Mayor JenderalTNI (Purn.) Chalimi Imam Santosa (atau C.I.Santoso) (lahir 9 September 1931) merupakan Perwira Tinggi TNI Angkatan Darat yang karier militer nya banyak berkecimpung di RPKAD (Kopassus). Nama Chalimi Iman Santoso, yang lebih beken disebut C.I. Santoso, melejit setelah Mayor L.B. Moerdani (yang notabene orang Solo juga dan teman satu angkatannya di Pusat Pendidikan Perwira Angkatan Darat (P3AD) dipindahkan dari RPKAD ke Kostrad oleh Menpangad Letjen Ahmad Yani. Karena terlalu berani mengkritik atasannya di RPKAD, Kolonel Mung Parhadimulyo, Benny dipindahkan ke Kostrad.[1]
Karier Militer
Jabatan Leonardus Benyamin Moerdani sebagai komandan Batalyon II RPKAD kemudian diserahkan kepada C.I. Santoso. Sebenarnya Benny dan Santoso adalah kawan seperjuangan. Di masa remaja mereka bergabung dalam Tentara Pelajar di Solo, anak buah Mayor Ahmadi. Setelah perang melawan Belanda selesai, Benny dan Santoso melanjutkan pendidikan di P3AD (Pusat Pendidikan Perwira Angkatan Darat) Bandung, SPI (Sekolah Pelatih Infanteri) di Cimahi. Kota Cimahi saat itu masuk dalam Kesatuan Komando (Kesko) Tentara Teritorium III/Siliwangi dimana Alex Evert Kawilarang menjadi panglimanya. Alex kemudian memunculkan ide membentuk pasukan Komando, sebagian personelnya diambil dari lulusan SPI. Pasukan tersebut akhirnya berkembang menjadi Korps Komando Angkatan Darat (KKAD), Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD), dan tahun 1960-an menjadi Resiman Para Komando Angkatan Darat (RPKAD). Santoso dan Benny terus berada dalam lingkaran RPKAD sampai akhirnya berpisah setelah Benny dipindah ke Kostrad.
Saat G30S terjadi, Mayor C.I. Santoso sedang bertugas sebagai Komandan Batalyon I RPKAD. Oleh atasannya Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, pasukannya mendapat tugas merebut kantor RRI & Telkom yang sempat dikuasai pasukan Dewan Revolusi, tugas tersebut berhasil dijalankan dengan baik. Pasca keberhasilan tersebut, Mayor C.I. Santoso dan pasukannya juga berjaya merebut Pangkalan Halim Perdanakusuma dari pendudukan. Sampai akhirnya jenazah korban G30S ditemukan. Pasca peristiwa G30S, ia sempat menjabat sebagai Komandan Korem di kota kelahirannya, Solo. Kariernya terus melejit hingga ia menjabat sebagai Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam), masing-masing sebagai Pangdam IX/Udayana di Bali dan kemudian sebagai Pangdam XVII/Cenderawasih di Irian Jaya (kini Papua).[2] Atas pengabdiannya, pemerintah Republik Indonesia menganugerahinya tanda kehormatan Bintang Mahaputera.[3]