Sejarah
Perusahaan ini didirikan pada tahun 1978, dan setahun kemudian, perusahaan ini mulai memproduksi mobil pemadam kebakaran. Antara tahun 1990 hingga 2000, perusahaan ini resmi melantai di Bursa Efek Indonesia dan meluncurkan sejumlah produk baru, antara lain tower transmisi tegangan tinggi, tower telekomunikasi, oil & gas equipment, garbarata, jembatan baja dan alat pendukung pembuatan jalan aspal. Perusahaan ini kemudian mulai membangun PLTA. Pada tahun 2006, perusahaan ini keluar dari Bursa Efek Indonesia, lalu melakukan restrukturisasi utang dan kuasi reorganisasi. Pada tahun 2012, perusahaan ini mendirikan PT Bukaka Mandiri Sejahtera untuk berbisnis di bidang pertambangan, pengolahan, dan perdagangan nikel. Pada tahun 2013, perusahaan ini juga mendirikan PT Bukaka Energi untuk berbisnis di bidang PLTA. Pada tahun 2014, perusahaan ini mengakuisisi saham PT Bukaka Forging Industries yang sebelumnya dipegang oleh PT Indonusa Harapan Masa. PT Bukaka Energi juga mengakuisisi empat perusahaan yang bergerak di bidang pengoperasian PLTMH, yakni PT Mappung Hydro Power, PT Sakita Hydro Power, PT Anoa Hydro Power, dan PT Usu Hydro Power.
Pada tahun 2015, perusahaan ini kembali masuk ke Bursa Efek Indonesia dan mendirikan PT Bukaka Mega Investama untuk berbisnis di bidang jasa, perdagangan, pembangunan, industri, pertambangan, dan pertanian. Pada tahun 2016, melalui PT Bukaka Mandiri Sejahtera, perusahaan ini mengakuisisi PT Mitra Karya Agung untuk berekspansi ke bisnis peleburan.
Pada tahun 2017, perusahaan ini meneken perjanjian KSO dengan Krakatau Steel, yang terdiri dari empat kontrak senilai Rp2,95 triliun untuk melakukan suplai material, pabrikasi dan ereksi, galvanisasi, dan transportasi material untuk proyek pembangunan Jalan Layang Sheikh Mohammed bin Zayed mulai dari STA 9+500 sampai STA 47+500. Pada perjalanannya, terdapat indikasi korupsi pada proyek pembangunan tersebut.[5]
Perusahaan ini juga membeli 25% saham PT Poso Energy, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengoperasian PLTA. Pada tahun 2018, perusahaan ini mendirikan PT Bukaka Teknik Utama Balikpapan untuk menyediakan jasa pendukung pengeboran minyak dan gas. Pada tahun 2019, perusahaan ini meneken kontrak penjualan 33 unit garbarata dengan M-Solutions asal Thailand senilai US$ 7,5 juta atau sekitar Rp 105 miliar. Pada tahun 2020, perusahaan ini meneken perjanjian kerja sama dengan Airports Authority of India (AAI) untuk pengadaan 36 unit garbarata, termasuk instalasi dan perawatannya, senilai US$ 5,1 juta.[3][4] Pada bulan agustus tahun 2020 perusahaan ini melakukan ekspor garbarata ke thailand.[6] Pada tahun 2021 mendirikan anak perusahaan untuk melaksanakan Proyek KPBU untuk penggantian Jembatan Callender Hamilton di 37 lokasi Pulau Jawa. Pada tahun 2024, membangun Workshop di Oman, sebagai bentuk pengembangan Oil & Gas Equipment di Pasar Timur Tengah. Pada tahun yang sama berhasil melakukan ekspor 215 unit SRP Surface ke India.