Cak Ingkling atau Main Dore adalah permainan tradisional anak perempuan di Sumatera Selatan dan Minangkabau. Jumlah pemainnya paling sedikit 2 orang dan paling banyak 6 orang. Setiap pemain harus memiliki pecahan keramik atau lempengan tipis yang akan dilempar ke kotak permainan yang berjumlah enam kotak. Urutan permainan ditentukan dengan suit. Empat kotak hanya boleh diinjak dengan satu kaki, sedangkan dua kotak lainnya harus diinjak dengan dua kaki. Ukuran tempat bermain sekurangnya 3 meter × 4 meter.[1]
Cak ingkling adalah permainan tradisional yang dilakukan dengan melompati kotak-kotak yang telah dibuat di tanah menggunakan satu kaki atau dua kaki sesuai aturan permainan. Di beberapa daerah, permainan ini dikenal dengan nama engklek, taplak gunung, atau sondah. Permainan ini biasanya dimainkan oleh dua orang atau lebih.
Cak ingkling termasuk permainan sederhana karena tidak membutuhkan alat yang mahal. Pemain hanya memerlukan kapur atau ranting untuk menggambar kotak di tanah serta sebuah benda kecil seperti batu atau pecahan genting sebagai penanda atau biasa disebut dengan gacuk/oncak.[2]
Permainan ini biasa dimainkan anak-anak umur 4-14 tahun tergantung pada lingkungan tempat tinggalnya, permainan ini sangat melekat dalam ingatan anak-anak karena biasanya rutin dimainkan pada saat sore hari atau pada pagi hari. Permainan ini mengandalkan keseimbangan dan konsentrasi dalam setiap langkahnya, melalui permainan ini anak-anak dapat melatih fokus, konsentrasi, dan keseimbangan sejak dini.
Permainan tradisional merupakan bagian dari warisan budaya yang memiliki nilai sosial, pendidikan, dan hiburan. Salah satu permainan tradisional yang dikenal di berbagai daerah di Indonesia adalah cak ingkling. Permainan ini dimainkan oleh anak-anak dengan cara melompat pada kotak-kotak tertentu yang digambar di tanah. Selain menyenangkan, cak ingkling juga melatih keseimbangan tubuh, konsentrasi, dan kerja sama antarpemain.[3]
Di tengah perkembangan teknologi dan permainan digital, keberadaan permainan tradisional mulai berkurang. Oleh karena itu, penting untuk mengenalkan kembali permainan cak ingkling kepada generasi muda agar nilai budaya dan manfaatnya tetap terjaga.
Cara Bermain Cak Ingkling
Berikut langkah-langkah umum dalam permainan cak ingkling:
Membuat gambar kotak-kotak di tanah menggunakan kapur atau ranting.
Setiap pemain memiliki sebuah gacuk atau batu kecil.
Pemain melempar gacuk/oncak ke salah satu kotak.
Pemain melompati kotak-kotak dengan satu kaki tanpa menginjak kotak yang terdapat gacuk.
Setelah sampai di ujung, pemain kembali sambil mengambil gacuk/oncak.
Permainan dilanjutkan ke kotak berikutnya secara bergantian.
Pemain yang berhasil melewati seluruh kotak tanpa melakukan kesalahan menjadi pemenang.
Kesalahan dalam permainan biasanya terjadi ketika pemain menginjak garis, jatuh, atau gacuk/oncak tidak masuk ke kotak yang ditentukan.[4]
Manfaat Permainan Cak Ingkling
Melatih Keseimbangan Tubuh, gerakan melompat dengan satu kaki membantu meningkatkan keseimbangan dan koordinasi tubuh.
Meningkatkan Konsentrasi, pemain harus fokus saat melompat agar tidak menginjak garis atau kehilangan keseimbangan.
Mengembangkan Interaksi Sosial, permainan dilakukan bersama teman-teman sehingga melatih kerja sama, sportivitas, dan kemampuan bersosialisasi.
Menyehatkan Tubuh, aktivitas fisik dalam permainan membantu menjaga kebugaran tubuh dan melatih otot kaki.
Melestarikan Budaya, memainkan cak ingkling berarti ikut menjaga dan melestarikan permainan tradisional Indonesia. [5]
Nilai Pendidikan dan Upaya dalam Melestarikan Permainan Cak Ingkling
Selain sebagai hiburan, cak ingkling juga mengandung nilai pendidikan, seperti: disiplin dalam mengikuti aturan permainan, kejujuran saat bermain, kesabaran menunggu giliran, kerja keras untuk mencapai kemenangan, sportivitas dalam menerima hasil permainan, serta melatih konsentrasi dan fokus pada anak-anak. Dilihat dari manfaatnya, nilai-nilai tersebut penting untuk membentuk karakter anak sejak usia dini.[6]
Upaya dalam melestarikan permainan cak Ingkling agar permainan cak ingkling tidak hilang, diperlukan beberapa upaya pelestarian, antara lain yaitu dengan mengenalkan permainan tradisional di sekolah, mengadakan lomba permainan tradisional di sekolah (misalnya: dalam classmeeting, 17 Agustusan, dan Hari Kartini) guna menciptakan nasionalisme pada diri anak-anak dengan permainan tradisional, mengajarkan permainan kepada anak-anak di lingkungan keluarga, memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan budaya lokal dan memasukkan permainan tradisional dalam kegiatan ekstrakurikuler.[7]
Kesimpulan
Cak ingkling merupakan permainan tradisional yang memiliki banyak manfaat bagi perkembangan fisik, sosial, dan mental anak. Permainan ini tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga mengandung nilai pendidikan dan budaya yang penting. Oleh karena itu, masyarakat perlu menjaga dan melestarikan permainan cak ingkling agar tetap dikenal oleh generasi muda di masa depan.
Referensi
↑ditwdb (2019-09-11). "Cak Ingkling". Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya. Diakses tanggal 2020-09-25.