Meninggal Dunia
H. Bodong wafat di usia 94 tahun, akibat sakit diabetes, sesak nafas akut dan komplikasi paru-paru yang dideritanya sejak empat tahun terakhir, di kediamannya pada hari Minggu, 6 Mei 2012. Haji Bodong diketahui bolak-balik rumah sakit untuk menjalani pengobatan.[8][9][10][11][12][13][14][15]
Beliau masih membicarakan soal lenong. "Saya nggak nyangka, meski sakit masih memikirkan soal seni," tambahnya.[16][17][18]
Menurut anaknya Udin, Haji Bodong meninggal sekitar pukul 07.30 WIB pagi. Ia mengaku keluarga tak punya firasat apa-apa. “Nggak ada firasat apa-apa. Pas pagi mau dimandikan dan dikasih makan, pas dibalikkan badan bapak sudah dingin dan nggak jawab. Ternyata bapak sudah meninggal,” ujarnya saat dihubungi melalui telepon.
Menurut Udin, ayahnya itu meninggal lantaran komplikasi penyakit yang dideritanya. Ia pun mengaku pihak keluarga sudah mengikhlaskan kepergian sang ayah. “Kata dokter sih beliau memang sudah banyak penyakitnya. sakit paru, gula, sama sesak nafasnya parah. Sudah komplikasi lah istilahnya,” katanya. “Kita keluarga semua sudah mengikhlaskan lah,” sambungnya.
Haji Bodong memang dirawat di Rumah Sakit Polri, Jakarta Timur sejak Jumat, 13 April 2012 lalu, lantaran kondisi kesehatannya menurun drastis. Kondisinya kemudian membaik dan dibawa pulang ke rumah.[19] Lina mengatakan, sakit tersebut sudah tiga tahun diderita oleh beliau. "Sudah sering bolak balik rumah sakit untuk pengobatan, terakhir sebelum meninggal ia sempat dirawat di rumah sakit polri selama 12 hari," ujar Lina.
Lina tidak merasakan firasat apapun, beliau juga tidak meninggalkan pesan apapun sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. "Kenangan terkahir, dia manggil saya dua kali, begitu saya samperin dia ga ngomong apa-apa," ujar Lina.
Rekan-rekan beliau yang datang melayat antara lain Bolot, Malih, Mandra, dan calon gubernur Jakarta, Nachrowi. Haji Bodong dimakamkan di TPU Pekayon Gandaria, Pasar Rebo pada pukul 16.00 WIB. Ia meninggalkan seorang istri, Lina, dan dua orang anak, Ishak dan Nahyudin serta empat orang cucu.[20][21]
Dimata Keluarga dan Sahabat
Menurut pelawak senior, Mandra, mendiang yang pernah membintangi sitkom (komedi situasi) Si Doel Anak Sekolahan dan Pepesan Kosong, adalah sosok seniman yang begitu menghargai kebudayaan Betawi. "Secara pribadi saya sangat kehilangan. Karena beliau sangat mengapresiasi kebudayaan seni tradisional, khususnya Betawi," ujar komedian Mandra di Halo Selebriti.
Menurut Omas Monica, di antara komedian lain, dia lah yang paling dituakan. Sejatinya, perkumpulan seniman Betawi bakal menggalang dana untuk almarhum. Namun sayangnya, maut lebih dulu menjemput H. Bodong.
Bagi komedian Omas yang juga seniman Betawi, sosok mendiang H. Bodong merupakan tipe seseorang yang tak banyak bicara dan sangat disiplin jika bekerja. "Dia (H. Bodong) itu tìpikal pendiam, senangnya diam, selalu bercanda kalau sudah selesai akting. Dia displin sekali, dia enggak pernah bercanda kalau lagi nunggu akting," kenang Omas saat ditemui di kediaman mendiang di Jalan Dukuh, Kramat Jati, Jakarta Timur.
Tak hanya itu, Omas sendiri tidak mengetahui nama asli dari mendiang. Dirinya hanya mengetahui mengapa mendiang bisa disapa Haji Bodong. "Lahirnya hari Rabu. Yang namain Bodong orangtuanya. Dia senang dipanggil Bodong, katanya bawa hoki. Sampai sekarang kita teman-teman di sanggar dan di panggung, enggak tahu nama Bodong sebenarnya maksudnya apa," urai adik kandung Mandra itu.
Dengan kepergian H. Bodong, Omas mengaku sangat kehilangan, karena menurutnya sampai saat ini belum ada seniman yang mampu menggantikannya. "Saya kehilangan banget, pengganti dia belum ada. Dia buat ketawa orang sampai keluar air mata. Dia agak kuno ngomongnya, dia bikin ketawa, semua ngerti bahasa dia," tutup Omas.[22]
Bagi Malih yang merupakan pelawak lenong, dirinya memang memiliki kenangan manis dengan Almarhum. Menurut Malih, Haji Bodong selain seniman lenong, almarhum juga seorang guru. "Saya kenal baik dengan Mendiang, beliau itu bagi kita para seniman Betawi, adalah guru yang selalu kasih nasehat dan mengingatkan kami sholat dan terus jaga kesenian Betawi," ujar Malih kepada wartawan. Kepedulian Haji Bodong terhadap kesenian lenong Betawi memang tidak diragukan lagi. Meski dalam kondisi sakit dan terbaring di Rumah Sakit Polri, dirinya berbicara soal lenong Betawi. Hal itu yang mengejutkan Malih. "Ketika sakit, pak Haji Bodong selalu berbicara tentang lenong, itu yang saya nggak nyangka," pungkasnya.[23]
Semasa hidupnya Haji Bodong dikenal sebagai orang yang tegas dan pendiam. Salah satu kerabat mendiang, Eva, mengatakan Haji Bodong adalah sosok yang baik dan memang lucu. "Kenangan yang berkesan, saya pernah diajakin beliau untuk ikut grup lenongnya," ujarnya. Eva menambahkan, beliau juga menjalin hubungan baik dengan tetangga.
Menurut Lina, selama sakit beliau tidak pernah mengeluh sama sekali. "Dia lebih banyak diam," ujarnya. Di keluarga beliau memang dikenal sebagai orang yang pendiam. Lina mengatakan, apabila pulang dari syuting atau main lenong, ia lebih memilih untuk istirahat. "Jarang ngajak cucu jalan-jalan, paling kalau ada duit selalu ngasih buat cucu, anak dan buat kebutuhan sehari-hari," ujarnya.
Sebagai istri Lina tampak tegar dengan kehilangan mendiang suaminya H.Bodong. Menurut Lina, selama kurang lebih 30 tahun menjalani pernikahan, beliau tidak pernah marah dan terkenal tidak neko-neko. "Paling kalau lagi kesel, saya cuekin, tapi ntar juga beliau baik lagi, dan udah biasa lagi", ujarnya.[24]
Keluarga mendiang Haji Bodong mengaku ekonomi beliau merosot setelah keluar masuk rumah sakit. "Seniman Betawi yang hidupnya kurang beruntung dari kita kan masih banyak. Makanya, kita tetap akan menggalang dana untuk almarhum," jelas Jarwo Kwat.[25][26]