Basidakah Limau Kinari adalah tradisi masyarakat di Nagari Kinari, Kota Solok, Provinsi Sumatera Barat, yang dilakukan setiap tahun menjelang bulan Ramadhan untuk mempererat tali silaturahmi dengan saling memaafkan. Tradisi ini terdapat beberapa rangkaian acara, seperti makan bersama, saling bermaafan, sampai pembuatan kue khas daerah dan menyiapkan pucuak janur untuk anggota keluarga yang telah meninggal.[1]
Pelaksanaan Basikadah Limau
Tradisi Basidakah Limau dilaksanakan sehari sebelum memasuki bulan Ramadan, Tradisi ini diawali dengan membuat "pucuak", terbuat dari daun kelapa yang masih muda, dirangkai menyerupai janur, dan akan dibawa ke "balai", pusat keramaian tempat pelaksanaan Basidakah Limau sore harinya. Setelah itu, ibu-ibu membuat makanan khas Nagari Kinari, yaitu "kue putu " yang terbuat dari tepung ketan, gula pasir dan garam, lalu dibungkus menggunakan daun pisang, kemudian dikukus. Setelah matang, kue disusun di cawan. Selain itu, para ibu juga mempersiapkan "limau", terdiri dari berbagai jenis jeruk, daun pandan, bunga mawar, kemudian dipotong dan direndam air, diletakkan dalam sebuah wadah.[1][2]
Pada sore harinya, masyarakat datang bermai-ramai ke balai untuk menyaksikan prosesi tradisi Basidakah Limau yang diawali dengan wejangan oleh pemuka adat, dilanjutkan dengan melemparkan uang koin serta kue putu yang disiapkan untuk diperebutkan oleh masyarakat kemudian makan kue putu bersama. Setelah semua prosesi berakhir, pucuak tersebut diantarkan ke makam anggota keluarga yang bergelar adat atau pemuda yang sudah meninggal, Setelah itu, masyarakat bersiap untuk melaksanakan shalat tarawih pertama.[1][3]
Makna Basikadah Limau
Basikadah Limau Kinari adalah tradisi turun-temurun masyarakat Nagari Kinari yang dilaksanakan setiap tahun menjelang Ramadhan sebagai bentuk rasa syukur terhadap Allah dan ajang masyarakat setempat saling memaafkan setiap hendak memasuki bulan Ramadhan pada perkumpulan di sore hari. Selain itu, tradisi Basidakah Limau diadakan juga untuk mengenang anggota keluarga yang sudah meninggal dunia. Acara ini diisi dengan berbagai pertunjukan kesenian tradisional, seperti silek (silat Minangkabau), tari tradisional, dan seni pertunjukan lainnya yang menggambarkan kekayaan budaya Minangkabau. Tradisi ini mencerminkan semangat kebersamaan dan gotong royong masyarakat.[1][4]
Referensi
1234Kebudayaan, Dinas Pariwisata dan (2023-08-01). "Sadakah Limau". Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Diakses tanggal 2025-11-19.