Banua Wuhu adalah gunung api bawah laut yang terletak di sebelah barat pulau Mahengetang,[2]Kepulauan Sangihe, Indonesia. Gunung ini memiliki ketinggian 400 meter dari dasar laut dan puncaknya berada di kedalaman 5 meter di bawah permukaan air. Catatan sejarah menunjukkan bahwa beberapa pulau sementara terbentuk dan kemudian menghilang.
Pulau setinggi 90 meter terbentuk pada tahun 1835, tetapi kemudian menjadi hanya beberapa batu pada tahun 1848. Letusan pada September 1889 membentuk sebuah pulau baru yang mencapai ketinggian 50 meter pada tahun 1894. Letusan pada bulan April dan Agustus 1904 membentuk 5 buah kawah.
Pulau baru lainnya terbentuk pada bulan Juli 1918 hingga Desember 1919, dan menghilang sepenuhnya pada tahun 1935. Letusan kembali terjadi pada bulan April 1919, batu-batu besar dan abu melanda pulau Mahengetang. Rumah-rumah banyak yang terbakar sehigga banyak penghuni yang meninggalkan pulau Mahengetang.[3]
Geologi
Banua Wuhu merupakan gunung api bawah laut yang berada di perairan Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Gunung api ini termasuk ke dalam Busur Vulkanik Sangihe yang terbentuk akibat pergerakan lempeng tektonik di kawasan timur Indonesia. Puncak Banua Wuhu berada beberapa meter di bawah permukaan laut sehingga tidak membentuk pulau tetap.[4]
Meskipun berada di bawah laut, Banua Wuhu masih menunjukkan aktivitas vulkanik. Di setikar puncaknya sering terlihat gelembung gas yang muncul ke permukaan sebagai akibat dari aktivitas hidrotermal. Fenomena tersebut menjadikan Banua Wuhu sebagai salah satu gunung api bawah laut yang banyak diteliti di Indonesia.[5]
Sejarah Aktivitas
Aktivitas vulkanik Banua Wuhu telah tercatat sejak abad ke-19. Beberapa letusannya pernah membentuk pulau kecil yang muncul di atas permukaan laut. Namun, pulau tersebut tidak bertahan lama dan akhirnya kembali tenggelam akibat abrasi serta aktivitas vulkanik yang terus berlangsung.[4]
Hingga saat ini Banua Wuhu masih tergolong gunung api aktif. Walaupun tidak lagi membentuk daratan baru, aktivitasnya masih dapat diamati melalui keluarnya gelembung gas dari dasar laut dan meningkatnya suhu air di beberapa lokasi di sekitar gunung api.[6]