Kekaisaran Bizantium menyertai Perang Salib sejak awal kejadiannya pada akhir abad ke-11, Bizantium berperan sebagai inisiator, sekutu, atau musuh. Bizantium menganggap negara mereka sebagai kelanjutan dari Kekaisaran Romawi dan pusat dunia yang beradab, meskipun telah kehilangan wilayah yang cukup besar selama penaklukan Muslim awal. Kekaisaran tersebut memperoleh kembali beberapa wilayah setelah sekitar tahun 960, tetapi sejak pertengahan abad ke-11 menghadapi tekanan terus-menerus dari berbagai arah, termasuk suku Turkoman nomaden di Anatolia.
Tindakan Bizantium terhadap bangsa Barat dan negosiasi dengan Saladin meningkatkan kebencian Barat. Meskipun rencana serangan salib ke Konstantinopel telah lama ada, kota itu baru jatuh pada Perang Salib Keempat, sebagian besar karena konflik internal Bizantium. Penjarahan Konstantinopel dan pembentukan Kekaisaran Latin di wilayah bekas Bizantium pada tahun 1204 memperdalam jurang pemisah antara umat Kristen Barat dan Timur. Negara-negara penerus Bizantium, khususnya Nicaea, memimpin perlawanan terhadap kekuasaan Latin dan memulihkan kekaisaran di bawah Michael VIII Palaiologos pada tahun 1261. Rencana Barat selanjutnya untuk merebut kembali Konstantinopel, meskipun didukung oleh kepausan, telah gagal pada tahun 1320.
Para penguasa Bizantium akhir mencari bantuan Barat melawan ekspansi Utsmaniyah melalui aliansi, negosiasi kepausan, dan persatuan gereja, tetapi perang saudara, sentimen anti-Latin, dan keberhasilan militer Utsmaniyah berulang kali menggagalkan rencana perang salib. Ekspedisi Barat hanya membawa bantuan terbatas sebelum jatuhnya Konstantinopel pada tahun 1453. Kecurigaan timbal balik antara Bizantium dan tentara salib membentuk narasi kontemporer dan historiografi selanjutnya, sementara Perang Salib Keempat meninggalkan trauma budaya yang abadi dan warisan artistik serta sastra yang beragam.
Latar belakang
Kekaisaran Bizantium dibawah Kaisar Yustinianus I (ca555)
Kekaisaran Bizantium adalah, seperti yang dikatakan sejarawan Peter Lock, "dalam segala hal pewaris dan perwujudan dari Kekaisaran Romawi" yang sudah dibagi menjadi timur dan barat pada 395.[1] Bagian timur beribukota di Konstantinopel yang dibangun kembali oleh kaisar Kristen pertama, Konstantinus Agung di situs reruntuhan Bizantion.[2] Setelah keruntuhan Kekaisaran Romawi Barat pada 476, para penguasa Bizantium mengekspresikan klaim mereka atas otoritas universal melalui konsep translatio imperii dan gelar "Kaisar dan Autokrat Romawi". Bangsa Bizantium menyebut diri mereka Rhomaioi ("Romawi") dan mengaitkan kekaisaran mereka dengan Oikoumene, atau dunia yang beradab.[3]
Para kaisar secara luas dianggap sebagai wakil Tuhan di bumi. Gereja diorganisir di sekitar limakeuskupan utama, masing-masing dipimpin oleh seorang patriark. Di antara mereka, para uskup Roma, yang disebut paus, menikmati keutamaan kehormatan tetapi diharapkan bertindak sebagai pejabat kekaisaran.[4] Negara Bizantium dikelola oleh elit birokrasi terpelajar; banyak di antara mereka adalah kasim, yang dianggap sangat dapat diandalkan.[5] Kekaisaran Bizantium juga lebih banyak mengandalkan diplomasi ketimbang perang, menggunakan kekayaan, gelar, dan upacara-upacara rumit untuk mengelola rival kawasan.[6]
Namun, Kekaisaran Bizantium mulai mengalami kemunduran akibat tekanan bangsa lain, dimulai dari Kekaisaran Sasaniyah dan Suku Avar. Dari 630, Kekaisaran Bizantium tidak dapat membendungi ekspansi Kekhalifahan Islam dan kehilangan Timur Tengah, Mesir, dan Afrika Utara. Islam muncul di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, yang wahyu-wahyunya membentuk Al-Quran, yang dianggap sebagai pesan terakhir Tuhan.[7]Penaklukan Muslim Awal didorong oleh janji-janji Al-Quran tentang pahala di akhirat bagi mereka yang ikut serta dalam jihad, atau perang suci.[8] Maka, Antiokhia, Aleksandria, dan Yerusalem dikuasai dibawah pemerintahan Islam, menyisakan hanya Roma dan Konstantinopel dibawah kendali umat Nasrani.[4][9] Penguasa Islam mengklasifikasi umat Kristen sebagai dzimmi, dilindungi namun tetap harus tunduk.[10]
