Cagar Alam Gua NgliripPotret gua manuk yang menjadi bagian dari Cagar Alam Gua Nglirip.
Cagar Alam Gua Nglirip merupakan kawasan cagar alam yang berlokasi di Desa Guwoterus, Montong, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Keberadaan cagar alam ini sudah ada sejak zaman Hindia-Belanda, dengan pembentukannya dimulai pada tahun 1919 berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Hindia Belanda Nomor: 6 Stbl.90. Jarak antara kawasan konservasi ini dengan pusat pemerintahan Kabupaten Tuban adalah 31 km ke arah barat daya.[1] Cagar alam ini berperan signifikan sebagai sumber mata air bagi penduduk Tuban.[2] Namun, karena kerusakan yang terus terjadi, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah II Bojonegoro menetapkan cagar alam ini sebagai blok rehabilitasi pada tahun 2019 sebagai langkah untuk mengembalikan fungsi konservasi kawasan cagar alam.[3]
Kondisi geografis
Kondisi cagar alam ini terdiri atas gua batu kapur dan area sekitarnya dengan luas tiga hektar.[4] Topografi Cagar Alam Gua Nglirip bervariasi dari datar hingga bergelombang, dengan ketinggian antara 200-220 meter di atas permukaan laut. Jenis tanahnya meliputi tanah aluvial, grumusol, dan regosol dengan warna merah kekuningan hingga coklat. Curah hujan rata-rata per tahun di area ini berkisar antara 1.500-2.000 mm.[3]
Keanekaragaman hayati
Fauna
Terdapat berbagai macam satwa di Cagar Alam Gua Nglirip yang satwa tersebut umum dijumpai di tempat lain di Jawa. Satwa yang dapat ditemui antara lain adalah ular-sendok jawa, sanca, kelelawar, dan juga landak jawa.[1] Selain itu, terdapat penelitian yang menyatakan bahwa terdapat 28 spesies burung di kawasan ini, antara lain adalah perkutut jawa, elang hitam, merbah cerukcuk, alap-alap, dan lain sebagainya.[5]
Flora
Keberadaan tanaman tidak dapat ditemukan di dalam gua, tetapi banyak dijumpai di area sekitar gua yang tercakup ke dalam cagar alam.[4] Tanaman-tanaman yang dapat dijumpai di kawasan cagar alam ini antara lain adalah pohon beringin, preh , jamblang, kelumbuk, asam jawa, kedondong hutan, nangka, mangga hutan, wiu, pulai, buah buni, kedoya dan randu alas. Namun, setelah terjadi kerusakan pada tahun 2001, terdapat lima spesies yang hilang dan keadaan flora terkini di kawasan tersebut didominasi oleh rerumputan.[3]