Artikel ini tidak memiliki pranala ke artikel lain. Bantu kami untuk mengembangkannya dengan memberikan pranala ke artikel lain secukupnya.(November 2025)
Beton semprot adalah beton yang memiliki nilai kelecakan maksimum (kemudahan pengerjaan dinyatakan dengan nilai/angka slump) 80 + 3mm serta terdapat pembatasan penggunaan agregat kasar (Split) maksimum 9,5mm (3/8"). Kuat tekan campuran beton semprot pada umur 28 hari harus memenuhi persyaratan minimal 28 MPa. Jika dibandingkan beton konvensional, beton semprot memiliki ciri khas yakni adukan lebih kering. Hal ini dipengaruhi karena penggunaan Beton semprot mengharuskan penggunaan Faktor Air Semen (FAS) 0.35-0.45 dan kadar udara 3-4% agar beton bisa ditembak dan menempel pada lereng.[1]
Beton ini biasanya digunakan untuk memperbaiki lereng ataupun dinding pada terowongan/bendungan dan diaplikasikan dengan menggunakan mesin penyemprot (Concrete Pump). Pekerjaan beton semprot pada lereng biasanya sebagai upaya untuk menjaga stabilitas permukaan lereng agar tidak mengalami erosi.[1]
Beton Semprot memiliki banyak spesifikasi dan metode penggunaan, sesuai dengan kebutuhan pekerjaan, lokasi pekerjaan, waktu dan durasi pekerjaan, dan faktor lainnya. Beton semprot dapat dihasilkan dari campuran kering (dry mix) atau campuran basah (wet mix).[1][2]
Sejarah
Metode ini ditemukan oleh Carl Ethan Akeley di tahun 1910. Pengaplikasian beton sangat berbeda dibandingkan teknik lainnya. Biasanya, instalasi beton dilakukan dengan cara penuangan. Namun, teknik ini memanfaatkan kelecakan adukan beton sehingga mampu menempel pada permukaan lereng mapun atap.
Referensi
123Spesifikasi Khusus Interim Beton Semprot (Shotcrete) SKh-3.7.18 Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
↑Agustina, Dian Hastari (Juni 2023). "ANALISIS KESTABILAN LERENG DENGAN PERKUATAN
SHOTCRETE MENGGUNAKAN PLAXIS (STUDI KASUS: RUAS
JALAN TAREMPA – RINTIS STA 07+800 KAB. ANAMBAS". Sigma Teknika. 6: 223–230.