Beksan Panji Sekar dinukil dari kisah roman Panji dalam wayang gedog yang menceritakan peperangan antara Jayakusuma dengan Jayalengkara. Kisah ini dimuat dalam lakon Panji Bedhah Bali. Penyebutan Panji Sekar merujuk pada nama alias Jayakusuma yang berasal dari negara Jawa, sedangkan Jayalengkara berasal dari tanah sebrang yaitu negara Bali. Tersiar kabar bahwa Jayalengkara hendak melebarkan kekuasaan hingga ke negara Jawa. Mendengar kabar tersebut, Prabu Lembu Amiluhur dari Jenggala Manik memerintahkan Jayakusuma untuk mendatangi negara Bali demi mencegah Jayalengkara dan pasukannya menduduki negara Jawa. Akhirnya, peperangan antara keduanya beserta pasukan masing-masing tidak dapat dihindarkan.[butuh rujukan]
Catatan mengenai jalan cerita tarian ini termuat dalam manuskrip berjudul Beksan Pethilan (kode T3) koleksi Perpustakaan KHP Kridhomardowo Keraton Yogyakarta.[2] Di bawah subjudul Beksan Panji Sekar dalam manuskrip tersebut tercatat kandha (narasi) serta pocapan (dialog) antara Jayakusuma dan Jayalengkara. Tarian ini dibuat untuk mengukuhkan karakter ksatria dan menjadi bagian dari pelatihan militer dan upacara istana.[3]
Ciri khas
Sebagai beksan kakung berempat, Beksan Panji Sekar dibawakan oleh dua penari sebagai Jayakusuma dan dua sebagai Jayalengkara. Properti yang digunakan meliputi jemparing (panah) dan keris.[4] Gerakannya terdiri dari tiga bagian utama: pembukaan dengan tari nggrudha, fase pertarungan (enjeran) dengan manipulasi senjata, dan penutup berupa gerak mundur (mundur gendhing).[butuh rujukan]
Penari mengenakan busana khas keraton, meliputi celana cindhe, lonthong cindhe, dan penutup kepala bertais keemasan, mirip dengan perlengkapan pada bedhaya dan srimpi. Sementara itu, iringan musiknya menggunakan gamelan laras pelog pathet barang, dengan komposisi gendhing seperti Lagon Wetah, Ladrang Rangu‑Rangu, dan Ketawang Sri Malela. Pada era kontemporer, tata musik diperluas dengan ansambel gesek barat (violin, cello) sebagai bagian dari revitalisasi di abad ke‑21.[5]
Upaya pelestarian dilakukan melalui rekonstruksi koreografi berdasarkan naskah kuno, pementasan berkala di lingkungan keraton, serta pelatihan generasi muda. Selain itu, dokumentasi digital dan kolaborasi musik modern turut memperkuat eksistensinya di tengah perkembangan seni pertunjukan kontemporer. Beksan Panji Sekar tidak sekadar hiburan, tetapi juga sarana edukasi moral. Kisah Panji mengandung pesan tentang keberanian, kesetiaan, dan keadilan—nilai yang dipertegas melalui simbol senjata dan struktur tari formal yang menekankan kesemestaan dan kedisiplinan prajurit keraton.[8]
Referensi
↑crew, kraton. "Beksan Panji Sekar". kratonjogja.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-06-19.
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.