Penayangan awal dan peringkat
"Box Cutter" pertama kali ditampilkan pada 28 Juni 2011, di Grauman's Chinese Theatre di Hollywood. Saat adegan Gus membunuh Victor, putri Bryan Cranston, Taylor, pingsan di tempat duduknya di teater karena melihat begitu banyak darah. Ini membuat petugas teater menghentikan penayangan untuk sementara dan mencari dokter di kalangan penonton, sehingga penonton panik.[22][23] Adegan kekerasan dalam "Box Cutter" rupanya begitu berdarah sehingga AMC menampilkan peringatan tentang kekerasan di awal episode dan setelah jeda iklan di tengah-tengah episode.[20]
Pada penayangan pertamanya di Amerika Serikat, "Box Cutter" ditonton oleh kira-kira 2,58 juta penonton di rumah, menurut Nielsen Media Research. Pada saat itu, ia adalah episode Breaking Bad yang paling banyak ditonton dan episode perdana musim dengan peringkat kedua tertinggi untuk acara AMC, di belakang episode perdana seri The Walking Dead, yang mendapat 5.3 juta penonton rumahan.[24][25] Ini merupakan peningkatan banyak penonton sebesar 32 persen dibandingkan dengan episode perdana musim ketiga, "No Más".[24][26] "Box Cutter" khususnya banyak ditonton oleh penonton laki-laki berusia di antara 18 dan 34, yang banyaknya naik 67 persen dibandingkan dengan episode perdana musim ketiga.[27] Episode ini ditonton oleh 1,4 juta penonton baik yang berusia 18 hingga 49, yang berarti naik 21 persen, maupun yang berusia 25 hingga 54, yang berarti naik 26 persen.[26]
Ulasan
"Box Cutter" menerima sanjungan kritis. Alan Sepinwall dari HitFix mengatakan bahwa episode ini menunjukkan betapa efektifnya pembuat Breaking Bad dalam memanipulasi emosi penonton. Sepinwall menyebut ceritanya "sungguh sederhana", tetapi eksekusinya sangat efektif, dan dia menyebut banyaknya waktu yang dihabiskan untuk Gus berganti pakaian sebelum dan setelah membunuh Victor adalah "gerakan yang sangat berani dan brilian sampai aku mulai terkikih-kikih saat mereka melakukannya yang kedua kalinya".[1] Penulis di majalah Time, James Poniewozik, mengatakan bahwa episode ini menunjukkan Breaking Bad bisa seefektif apa meski dengan sedikit dialog, seperti diamnya Gus selama adegan di lab, dan Jesse yang tidak berkata apa-apa karena memikirkan apa yang telah dia lakukan kepada Gale. Dia juga memuji skema warna lab sabu-sabu yang merah darah sebagai ilustrasi turunnya Walter dan Jesse ke nerakah.[11] Penulis Entertainment Weekly, Ken Tucker, membicarakan episode, "Diamnya yang fasih, komposisi gambarnya yang memesona ... ini adalah kenikmatan yang melampaui 98% usaha biasa televsi melakukan realisme kotor atau pesimisme modis".[9] Kim Potts dari TV Squad menyebut Gus membunuh Victor adalah "salah satu adegan yang cukup menggelegar dalam sejarah Breaking Bad".[28] Penulis The Faster Times, Craig McQuinn, menyebut episode ini "salah satu episode paling menegangkan yang pernah kulihat", dan mengatakan bahwa episode ini mengukuhkan kedudukan Gus sebagai "salah satu antagonis TV terbaik yang pernah kulihat".[29] Matt Zoller Seitz dari Salon.com membandingkan pembuatan "Box Cutter" seperti pembuatan film Alfred Hitchcock dan Coen bersaudara, dan menyebutnya contoh terbaik dari kemampuan televisi "mengambil pendekatan yang elastis dalam naratif dan membiarkan insiden atau moment tertentu menjadi panjang hingga memenuhi kebanyakan atau seluruh episode" sejak "The Suitcase", episode serial televisi Mad Men.[30]
