Bantai Adat adalah tradisi masyarakat Batin V Rantau Panjang, Kecamatan Tabir, Kabupaten Merangin, Jambi, yang dilakukan menjelang bulan suci Ramadan. Tradisi ini melibatkan penyembelihan puluhan ekor kerbau sebagai bagian dari ritual yang telah berlangsung secara turun-temurun selama ratusan tahun.[1]
Pada tahun 2024, Bantai Adat dilaksanakan pada Jumat, 8 Maret, dengan sebanyak 84 ekor kerbau disembelih. Kerbau-kerbau ini berasal dari berbagai desa di Kecamatan Tabir. Sekretaris Daerah Merangin, Fajarman, menyatakan bahwa tradisi ini merupakan warisan budaya yang terus dipertahankan oleh masyarakat setempat sebagai ungkapan kegembiraan dalam menyambut Ramadan.[2]
Setelah disembelih, daging kerbau dijual kepada masyarakat. Banyak warga yang membeli daging ini untuk dikonsumsi sebagai santapan sahur pada hari pertama Ramadan serta sebagai persediaan selama bulan puasa.[3]
Pelestarian Tradisi
Seiring waktu, Festival Bantai Adat berkembang menjadi sebuah acara budaya yang lebih luas. Tradisi ini tidak hanya berfokus pada penyembelihan kerbau, tetapi juga mencakup berbagai kegiatan seni dan budaya. Acara ini menampilkan pertunjukan seni tradisional, pelestarian kuliner khas daerah, serta parade pakaian adat.[4]
Festival ini juga menjadi ajang pertemuan masyarakat, di mana baik anak-anak maupun orang dewasa hadir dengan mengenakan pakaian baru, menyerupai perayaan Hari Raya Idul Fitri. Selain itu, Festival Bantai Adat telah diusulkan sebagai agenda budaya tahunan nasional untuk lebih memperkenalkan kekayaan tradisi masyarakat Merangin kepada khalayak luas.[5]
Hubungan dengan Geopark Merangin
Selain memiliki kekayaan budaya, Kabupaten Merangin juga dikenal dengan keanekaragaman hayatinya, termasuk Geopark Merangin yang telah mendapat pengakuan dari UNESCO sebagai salah satu warisan dunia. Keberadaan Festival Bantai Adat semakin memperkaya identitas daerah ini sebagai destinasi budaya dan alam yang unik di Indonesia.[1]