Batik Banten adalah salah satu bentuk seni dan keterampilan membatik yang berkembang di Provinsi Banten, Indonesia. Seni membatik di Banten memiliki sejarah panjang yang terkait dengan Kesultanan Banten, yang pernah berada di bawah kekuasaan Kesultanan Demak. Pengaruh budaya dari Demak ini turut membentuk tradisi membatik di Banten sejak abad ke-17. Meskipun mengalami periode stagnasi setelah runtuhnya Kesultanan Banten, tradisi membatik berhasil dihidupkan kembali pada awal abad ke-21, menjadikannya sebagai bagian dari identitas budaya Banten.[1]
Sejarah
Sejarah batik di Banten berawal sejak masa Kesultanan Banten, yang berhasil melepaskan diri dari kekuasaan Kesultanan Demak sekitar tahun 1568. Masyarakat Banten telah mengenal batik sejak abad ke-17. Bukti arkeologis menunjukkan keberadaan selimut batik yang dikenal dengan nama simbut. Setelah masa kejayaan Kerajaan Banten berakhir, praktik membatik mengalami penurunan dan tradisi tersebut sempat hilang dari masyarakat setempat.[1]
Revitalisasi batik Banten mulai dilakukan pada tahun 2002 melalui pengkajian penggalian motif dan artefak di kawasan situs Banten Lama dengan tujuan menemukan jati diri adanya ragam hias yang dapat digunakan untuk gedung-gedung negara, rumah adat dan anjungan Provinsi Banten di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).[2] Penelitian tersebut merujuk pada temuan arkeologis dari kegiatan ekskavasi yang dilakukan pada tahun 1976 oleh arkeolog di wilayah bekas pusat Kesultanan Banten.[3] Dalam penggalian tersebut ditemukan puluhan ribu pecahan gerabah yang memiliki berbagai ragam hias. Dari temuan tersebut teridentifikasi sekitar 75 motif ragam hias yang kemudian diteliti lebih lanjut.[2] Ragam hias yang ditemukan kemudian direkonstruksi dan dikembangkan menjadi motif batik. Dari sekitar 75 ragam hias tersebut, sebanyak 50 motif berhasil diadaptasi menjadi desain batik khas Banten. Hasil pengembangan ini melahirkan berbagai motif yang mencerminkan unsur sejarah dan budaya Kesultanan Banten. Dari motif-motif tersebut, dua belas motif kemudian didaftarkan dan memperoleh pengakuan hak paten pada UNESCO pada tahun 2003.[1][4]
Motif
Motif batik Banten memiliki bentuk dan perpaduan warna yang khas. Motif-motif tersebut merupakan hasil rekonstruksi dari ragam hias yang ditemukan pada gerabah dan keramik peninggalan Kerajaan Banten, terutama dari kawasan Banten Lama. Penamaan motif umumnya diambil dari makna simbolis, nama tempat, bangunan, gelar sultan atau bangsawan, maupun unsur tata ruang yang berkaitan dengan kehidupan pada masa Kesultanan Banten.[1]
Beberapa motif didasarkan pada makna tertentu. Motif Srimanganti melambangkan pergantian zaman atau peralihan, Kesatriaan menggambarkan sifat kepahlawanan, Panembahan merujuk pada tokoh atau pemimpin spiritual, dan Singayaksa melambangkan keberanian serta perlindungan. Selain itu, terdapat motif yang diambil dari nama tempat, seperti Pasepen yang merujuk pada tempat raja bermeditasi, Pancaniti yang berasal dari bangsal tempat raja menyaksikan prajurit berlatih, Surosowan yang diambil dari nama ibu kota Kesultanan Banten, serta Pamaranggen yang berkaitan dengan tempat tinggal pembuat keris. Beberapa motif lainnya juga terkait dengan gelar atau tokoh pada masa Kesultanan Banten, seperti Sabakingking yang berhubungan dengan gelar Sultan Maulana Hasanudin, Kawangsan yang terkait dengan Pangeran Wangsa, Kapurban yang berhubungan dengan gelar Pangeran Purbal, dan Mandalikan yang berkaitan dengan Pangeran Mandalikan.[5][6] Motif Datulaya memiliki bentuk dasar belah ketupat menyerupai bunga, yang dihiasi lingkaran dan bingkai sulur-sulur daun. Warna dasar motif ini umumnya biru dengan sulur daun berwarna abu-abu dan kain dasar berwarna kuning.[1]
Motif batik Banten pada umumnya mengandung makna atau cerita yang berkaitan dengan sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat Banten. Karakter ini sering disebut sebagai konsep tell story, yaitu motif yang merepresentasikan kisah atau makna tertentu.[5]
Corak batik Banten pada umumnya menampilkan warna yang cenderung gelap tetapi lembut dengan dominasi abu-abu halus yang mencerminkan bahwa masyarakat Banten memiliki sifat dan karakter yang selalu berpenampilan lugas dan sederhana.[7] Dalam perkembangannya, penggunaan warna pada batik Banten juga dipengaruhi oleh proses asimilasi budaya, termasuk pengaruh budaya Tionghoa yang turut berperan dalam terbentuknya penggunaan warna pastel sebagai salah satu identitas visual batik Banten.[4] Warna pastel memberi kesan lembut, yang mana digunakan untuk menggambarkan karakteristik masyarakat Banten yang berekspresif serta hati yang lembut.[8] Karakter warna pastel tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi air tanah yang digunakan dalam proses pencelupan, yang dapat mereduksi intensitas warna-warna cerah sehingga menghasilkan warna yang lebih redup.[5]
Dalam perkembangannya, sejumlah motif batik Banten telah didokumentasikan dan dipatenkan pada tahun 2003 oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO). Dua belas motif yang tercatat antara lain Sabakingking, Mandalikan, Srimanganti, Pasepen, Pejantren, Pasulaman, Kapurban, Kawangsan, Pamaranggen, Surosowan, Pancaniti, dan Datulaya. Motif-motif tersebut merepresentasikan unsur sejarah, budaya, dan kearifan lokal yang berkaitan dengan Kesultanan Banten.[4]