Hujan lebat di puncak Gunung Merapi dengan curah hujan mencapai 144 mm
Sasaran
Para penambang pasir di aliran Kali Senowo
Tewas
3 orang
Cedera
6 orang (2 dirawat di RS Muntilan)
Hilang
2 orang
Kerugian harta benda
3 truk hanyut
12 truk terjebak/terkubur material
2 alat berat (ekskavator) terkubur
4 jembatan rusak/putus
2 warung makan rusak
Pipa air bersih warga rusak
Banjir lahar dingin Kali Senowo 2026 adalah peristiwa banjir lahar dingin yang terjadi di Kali Senowo, lereng Gunung Merapi, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, pada tanggal 3 Maret 2026. Bencana ini dipicu oleh hujan lebat di puncak Gunung Merapi dengan curah hujan mencapai 144 mm, yang memicu aliran lahar dingin menerjang para penambang pasir yang sedang beraktivitas di sungai.[1][2]
Peristiwa ini mengakibatkan tiga orang penambang tewas, dua orang hilang, serta kerusakan parah pada infrastruktur dan kendaraan berat di sekitar aliran Kali Senowo.[3]
Kronologi
Pada Selasa sore, 3 Maret 2026, sekitar pukul 15.00 WIB, hujan lebat mulai mengguyur kawasan puncak Gunung Merapi. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat curah hujan mencapai 144 mm dan telah mengeluarkan peringatan dini bahaya lahar pada pukul 15.15 WIB.[1]
Sekitar pukul 15.30 WIB, banjir lahar dingin terjadi di Kali Senowo. Material vulkanik sisa erupsi Gunung Merapi tahun 2010 berupa pasir dan batu menggelontor deras dengan kekuatan besar, menerjang para penambang yang sedang bekerja.[4]
Korban Jiwa
Akibat kejadian ini, sebanyak lima orang penambang dilaporkan terseret banjir. Berikut adalah daftar korban berdasarkan data dari Basarnas Semarang dan SAR gabungan.[4][2]
Korban Meninggal Dunia
Daftar korban meninggal
Nama
Usia
Asal Daerah
Keterangan
Imam Setiawan
21 tahun
Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Tugu, Kota Semarang
Ditemukan tewas tidak lama setelah kejadian
Heru Setyawan
25 tahun
Desa Krinjing, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang
Ditemukan pada Rabu, 4 Maret 2026, sekitar 3 km dari titik awal
Arif Fuad Hasan
26 tahun
Ngargosoko, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang
Ditemukan pada Rabu, 4 Maret 2026, sekitar 3 km dari titik awal
Korban Hilang
Daftar korban hilang
Nama
Asal Daerah
Keterangan
Maryuni
Desa Krinjing, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang
Masih dalam proses pencarian oleh tim SAR gabungan
Hasyim
Desa Krinjing, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang
Masih dalam proses pencarian oleh tim SAR gabungan
Selain korban tewas dan hilang, enam orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka, dengan dua orang di antaranya masih menjalani perawatan intensif di RSUD Muntilan.[1][2]
Proses Pencarian
Operasi pencarian dan evakuasi melibatkan tim SAR gabungan dari Basarnas, TNI, Polri (termasuk unit anjing pelacak K-9 Polres Magelang), serta relawan. Pada hari pertama (Selasa), pencarian berhasil menemukan satu korban tewas. Memasuki hari kedua (Rabu), tim dibagi menjadi tiga Satuan Regu Unit (SRU) dengan radius pencarian mencapai empat kilometer dari lokasi awal.[2][4]
Pada Rabu siang, tim menemukan dua korban tewas lainnya (Heru dan Fuad). Pencarian terhadap dua korban yang masih hilang, Maryuni dan Hasyim, terus dilakukan dengan menyisir aliran sungai hingga radius yang lebih jauh, dengan tetap memperhatikan kondisi cuaca dan debit air.[2]
Dampak Material dan Infrastruktur
Banjir lahar dingin Kali Senowo menyebabkan kerusakan signifikan, terutama di area penambangan dan infrastruktur publik.[3][4]
Sektor Penambangan
3 unit truk pengangkut pasir hanyut terbawa arus.
12 unit truk lainnya terendam atau terkubur material lahar.
2 unit alat berat jenis ekskavator (Kobelco) terkubur material pasir dan batu.
Infrastruktur Umum
Sejumlah jembatan dilaporkan rusak parah atau putus, antara lain:
Jembatan Sungai Kepil di Desa Paten, Kecamatan Dukun (terputus).
Jembatan Surodadi di Desa Surodadi, Kecamatan Sawangan.
Jembatan Kojor Semendi di Desa Bojong, Kecamatan Mungkid.
Jembatan Srowol di Desa Progowati, Kecamatan Mungkid.
Dam/jembatan pengendali lahar Oprit Bandung di Desa Paten, Kecamatan Dukun.
Material lahar juga merusak badan jalan di sekitar Pasar Suko dan ruas Jalan Talun di wilayah Muntilan, serta dua warung makan (Raja Kosek dan Iwak Kali).[3]
Fasilitas Warga
Jaringan pipa air bersih milik warga di beberapa desa, seperti di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali dan Desa Klakah, rusak akibat terjangan material, menyebabkan pasokan air bersih terputus. Warga setempat bergotong royong melakukan perbaikan.[3]
Tanggapan
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, mengimbau masyarakat, khususnya penambang dan warga yang tinggal di sepanjang aliran sungai berhulu di Merapi, untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak beraktivitas di sungai saat hujan deras mengguyur puncak gunung.[1] Petugas Pos Pengamatan Gunung Merapi juga mengingatkan potensi banjir lahar susulan mengingat intensitas hujan di puncak masih tinggi.[3]
Pemerintah daerah bersama BPPTKG dan Badan Geologi terus melakukan pendampingan teknis, sosialisasi kebencanaan, dan koordinasi untuk percepatan penanganan dampak.[1]