Cagar Biosfer Bromo Tengger Semeru-Arjuno adalah kawasan konservasi yang ditetapkan UNESCO pada tahun 2015 sebagai bagian dari jaringan World Network of Biosphere Reserves. Kawasan ini terletak di Jawa Timur, Indonesia, mencakup Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Cagar Alam Raden Soerjo, serta kawasan penyangga di sekitarnya. Penetapan cagar biosfer ini menegaskan pentingnya wilayah pegunungan di Jawa Timur sebagai pusat keanekaragaman hayati sekaligus penopang kehidupan sosial-ekonomi masyarakat. [1]
Sejarah dan Penetapan
Penetapan Cagar Biosfer Bromo Tengger Semeru-Arjuno dilakukan dalam Sidang International Coordinating Council (ICC) of the Man and the Biosphere (MAB) Programme UNESCO pada 9 Juni 2015 di Paris, Prancis. Kawasan ini merupakan salah satu dari tiga cagar biosfer baru yang diakui UNESCO untuk Indonesia pada periode tersebut.
Pengusulan kawasan dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dengan dukungan pemerintah daerah, akademisi, serta organisasi konservasi, guna mengintegrasikan pelestarian alam dengan pembangunan berkelanjutan di Jawa Timur. [1]
Lokasi dan Luas
Cagar biosfer ini mencakup area pegunungan besar di Jawa Timur dengan total luas lebih dari 414.000 hektare. Kawasan inti terdiri dari:
Cagar Biosfer Bromo Tengger Semeru-Arjuno memiliki ekosistem yang beragam, mulai dari hutan hujan pegunungan bawah, hutan montana, sub-alpin, hingga savana.
Flora: terdapat lebih dari 1.000 spesies tumbuhan, termasuk edelweiss Jawa(Anaphalis javanica), cemara gunung(Casuarina junghuhniana), dan rasamala(Altingia excelsa).
Fauna: kawasan ini menjadi habitat bagi satwa langka seperti macan tutul Jawa(Panthera pardus melas), lutung Jawa(Trachypithecus auratus), rusa timor(Rusa timorensis), serta burung endemik seperti elang Jawa(Nisaetus bartelsi). [2]
Fungsi dan Manfaat
Sebagai cagar biosfer, kawasan ini memiliki tiga fungsi utama:
Konservasi: melindungi keanekaragaman hayati dan ekosistem pegunungan Jawa Timur.
Pembangunan berkelanjutan: mendukung pariwisata alam (terutama Kawasan Bromo-Tengger-Semeru), pertanian ramah lingkungan, dan pemanfaatan hasil hutan non-kayu.
Dukungan logistik: menjadi pusat penelitian ekologi, mitigasi bencana vulkanik, dan pendidikan lingkungan.
Kawasan ini juga berperan penting sebagai daerah tangkapan air untuk sungai-sungai besar yang mengalir ke arah utara dan selatan Jawa Timur.[2]
Tantangan
Ancaman utama bagi Cagar Biosfer Bromo Tengger Semeru-Arjuno meliputi tekanan pariwisata massal, perambahan hutan, perburuan satwa liar, serta potensi erosi dan longsor akibat alih fungsi lahan. Upaya pengelolaan dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan masyarakat Tengger, pemerintah daerah, akademisi, dan lembaga konservasi internasional.
Cagar Biosfer Bromo Tengger Semeru-Arjuno menjadi simbol harmonisasi antara pelestarian alam, keberlanjutan ekonomi, dan nilai budaya masyarakat lokal Tengger yang menjaga tradisi hidup berdampingan dengan alam. Penetapan ini juga menempatkan Jawa Timur dalam jejaring konservasi global UNESCO.[1]