Cangkang kura-kuraTengkorak kura-kura yang terawetkan, menunjukkan bagaimana plastron dan karapaks terhubung dengan struktur rangka lainnya untuk membentuk cangkang yang menutupi tubuhnya.
Cangkang kura-kura adalah zirah pada kura-kura (ordo Testudines) yang sepenuhnya menutupi organ-organ vital kura-kura, dan pada beberapa kasus, juga kepalanya. Cangkang ini terdiri dari sebuah bagian atas, yaitu karapaks (atau karapas atau totok), dan sebuah bagian bawah, yaitu plastron, yang terhubung melalui sebuah jembatan tulang.[1] Cangkang ini terdiri dari elemen-elemen tulang yang termodifikasi, seperti rusuk, beberapa bagian pinggul, dan tulang-tulang lainnya yang ditemukan di sebagian besar reptil. Tulang pada cangkangnya terdiri dari tulang dermal dan rangka, menunjukkan bahwa penutupan sepenuhnya oleh cangkang kemungkinan besar berevolusi dengan melibatkan zirah dermal ke rusuknya.
Cangkang kura-kura penting untuk dipelajari, bukan hanya karena perlindungan yang diberi kepada hewannya, namun juga sebagai alat idenfitiasi, terkhususnya pada fosil, karena cangkangnya menjadi salah satu bagian tubuh yang paling mungkin melewati proses fosilisasi. Dengan demikian, memahami struktur cangkang pada spesies sintas memberi material yang dapat dibandingkan dengan fosil.
Cangkang penyu sisik dan beberapa jenis kura-kura lainnya telah digunakan sebagai material berbagai jenis pernak-pernik maupun alat sejak zaman kuno, bahkan juga obat-obatan dan makanan.[2]