Sejarah
Perusahaan ini memulai sejarahnya pada bulan November 1997 saat Low Tuck Kwong mengakuisisi PT Gunungbayan Pratamacoal (GBP), pemegang konsesi sebuah tambang batubara di Muara Tae, Kalimantan Timur. Pada bulan Juni 1998, Gunungbayan Pratamacoal mulai mengoperasikan Blok II, dan pada bulan Oktober 1998, Low Tuck Kwong juga mengakuisisi PT Dermaga Perkasapratama (DPP) yang memiliki dan mengelola Balikpapan Coal Terminal (BCT) yang berkapasitas hingga 24 juta metrik ton per tahun. Pada bulan Oktober 2004, Low Tuck Kwong mendirikan perusahaan ini untuk menaungi semua bisnis batu baranya di Indonesia.
Pada bulan Februari 2005, perusahaan ini mulai menambang batu bara di Tabang, Kutai Kartanegara. Pada tahun 2007, PT Perkasa Inakakerta, PT Teguh Sinarabadi, dan PT Wahana Baratama Mining mulai beroperasi. Pada bulan Mei 2008, Gunungbayan Pratamacoal mulai mengoperasikan Blok I. Pada bulan Agustus 2008, perusahaan ini resmi melantai di Bursa Efek Indonesia. Pada bulan yang sama, melalui PT Muji Lines, perusahaan ini juga mulai mengoperasikan Kalimantan Floating Transfer Barge (KFT-1) untuk memfasilitasi pemindahan muatan batu bara dari tongkang ke kapal di lepas pantai Kalimantan Selatan.
Pada bulan Juli 2010, KEPCO mengakuisisi 20% saham perusahaan ini. Pada tahun 2011, perusahaan ini mengakuisisi 56% saham Kangaroo Resources Pty Ltd yang saat itu memiliki 13 konsesi pertambangan. Gunungbayan Pratamacoal juga memperpanjang kontrak kerja sama penambangan dengan PT Bukit Makmur Mandiri Utama hingga tahun 2017, dengan nilai kontrak mencapai US$640 juta.[3] Pada bulan Juni 2012, perusahaan ini mulai mengoperasikan Lubuk Tutung Coal Terminal (LTCT), dan pada bulan November 2012, perusahaan ini mulai mengoperasikan KFT-2 untuk memfasilitasi pemindahan muatan batu bara dari tongkang ke kapal di lepas pantai Kalimantan Timur.
Pada bulan Maret 2015, perusahaan ini berhasil menyelesaikan fase awal pengembangan jalan dan dermaga di Tambang Tabang. Pada bulan Oktober 2017, PT Senyiur Sukses Pratama mengakuisisi 10% saham perusahaan ini. Pada bulan Juli 2018, PT Tiwa Abadi mulai melakukan eksplorasi di konsesi yang mereka pegang. Pada akhir tahun 2018, perusahaan ini meningkatkan kepemilikan sahamnya di Kangaroo Resources menjadi 100%. Pada bulan November 2019, PT Tanur Jaya mulai melakukan eksplorasi di konsesi yang mereka pegang, dan pada bulan Desember 2019, perusahaan ini mulai membangun jalan pengangkutan batu bara sepanjang 101 kilometer ke Sungai Mahakam. Pada bulan Maret 2020, PT Tanur Jaya mendapat izin untuk memproduksi batu bara.[1][2] Pada tahun 2023, bersama Bayan Energy, perusahaan ini mengakuisisi 100% saham PT Kariangau Power.[4]
Pada bulan Juni 2024, Indonesia Pratama memperpanjang kontrak kerja sama pengangkutan dengan Mandiri Herindo Adiperkasa hingga tahun 2034, dengan nilai kontrak mencapai Rp19 triliun[5] Pada bulan Oktober 2024, Indonesia Pratama juga memperpanjang kontrak kerja sama penambangan dengan Bukit Makmur Mandiri Utama hingga tahun 2035, dengan nilai kontrak mencapai Rp107,8 triliun.[6] Pada tahun 2025, perusahaan ini membubarkan Kangaroo Resources.[7]