Antara tahun 2014 dan 2018, BioNTech menerbitkan sejumlah hasil riset mengenai mekanisme mRNA.[19] Program kolaborasi dan komersialisasi pun dilakukan oleh perusahaan ini bersama sejumlah institut riset dan perusahaan lain mulai tahun 2015.[20] Pada periode ini, BioNTech membuat sejumlah pengajuan paten dan mengembangkan strategi multi-lapis untuk melindungi kekayaan intelektualnya di berbagai platform teknologi serta aplikasinya di pengobatan kanker dan penyakit berat lainnya.
Pada bulan Agustus 2018, perusahaan ini mengadakan kolaborasi riset dan pengembangan tahun jamak dengan Pfizer Inc. untuk mengembangkan vaksin berbasis mRNA guna mencegah influenza. Di bawah kolaborasi tersebut, setelah BioNTech's menyelesaikan uji klinis pertama pada manusia, Pfizer akan melanjutkan tanggung jawab untuk melakukan pengembangan klinis dan komersialisasi vaksin flu berbasis mRNA.[21]
Fasilitas milik BioNTech di Jerman. Sementara dua lainnya di Amerika Serikat.
BioNTech didirikan dan berkantor pusat di Mainz, Jerman. Perusahaan inipun memiliki sejumlah fasilitas di kota tersebut.
Selain itu, perusahaan ini juga memiliki fasilitas riset di San Diego dan Cambridge, Massachusetts.
BioNTech juga memiliki fasilitas produksi bersertifikat CPOB di Idar-Oberstein, Martinsried, Neuried, dan Berlin. Pada bulan November 2020, perusahaan ini mengakuisisi fasilitas milik Novartis di Marburg untuk meningkatkan produksi vaksin.
Pada bulan Juni 2020, EIB kembali mengucurkan pinjaman sebesar €100 juta, setelah pengobatan tersebut disetujui hanya dalam waktu dua bulan, padahal biasanya memakan waktu hingga satu tahun. Pendanaan tersebut pun membantu BioNTech dalam menguji dan memproduksi vaksin. Pinjaman EIB adalah bagian dari program InnovFin Corporate Research Equity dan European Fund for Strategic Investments. Program tersebut mendukung "proyek inovatif dan berisiko tinggi" dengan dukungan dari European Investment Bank dan jaminan dari anggaran Uni Eropa.[26][27][28][29]
Pada tanggal 15 September 2020, BioNTech mendapat hibah sebesar €375juta dari Kementerian Pendidikan dan Riset Federal Jerman, untuk mempercepat pengembangan vaksin COVID-19.[31]
"Project Lightspeed", adalah proyek pengembangan teknologi mRNA baru untuk vaksin COVID-19 yang dimulai pada pertengahan bulan Januari 2020, hanya beberapa hari setelah urutan asam nukleatSARS-Cov-2 pertama kali dipublikasikan.[32] Untuk proyek ini, BioNTech bermitra dengan Pfizer[33] dan Fosun.[34][35]
Setelah diproduksi, vaksin tersebut pun menjalani uji klinis. Pada tanggal 9 November 2020, BioNTech dan Pfizer mengumumkan bahwa 43.500 orang di 6 negara telah menerima vaksin uji untuk melawan COVID-19 dengan efektivitas lebih dari 90%. Dengan kesuksesan uji klinis tersebut, BioNTech dan Pfizer pun mengajukan izin untuk mendistribusikan vaksin tersebut di Amerika Serikat, Uni Eropa, Britania Raya, dan Jepang.[36]
Referensi
↑BioNTech SE (30 March 2021), FY 2020 results (dalam bahasa Inggris), Biontech SE, diakses tanggal 2 July 2021