Bombesin adalah peptida yang terdiri dari 14 asam amino yang pertama kali diisolasi dari kulit katak perut api Eropa (Bombina bombina) oleh Vittorio Erspamer dkk, serta dinamai berdasarkan sumber asalnya. Peptida ini memiliki dua homolog yang dikenal pada mamalia, yaitu neuromedin B dan gastrin-releasing peptide. Bombesin berperan dalam merangsang pelepasan gastrin dari sel G, yang berfungsi dalam regulasi sekresi asam lambung. Aktivitas ini penting dalam proses pencernaan karena gastrin merangsang produksi asam lambung dan enzim pencernaan yang diperlukan untuk pemecahan makanan.[1]
Selain efek pada sistem pencernaan, bombesin mengaktifkan tiga jenis reseptor yang tergolong G-protein coupled receptors (GPCR), yaitu BBR1, BBR2, dan BBR3. Aktivasi reseptor ini tidak hanya terjadi pada saluran pencernaan, tetapi juga pada otak. Dalam otak, bombesin berperan dalam regulasi perilaku makan, terutama dalam memberikan sinyal umpan balik negatif yang menghentikan proses makan. Bersama dengan kolesistokinin, bombesin menjadi salah satu sumber utama sinyal pengendali ini, sehingga memengaruhi durasi dan jumlah asupan makanan pada hewan.[2]
Bombesin juga digunakan sebagai penanda tumor (tumor marker) untuk beberapa jenis kanker. Jenis kanker yang terkait dengan bombesin termasuk karsinoma sel kecil pada paru-paru, kanker lambung, kanker pankreas, dan neuroblastoma. Penanda ini bermanfaat dalam penelitian medis dan klinis untuk mendeteksi adanya kelainan pertumbuhan sel yang berkaitan dengan produksi atau respons terhadap bombesin.[3]
Reseptor
Reseptor bombesin pada amfibi, khususnya katak, memiliki homolog yang disebut frog BB4 (fBB4). Pada penelitian oleh Iwabuchi et al. (2003), ditemukan reseptor pada ayam (Gallus domesticus) yang homolog dengan reseptor BB3 pada mamalia dan fBB4 pada katak, sehingga reseptor ini dinamai chBRS-3.5. Homologi ini menunjukkan adanya konservasi evolusi reseptor bombesin di antara berbagai spesies vertebrata.[4]
Efek fisiologis
Efek fisiologis bombesin telah dipelajari pada beberapa hewan. Menurut Erspamer (1988), pada ayam, bombesin menunjukkan efek yang mirip dengan ranatensin, yaitu dapat meningkatkan atau menurunkan tekanan darah secara tidak konsisten. Efek ini menunjukkan bahwa bombesin dapat memengaruhi sistem kardiovaskular, selain perannya dalam sistem pencernaan dan regulasi perilaku makan. Penelitian lebih lanjut mengenai bombesin telah mengamati interaksi antara peptida ini dengan reseptor spesifik pada jaringan berbeda, yang memberikan informasi mengenai mekanisme molekuler dan variasi efek biologis pada berbagai spesies.[5]