Bentrokan Mamasapano adalah baku tembak yang terjadi selama operasi kepolisian oleh unit Special Action Force (SAF) dari Kepolisian Nasional Filipina pada tanggal 25 Januari 2015, di Tukanalipao, Mamasapano, Provinsi Maguindanao (sekarang bagian dari Maguindanao Selatan). Operasi tersebut, dengan nama sandi Oplan Exodus, bertujuan untuk menangkap atau membunuh teroris asal Malaysia dan ahli peledak, Zulkifli Abdhir, beserta teroris asal Malaysia lainnya atau anggota senior dari Front Pembebasan Islam Moro.
Operasi ini pada awalnya bertujuan untuk menyampaikan surat perintah penangkapan bagi teroris tingkat tinggi. Namun, operasi ini berujung pada bentrokan yang mengakibatkan tewasnya 44 anggota unit SAF, 17 atau 18 anggota Front Pembebasan Islam Moro (FPIM) dan Pejuang Kemerdekaan Islam Bangsamoro (PKIB), lima warga sipil, dan tewasnya Abdhir. Kematian Abdhir dikonfirmasi oleh Biro Investigasi Federal (FBI) Amerika Serikat dan Kepolisian Nasional Filipina pada pukul 18.30 tanggal 4 Februari 2015, melalui hasil tes DNA. Abdhir adalah salah satu teroris paling dicari oleh FBI. Getulio Napeñas, komandan unit SAF yang dibebastugaskan, memperkirakan terdapat 250 korban tewas dalam bentrokan tersebut, berdasarkan asumsinya bahwa setiap penembak jitu SAF mungkin telah menembak mati setidaknya 20 anggota FPIM, PKIB, dan milisi swasta selama pertempuran tersebut, meskipun hal ini tidak dapat dikonfirmasi secara pasti.[21][22][23] Perkiraan Napenas dibantah oleh FPIM dan pemerintah daerah Mamasapano.[24][25][26]
Misi itu sendiri dinyatakan berhasil setelah target dinetralisir. Parahnya situasi bentrokan tersebut mendorong panel perdamaian pemerintah Filipina untuk campur tangan dan meminta gencatan senjata dari FPIM. Angkatan Bersenjata Filipina juga melakukan operasi penyelamatan untuk menyelamatkan 29 korban selamat unit SAF yang dikepung musuh.[27][28] Misi penyelamatan tersebut diberinama Oplan Exodus, yang awalnya disalahartikan sebagai Oplan Wolverine oleh media lokal. Oplan Wolverine sendiri merujuk pada tiga dari sembilan upaya operasi sebelumnya yang menargetkan teroris lain bernama Marwan, dan diluncurkan pada bulan Desember 2012 hingga Mei 2014 oleh unit SAF.[19][29] Insiden ini menyebabkan Kongres Filipina menghentikan proses pengesahan Hukum Organik Bangsamoro, yang secara efektif membahayakan proses perdamaian antara pemerintah dengan Front Pembebasan Islam Moro.
12Herrera, Christine; Tuyay, Francisco; Araja, Rio (January 28, 2015). "Purisima planned it all". Manila Standard Today. Manila. Diarsipkan dari asli tanggal January 29, 2015. Diakses tanggal January 28, 2015.
12345de la Cruz, Arlyn (January 29, 2015). "SAF chief: I am responsible". Philippine Daily Inquirer. Makati. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 16, 2023. Diakses tanggal January 30, 2015.
↑Solmerin, Florante (January 30, 2015). "BIFF's Kato gave order to 'kill all'". Manila Standard Today. Diarsipkan dari asli tanggal January 30, 2015. Diakses tanggal January 30, 2015.
↑Tuyay, Francisco; Pañares, Joyce Pangco (January 27, 2015). "Palace okayed SAF raid". Manila Standard Today. Diarsipkan dari asli tanggal January 28, 2015. Diakses tanggal January 28, 2015.