Belang Adat adalah perlombaan dayung yang menjadi bagian dari Festival Banda Neira di pulau Banda Neira, Provinsi Maluku.[1][2][3] Perlombaan Belang Adat hanya diadakan sekali dalam setahun.[4] Peserta dalam perlombaan Belang Adat dipilih dari perwakilan negeri-negeri adat yang ada di Kepulauan Banda dan tidak mengikusertakan peserta dari negeri administratif.[4] Perahu yang diwajibkan untuk digunakan dalam perlombaan Belang Adat ialah belang banda.[4]
Pelaksanaan
Belang Adat merupakan perlombaan yang diadakan oleh rakyat di Kepulauan Banda. Tujuan pelaksanaannya untuk mengenang perjuangan rakyat Kepulauan Banda dalam melawan penjajah. Sebelum Belang Adat diadakan, dilakukan upacara adat berupa pembukaan negeri yang didasari oleh petuah dari para leluhur penduduk di Kepulauan Banda. Kegiatan pembukaan negeri ialah pemberian sesajen di tempat-tempat keramat sebagai bentuk penghormatan atas roh pada leluhur. Setelah itu, masing-masing negeri adat di Kepulauan Banda mengadakan tarian khasnya terutama cakalele. Ketika tarian berakhir, dilanjutkan ritual khusus berupa permohonan perlindungan selama proses pemasangan belang banda berlangsung. Setelah itu, belang banda diturunkan ke laut untuk digunakan dalam perlombaan dayung.[2][3]
Pelaksanaan Belang Adat hanya sekali dalam satu tahun.[4] Belang Adat telah menjadi salah satu perlombaan yang diadaka selama berlangsungnya Festival Banda Neira di pulau Banda Neira, Provinsi Maluku. Pelaksanaan Festival Banda Neira merupakan bagian dari pengenalan terhadap alam, sejarah dan budaya di Kepulauan Banda yang terinsipirasi oleh slogan "Jangan Mati Sebelum ke Banda" yang merupakan ucapan terkenal dari Sutan Sjahrir.[1]
Peserta
Peserta dalam perlombaan Belang Adat dipilih dari perwakilan negeri-negeri adat yang ada di Kepulauan Banda. Perlombaan pada Belang Adat tidak memilih dan mengikutsertakan peserta berdasarkan administrasi wilayah Indonesia di negeri-negeri yang ada di Kepulauan Banda. Karena ketentuan ini, peserta lomba Belang Adat hanya terdiri dari enam negeri adat di Kepulauan Banda. Sementara itu, penduduk Pulau Rhun tidak diikutsertakan dalam perlombaan karena berstatus sebagai negeri administratif di Indonesia. Namun negeri di Kepulauan Banda yang tidak diikutsertakan dapat mengikuti perlombaan Belang Nasional.[4]
Ketentuan lain dalam Belang Adat ialah peserta wajib menggunakan belang banda untuk berlomba.[4] Belang banda merupakan perahu khusus yang hanya digunakan untuk perlombaan dan upacara adat penting di Kepulauan Banda dalam waktu-waktu tertentu. Selain waktu-waktu tersebut, belang banda hanya disimpan di daratan pada tempat-tempat khusus.[5]
12Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Maluku (Maret 1995). Pameran Khusus Perahu Tradisional Daerah Maluku(PDF). Ambon: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan - Kantor WIlayah Propinsi Maluku. hlm.8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Suhardi dan Djoko M. R. (November 1999). Suprapti (ed.). Kepulauan Banda dan Masyarakatnya(PDF). Jakarta: Subdirektorat Lingkungan Budaya, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. hlm.11. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)