Balung adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Jember. Balung berada di jalur penghubung pusat kota Jember dengan Puger dan Kencong ke selatan, serta Wuluhan ke timur. Pusat kecamatan ini terletak di Desa Balung Lor yang terdapat alun-alun, masjid besar, dan Rumah Sakit Daerah (RSD). Balung memiliki pusat perbelanjaan yang ramai, baik pasar tradisional seperti Pasar Balung dan Pasar Senenan maupun pusat perbelanjaan modern seperti Dira dan LaRisso.[1] Pada zaman kolonial Belanda, Balung banyak terdapat infrastruktur penting seperti Stasiun Balung dan Pabrik Gula Bedadung yang sekarang sudah terbengkalai. Stasiun tersebut ditutup sekitar tahun 1970-an, dan bangunannya sampai sekarang masih ada dan dimanfaatkan menjadi pasar sepeda.[2][3]
Geografi
Peta administrasi Kecamatan Balung
Balung adalah kecamatan di Kabupaten Jember yang terletak di jalur alternatif Lumajang-Jember via Kencong. Pusat Kecamatan Balung berada di Desa Balung Lor yang berada di persimpangan jalur dari arah Rambipuji dan Gambirono menuju Jember selatan seperti Wuluhan, Ambulu, dan Puger. Geografi Balung berupa dataran rendah yang didominasi oleh areal persawahan. Sungai utama yang melintasi kecamatan ini adalah Sungai Bedadung yang juga merupakan sungai terpanjang di Kabupaten Jember, dan mengalir dari utara ke selatan.
Batas wilayah Kecamatan Balung adalah sebagai berikut:[4]
Pada zaman kolonial Belanda, Balung merupakan bagian dari Kawedanan Wuluhan yaitu daerah pembantu bupati di Jember yang juga mencakup Kecamatan Wuluhan, Ambulu, dan Tempurejo.[5][6] Jember saat itu merupakan sentra perkebunan tebu dan banyak berdiri infrastruktur penunjang perkebunan. Di Balung sendiri pernah berdiri Pabrik Gula Bedadung dan Stasiun Balung. PG Bedadung adalah salah satu dari beberapa pabrik gula yang berdiri di Jember selain Pabrik Gula Gunungsari di Kencong dan Pabrik Gula Semboro di Semboro. Bekas pabrik gula Bedadung sekarang sudah tak bersisa dan menjadi lahan perkebunan tebu.
Stasiun Balung berdiri sekitar tahun 1913 dan terhubung ke Stasiun Rambipuji di utara, serta Puger dan Ambulu di selatan. Letaknya yang strategis membuat stasiun tersebut tetap ramai, bahkan hingga pasca kemerdekaan terutama sekitar tahun 1950-an. Namun stasiun ini nantinya ditutup pada tahun 1970-an walaupun bangunannya masih ada hingga sekarang. Bekas bangunan stasiun dimanfaatkan untuk pasar sepeda yang dikelola oleh komunitas Persatuan Dagang Sepeda Balung (PDSB).[2][3]
Galeri
Eks-Stasiun Balung
Eks-Halte Tutul
Kantor telegraf Baloeng
Poliklinik di Pabrik Gula Bedadung
Penanaman tebu di Bedadung
Daftar desa dan dusun
Kecamatan Balung terdiri dari 8 desa yang dibagi menjadi beberapa dusun / dukuh / lingkungan, yakni sebagai berikut: