Bedah digestif atau bedah gastroenterologi adalah posedur untuk memperbaiki atau mengatasi gangguan pada sistem pencernaan. Bedah digestif dapat dilakukan dengan metode laparoskopi, yaitu prosedur yang menggunakan alat khusus tanpa membuka dinding perut. Dokter bedah digestif adalah dokter medis yang berspesialisasi untuk mengatasi gangguan pada kerongkongan, lambung, usus kecil, usus besar, rektum, hati, pankreas, dan kantung empedu.[1]
Sejarah Bedah Digestif di Indonesia
Pada dekade 1970-an, kebutuhan akan dokter spesialis bedah yang ahli dalam bidang bedah digestif menjadi sangat penting. Hal ini disebabkan oleh tingginya kasus bedah digestif yang ditangani oleh spesialis bedah di Indonesia. Ilmu bedah digestif saat itu mengalami perkembangan pesat dalam penanganan penyakit saluran cerna, didukung oleh kemajuan di negara-negara tetangga dan Eropa-Amerika.[2] Sekelompok ahli bedah telah mengidentifikasi bahwa insiden penyakit dan kelainan bedah digestif di Indonesia cukup tinggi dan terdapat pada berbagai golongan masyarakat, sehingga merupakan salah satu masalah kesehatan nasional. Disamping itu pula, ilmu bedah digestif telah berkembang pesat dan semakin mendalam serta kompleks pada kurun waktu dua dekade terakhir tersebut, sehingga kasus-kasus bedah digestif yang sulit tidak mungkin lagi hanya dikelola oleh seorang dokter spesialis bedah umum. Oleh karena itu, kasus-kasus bedah digestif perlu dikelola oleh seorang dokter spesialis bedah yang memiliki kemampuan profesionalisme yang tinggi dalam ilmu bedah digestif.
Dengan demikian, diharapkan dapat dicapai suatu peningkatan pelayanan kesehatan pada pasien-pasien bedah digestif, sehingga kualitas hidup pasien menjadi lebih baik, dan angka morbiditas maupun mortalitasnya menurun. Untuk menyelaraskan penerapan ilmu bedah digestif yang terus berkembang, diperlukan wadah bagi spesialis bedah yang fokus di bidang ini. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Pada 9 Juni 1979, di Denpasar, Bali, 28 spesialis bedah sepakat mendirikan Ikatan Ahli Bedah Digestif Indonesia (IKABDI). Organisasi ini bertujuan untuk memajukan ilmu bedah digestif melalui pendidikan dan pelayanan, demi kesejahteraan masyarakat.[2]
Dokter Bedah Digestif
Dokter bedah digestif adalah dokter spesialis bedah umum yang memiliki kapasitas untuk melakukan tindakan operasi pada saluran cerna dan organ-organ dalam sistem pencernaan. Seorang ahli bedah digestif merupakan dokter Konsultan Bedah (subspesialis) yang harus menempuh pendidikan. tambahan sekitar 2 tahun setelah menyelesaikan pendidikan bedah. umum. Di luar negeri, seorang dokter bedah konsultan juga harus menempuh pendidikan tambahan sekitar 2 tahun, tetapi sebutannya bukanlah bedah digestif, melainkan dibagi menjadi 3 bagian berdasarkan organ oriented yaitu, Ahli bedah khusus Saluran cerna bagian atas (Upper Gastrointestinal), ahli bedah khusus saluran cerna bawah (colorectal), dan ahli bedah khusus hati, empedu dan pankreas (hepatopancreaticobilier/HPB). Berbeda dengan di luar negeri, di Indonesia, kasus bedah kompleks pada Upper Gastrointestinal, Colorectal dan HPB ditangani oleh seorang bedah Digestif.[3]
Kondisi yang Dapat Ditangani oleh Dokter Bedah Digestif
Kolonoskopi atau yang sering disebut endoskopi saluran pencernaan bawah adalah prosedur bedah yang dilakukan untuk melihat bagian dalam usus besar (kolon) menggunakan alat bernama kolonoskopi. Dokter spesialis bedah digestif memasukkan alat berkamera ini melalui rektum untuk melihat kondisi rektum dan usus besar. Prosedur ini membantu dalam diagnosis masalah pencernaan, termasuk deteksi kanker dan pengangkatan tumor usus besar. Selama prosedur ini, dokter mungkin menyelidiki beberapa hal berikut:[4]
Tanda-tanda awal kanker usus besar atau rektum.