Seth Amitin dari IGN menyebut "Box Cutter" sebah episode yang minimalis dengan laju yang pelan, tetapi tidak membosankan karena akting, dialog, dan ketegangan yang bagus yang menunjukkan "seberapa cepat acara ini kehilangan kepolosannya". Dia juga menyebut bahwa subplot tentang Skyler, Hank, dan Marie menjaga laju episode dengan baik.[4] Penulis Los Angeles Times, Emily VanDerWerff, memuji akting Aaron Paul meskipun dia hampir tidak mendapat dialog dalam episode, dan merasa naskah memberikan kontras yang menarik antara Walt, yang bertingkah impulsif and gegabah saat ditangkap, dan Gus, yang terlihat tenang dan dalam kendali. Namun, VanDerWerff berkat bahwa rasanya Victor dibunuh hanya karena penulis tidak bisa membunuh kedua tokoh utama cerita, yaitu Walt dan Jesse.[21] Michael Arbeiter dari Hollywood.com menyebut episode ini "cara yang bagus dan menarik untuk memulai musim" dan khususnya memuji Aaron Paul, yang dia sebut "fenomenal" meskipun hanya sedikit berbicara dalam episode. Namun, dia punya "perasaan campur aduk" tentang perubahan karakter Gus dari seorang kriminal yang bekerja di belakang layar menjadi pembunuh yang turun tangan secara langsung.[31] Jessica Johnson dari Time Out Chicago mengatakan bahwa episode ini adalah "penggunaan ketengangan yang indah" yang membangun "crescendo pelan dari apa yang tampaknya akan menjadi musim yang sangat kuat".[32] Andy Vineberg dari Bucks County Courier Times menyebut episode ini sebagai "awal yang bagus untuk acara yang terus menjadi semakin bagus". Dia memuji humor suram yang membuat ketegangan acara tetap seimbang, dan khususnya memuji adegan pra-credits dan akibat adegan tersebut bagi acara dan karakter-karakternya.[20] Penulis RedEye, Curt Wagner, merasa sinematografi, laju cerita, dan tensi dalam "Box Cutter" begitu efektif sehingga "aku rasa aku berkeringat hanya karena menonton[nya]".[33] Penulis di majalah Paste, Brent Koepp, memuji perubahan Walter, dan mengatakan bahwa hanya sedikit acara lain yang berani membuat protagonis mereka sulit disukai. Koepp menyebut adegan Gus "brilian" dan memuji nasikah karena menyisihkan waktu untuk membangun ketegangan.[34]
Matt Richenthal dari TV Fanatic memuji "Box Cutter" atas keefektifannya dalam adegan-adegan yang memiliki sedikit dialog, khususnya adegan Jesse dan Gus, dan mengatakan, "Tidak ada acara yang membuat keheningan seperti Breaking Bad." Dia juga memuji monolog Walt saat mencoba membujuk Gus untuk tidak membunuhnya dan mengatakan bahwa monolog tersebut menunjukkan karakter Walt dan ketidakmampuannya bertanggung jawab atas tindakannya.[35] Penulis Zap2it, Rick Porter, menyebut adegan Gus membunuh Victor sebuah "kelas utama dalam membangun tensi" dikarenakan penulisan, penyutradaraan, dan akting yang kuat, khususnya akting dari Esposito.[15] Scott Wampler dari Collider.com menyebut episode ini "pembuka musim yang fantastis, berdarah, mengejutkan, salah satu yang terbaik dalam sejarah acara". Dia khususnya memuji akting Esposito dan mengatakan bahwa aktingya membuat Esposito layak dipertimbangkan di Penghargaan Emmy.[36] Penulis di majalah BlackBook, Chris Mohney, sangat memuji penampilan Esposito, dan menyebut ketenangan dan kehenigannya saat adegan puncak sebagai "salah satu momen hebat terbaru dari ancaman TV".[37] June Thomas dari majalah Slate mengatakan bahwa episode ini adalah "episode pembukan yang baik" yang tidak memajukan plot secara signifikan, tetapi "merupakan pengingat yang indah tentang di mana karakter sedang berada secara psikologis". Menurut Thomas, episode ini menunjukkan bahwa Walter sebenarnya adalah pria yang lemah, membandingkan permohonan tak bergunanya kepada Gus dengan usaha tidak efektifnya dalam mengelabui Skyler pada musim-musim awal.[19] Tidak semua ulasan bersifat positif. Jessica Grose, juga dari majalah Slate, mengatakan bahwa meskipun dia suka episode yang mencampurkan aspek suram dengan humor hitam, "Box Cutter" "sepenuhnya [adalah] klaustrofobia dan ketakutan".[19] Kolumnis The Philadelphia Inquirer, David Hiltbrand, mengutuk kekerasan pada adegan kematian Victor, yang dia sebut "sepenuhnya serampangan ... tidak melayani tujuan plot ataupun karakter".[38]
Pada 2019, The Ringer menyebut "Box Cutter" sebagai episode kelima terbaik dari Breaking Bad.[39]