen cangkriman ingsun / ana dhayoh teka / sandhangané gombal lami / lamun lunga si pucung dadi tangisan //
Bapak pucung dudu mega dudu gunung / dawa kaya ula / ancik-ancik wesi miring / lunga teka si pucung ngumbar suwara //
Budaya modern
Dalam era modern ini, cangkriman sering kali masih dapat ditemui dalam buku dan majalah cetak bahasa Jawa. Di buku-buku pelajaran muatan lokal bahasa Jawa juga biasa ditemui cangkriman sebagai salah satu materi dan juga sebagai tambahan hiburan dalam akhir soal-soal uji kompetensi di dalam buku tersebut.[5]
Dinas Kebudayaan Sleman menerbitkan majalah berbahasa Jawa yang salah satu isinya berupa cangkriman. Majalah ini diterbitkan dengan tujuan untuk melestarikan bahasa dan budaya Jawa, salah satunya budaya cangkriman.[6]
Referensi
12Padmosoekotjo, S. (1958). Ngéngréngan Kasusastran Djawa. Jogjakarta: Hien Hoo Sing. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Daryanto (1999). Kawruh Basa Jawa Pepak. Surabaya: Apollo. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
12Padmasusastra (1925). Serat Warnasari. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑"Pusaka Jawi" Angka: 3-4, Maret-April 1928. Taun VII. Surakarta: Java Instituut. 1928-03.Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Yatmana, Sudi (2010). Padha Bisa Basa Jawa 1. Jakarta: Yudhistira. ISBN978-979-092-110-8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)