Penyebab perubahan kebiasaan buang air besar.
Penyebab gejala tertentu, seperti sakit perut, pendarahan dubur, atau penurunan berat badan tanpa alasan.
Polipektomi
Polipektomi adalah prosedur untuk menghilangkan polip, yaitu pertumbuhan jaringan jinak di usus besar. Dokter dapat mengangkat polip menggunakan penjepit kawat atau alat dengan arus listrik yang membakarnya. Tindakan ini dilakukan bersamaan dengan kolonoskopi, yang memungkinkan dokter melihat dan mengangkat polip secara langsung.
Laparoskopi
Laparoskopi adalah prosedur pembedahan yang memungkinkan ahli bedah mengakses bagian dalam perut dan panggul tanpa sayatan pada kulit. Nama lainnya, yaitu operasi lubang kunci. Ada beberapa jenis prosedur dengan teknik laparoskopi yang dapat dilakukan oleh dokter bedah digestif untuk mengobati gangguan pada sistem pencernaan, di antaranya:[4]
Operasi retroperitoneum. Cara ini mampu mengatasi masalah di area belakang perut.
Operasi foregut. Jenis operasi ini dapat mengobati masalah pada kerongkongan, lambung, atau usus kecil bagian atas.
Perbaikan hernia hiatal, Dengan tujuan mengobati hernia hiatus dan hernia paraesofagus.[5]
Dilatasi esofagus
Dilatasi esofagus adalah tindakan medis yang dilakukan untuk memperlebar bagian kerongkongan yang mengalami penyempitan, atau striktur esofagus. Penyempitan ini dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, termasuk akalasia, GERD, cedera akibat zat kimia, kejang otot kerongkongan, atau kanker kerongkongan.[4]
Dalam prosedur ini, dokter bedah digestif akan menyemprotkan bius ke tenggorokan dan mulai melakukan endoskopi saluran cerna atas. Selanjutnya, dokter akan menentukan metode dilatasi yang cocok untuk melebarkan kerongkongan Anda. Salah satunya adalah memasukan alat bernama dilator untuk memperlebar area kerongkongan yang menyempit.
Prosedur operasi terbuka (laparatomi)
Laparotomi adalah prosedur bedah yang melibatkan pembukaan rongga perut, dilakukan untuk mengangkat organ, menangani kondisi darurat, atau mendiagnosis dan memperbaiki masalah pada organ pencernaan. Dalam prosedur ini, dokter membuat sayatan pada dinding perut, biasanya di sepanjang garis tengah, dengan ukuran yang bervariasi tergantung kebutuhan untuk memperlihatkan organ dalam sistem pencernaan.[4] Beberapa contoh tindakan yang dilakukan adalah:
Operasi lambung
Adrenalektomi, yaitu operasi untuk mengangkat satu atau kedua kelenjar adrenal
Apendektomi, untuk mengangkat usus buntu
Nissen fundoplikasi, yaitu prosedur untuk memperkuat otot di antara lambung dan saluran kerongkongan pada pasien GERD yang parah
Roux-en-Y, yaitu tindakan memotong atau menghubungkan usus untuk mengobati obesitas atau GERD yang parah
Prosedur Whipple Pancreaticoduodenectomy, yaitu operasi untuk mengatasi kanker atau tumor pada pankreas[5]