Sementara di Eropa Barat, bekas wilayah Romawi terpecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang sebagian besar diperintah oleh elit Jermanik. Di bawah pemerintahan Carolingian, bangsa Frank menyatukan kembali wilayah-wilayah luas yang sebelumnya merupakan bagian dari Kekaisaran Romawi Barat.[11] Meskipun ada ketegangan dengan Bizantium terutama mengenai ikonoklasme, Gereja Katolik Roma dan Kekaisaran Karoling bekerja sama dengan baik. Pada 800, Paus Leo III memahkotai Karolus Agung sebagai kaisar. Meskipun debat ikonoklasme berakhir, Gereja Katolik Roma mengadopsi filioque di Kredo Nikea kembali meningkatkan tensi dengan penganut Kekristenan Timur.[12] Pada pertengahan abad ke-9, Kekaisaran Karoling pecah menjadi beberapa negara kecil, termasuk Prancis dan Jerman.[13] Sebuah proyek kekaisaran baru muncul di bawah pemerintahan raja Jerman Otto I, yang dinobatkan sebagai kaisar pada tahun 962, tetapi Kekaisaran Romawi Suci tetap terpecah secara politik.[14] Penyebaran kekuasaan di Barat, di tengah kekerasan dan ketidakstabilan yang endemik, berkontribusi pada munculnya elit prajurit berkuda yang kemudian dikenal sebagai ksatria.[15][16] Seperti yang dicatat oleh sejarawan abad pertengahan John France, elit Barat ini "menghasilkan banyak pemuda bayaran", bersama dengan para petualang yang siap mengeksploitasi kondisi yang tidak pasti di sepanjang perbatasan Eropa Katolik.[17]
Setelah tahun 963, Kekaisaran Bizantium memasuki fase ekspansi baru karena melemahnya Kekhalifahan Abbasiyah memungkinkan pemulihan pulau Kreta (961) dan Siprus (965) serta kota-kota Antiokhia (969) dan Edessa (1031). Meskipun para kaisar berusaha menampilkan kampanye mereka melawan kekuatan Muslim sebagai perang suci, konsep tersebut tetap asing bagi teologi Bizantium.[18][19] Sejak tahun 1027, perjanjian dengan Kekhalifahan Fatimiyah—saingan Abbasiyah—mengakui kaisar sebagai pelindung umat Kristen dan menegaskan hak mereka untuk menunjuk patriark Yerusalem.[20] Keberhasilan militer mendorong pertumbuhan ekonomi, sementara Konstantinopel makmur berkat posisinya di jalur perdagangan utama. Dengan populasi lebih dari 350.000 jiwa, kota ini termasuk di antara kota-kota terbesar di dunia.[21] Hubungan perdagangan dengan Eropa Barat kembali pulih, sebagian besar melalui pedagang dari negara-kota Italia, terutama Venesia, Pisa, dan Genoa.[22]
Menjelang Perang Salib Pertama
Setelah kematian Kaisar Basileios II Boulgaroktonos pada 1025, Kekaisaran Bizantium mendominasi Eropa tenggara dan Timur Tengah; namun dalam waktu lima puluh tahun, kekaisaran ini menghadapi ancaman yang semakin besar. Penjelasan untuk kemunduran ini meliputi melemahnya otoritas pusat, kekurangan kelembagaan, dan stagnasi intelektual.[23] Sementara itu, gelombang dingin di seluruh stepa Eurasia menyebabkan kelompok-kelompok Turki berpindah tempat: suku Pecheneg menyeberangi Danube, sementara suku Turkoman yang dipimpin Seljuk menguasai Kekhalifahan Abbasiyah dan menjarah Anatolia.[24] Mereka juga merebut Antiokhia dan Edessa.[25]
Dampak
Jatuhnya Konstantinopel ke tangan Muslim dan laporan pembantaian ribuan penduduk menimbulkan kekhawatiran mendalam di seluruh Eropa Katolik. Cendekiawan humanis Aeneas Silvius Piccolomini menyebut peristiwa itu sebagai "kematian kedua bagi Homer dan Plato", merujuk pada kehancuran budaya yang terjadi setelah penaklukan Ottoman. Ia juga memperingatkan bahwa ekspansi Ottoman akan mengancam Hongaria dan Jerman.[26]
Kepausan mengeluarkan bulla yang memproklamirkan perang salib pada tahun 1453, 1458, dan 1463, dan mendirikan sebuah kantor baru, camara sanctae cruciatae, untuk mengoordinasikan upaya-upaya perang salib.[27] Pada Perayaan Burung Pheasant di bulan Februari 1454, Philip yang Baik bersumpah untuk memimpin perang salib melawan Ottoman jika penguasa lain bergabung dengannya, tetapi rencana itu gagal. Meskipun percetakan membantu menyebarkan bulla perang salib, peningkatan pajak kepausan menimbulkan kebencian.[28] Pada tahun 1456, para tentara salib yang direkrut oleh biarawan Fransiskan John Capistrano membantu Hunyadi memukul mundur pengepungan Beograd oleh Mehmed II.[29] Meskipun demikian, ekspansi Ottoman terus berlanjut: Serbia jatuh pada tahun 1459, sebagian besar Bosnia menyusul pada tahun 1463, dan perlawanan Albania runtuh pada tahun 1488.[30]
Chrissis, Nikolaos G. (2016). "Byzantine Crusaders: Holy War and Crusade Rhetoric in Byzantine Contacts with the West (1095–1341)". Dalam Boas, Adrian J. (ed.). The Crusader World. The Routledge Worlds. Routledge. hlm.259–277. ISBN978-0-415-82494-1.
Papayianni, Aphrodite (2016). "Memory and Ideology: The Image of the Crusades in Byzantine Historiography, Eleventh-Thirteenth Centuries". Dalam Boas, Adrian J. (ed.). The Crusader World. The Routledge Worlds. Routledge. hlm.276–288. ISBN978-0-415-82494-1.