Bella Galhos (lahir 1972) adalah seorang aktivis asal Timor-Leste yang dikenal luas atas perannya dalam perjuangan kemerdekaan negara tersebut selama masa pendudukan Indonesia (1975–1999).[1] Sejak usia muda, ia terlibat dalam gerakan bawah tanah yang memperjuangkan hak rakyat Timor Timur untuk menentukan nasib sendiri, sekaligus menjadi suara penting bagi korban kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia.
Setelah kemerdekaan Timor-Leste pada tahun 2002,[2] Galhos melanjutkan kiprahnya sebagai penerjemah, penasihat presiden, aktivis hak asasi manusia, serta pegiat lingkungan hidup. Ia dikenal karena dedikasinya dalam mempromosikan kesetaraan gender, pendidikan perdamaian, dan keberlanjutan ekologis, serta menjadi salah satu figur perempuan paling berpengaruh dalam pembangunan sosial dan politik Timor-Leste modern.[1]
Kehidupan awal
Ayah Galhos dilaporkan memiliki 45 anak dari 18 perempuan yang berbeda. Setelah angkatan bersenjata Indonesia menginvasi Timor Timur pada tahun 1975, mereka menangkap ayah dan saudara-saudaranya, dan ayahnya menjual Galhos kepada seorang tentara pada usia tiga tahun seharga lima dolar, dengan alasan bahwa ia memiliki "kepribadian yang sangat maskulin dan dominan". Setelah perjuangan panjang oleh ibunya, Galhos akhirnya dikembalikan kepada keluarganya. Ia kemudian melaporkan bahwa dirinya mengalami kekerasan seksual dari anggota keluarga maupun pihak otoritas Indonesia setelah itu.[3][4]
Pada usia 16 tahun, Galhos bergabung dengan gerakan kemerdekaan Timor melalui “front bawah tanah” yang terdiri dari para aktivis muda. Pada tahun 1991, beberapa teman Galhos terbunuh dalam pembantaian Santa Cruz, yang diorganisir oleh pamannya, Constâncio Pinto.[5][6] Akibatnya, ia hidup selama tiga tahun dengan identitas berbeda sebagai agen ganda yang tampaknya bekerja untuk otoritas Indonesia.
Pada tahun 1994, ia terpilih sebagai peserta program pertukaran pemuda ke Kanada melalui organisasi Canada World Youth.[7] Di sana, ia segera mengajukan suaka. Setelah kemerdekaan Timor Timur, Galhos melanjutkan studi psikologi di Universitas Hawaii.
Aktivisme Kemerdekaan di Kanada
Setelah Galhos mengajukan dan menerima status pengungsi di Kanada, ia melakukan kampanye untuk hak asasi manusia di Timor Timur bersama East Timor Alert Network sebagai salah satu dari dua perwakilan Kanada di National Council of Maubere Resistance. Selama periode ini, ia berpartisipasi dalam berbagai kegiatan lobi internasional di dalam maupun di luar Kanada.[8][9]
Pada Januari 1996, Benjamin Parwoto, duta besar Indonesia untuk Kanada, mendatangi ibu Galhos dan memintanya untuk membungkam putrinya. Peristiwa tersebut memicu kemarahan publik, dan Departemen Urusan Luar Negeri Kanada menegur duta besar tersebut.[4][7]
Pengakuan
Ia menjadi salah satu dari 100 perempuan pilihan versi BBC pada 2023 atas kontribusinya dalam bidang pendidikan, kemanusiaan dan hak-hak asasi kemanusiaan.[10]
Referensi
12"Bella Galhos". www.peace-post.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-01.