Maret 2020 menjadi titik awal kehadiran Bakar Production dengan Serial Sitkom “Balada Kampung Riwil” di kancah seni media rekam khususnya di platform Youtube. Bermarkas di Perumahan Seniman Ngipang, Surakarta, Bakar Production rutin melakukan produksi setiap weekdays, dan setting yang digunakan untuk kebutuhan Serial Sitkom hampir keseluruhan bertempat di area Perumahan Seniman “Ketoprak” Ngipang.
Mengusung semangat kolektif, dan sinergi dari lintas disiplin (Ketoprak, Wayang orang, Campursari, Mahasiswa Film hingga Masyarakat Kampung) menjadikan konten yang disajikan Bakar Production lebih bervariasi dalam segi naratif. Bakar Production bertekad mempresentasikan materi-materi kedaerahan, khususnya Solo kepada audience sebagai bentuk Nguri-nguri Budoyo, yang mungkin secara tidak langsung dapat menjadi media informasi ataupun edukasi kepada audience lokal maupun nasional.
Dengan menggagas problem-problem komunal yang sering terjadi di masyarakat, yang kemudian dituangkan kedalam konsep penceritaan humor, Bakar Production berharap audience merasa dekat/relate, pun mentertawakan kejadian-kejadian yang tak jarang konyol didalam adegan, yang mungkin secara nyata juga terjadi dikehidupan audience. Selain humor, pitutur-pitutur jawa yang positif juga termuat di beberapa adegan, pun diharap mampu menjadi refleksi untuk audience memaknai kehidupan dari sudut pandang yang lain, yang mungkin lebih baik.
Per Mei 2025, Balada Kampung Riwil sudah memiliki lebih dari 654.000 pelanggan dengan total 350 episode, dan ideonya rerata telah ditonton jutaan kali. Kolaborasi dengan berbagai lintas disiplin juga digaungkan oleh Bakar Production, baik dari sesama kreator youtube; Ucup Klaten, Dimas Zaenal, Mak Damis juga pernah berkolaborasi dengan musisi; Denny Caknan, Ndarboy Genk serta politikus; Lestari Moerdijat dan Juliyatmono serta budayawan senior; Sujiwo Tedjo, yang menghasilkan karya berjudul Dyah Puspa Jaladri.[1][2] bertajuk season yang terdiri dari 10 episode, Dyah Puspa Jaladri juga ditayangkan di Magna Channel.
Balada Kampung Riwil turut bekerja sama dengan TV9 untuk memproduksi season yang terdiri dari 5 episode dengan judul Mbah Yai guna menyambut 1 abad NU. Selain memproduksi Serial Bersambung, Bakar Production juga telah memproduksi Film Panjang dengan Judul Joko Songo dan Tiga Dharma Sambernyawa, kedua film diproduksi bersama Pemerintah Kabupaten Karanganyar.
Bisa dibilang, Bakar Production adalah embrio dari Ketoprak Balekambang. Dan sebuah manuver kesenian dalam menjawab zaman. Pada Desember 2021, Bakar Production diundang tampil di Kick AndyMetro TV, membagikan proses produksi Balada Kampung Riwil dan menyampaikan harapan mereka agar generasi muda tetap mencintai kesenian tradisional.[3]
Latar belakang
Balada Kampung Riwil bermula dari keprihatinan sosial seorang sineas dan sutradara ketoprak asal Kota Surakarta, Jawa Tengah, Dwi Mustanto, menyusul datangnya bencana pandemicovid-19 pada awal tahun 2020[4] yang berakibat terhentinya berbagai kegiatan kesenian para seniman. Atas gagasan yang disodorkan oleh Sigit Wardoyo dan Rudy Momon, Dwimus kemudian membikin film pendek yang menjadi cikal-bakal diproduksinya komedi berbahasa Jawa Balada Kampung Riwil.[5] Lalu, Dwi Mustanto menghimpun beberapa pemain ketoprak terdampak pandemi yang sebelumnya biasa tampil di Gedung Kesenian Taman Balekambang, ditambah beberapa pemain dari kalangan penyanyi campursari dan pewara. Keahlian dan profesionalitas para pemain inilah yang mempercepat proses produksi. Dengan modal uang sendiri yang sangat terbatas dan perangkat seadanya, maka dimulailah film komedi itu, berlokasi di Kampung Ngipang, Desa Kadipiro, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta. Satu tahun pertama, penghasilan dari konten ini sudah mampu menambal-sulam kebutuhan produksi. Selebihnya didapat dari endorse beberapa perusahaan yang terlibat di dalamnya.[6]
Alur cerita
Setiap episode, Balada Kampung Riwil selalu mengetengahkan judul sebagai acuan alur cerita, tapi pengadeganannya selalu dipotong menjadi beberapa bagian, dengan mengambil lokasi seputar rumah Pak RT, rumah Fandra, rumah Pak Kliwon, rumah Momon, rumah Paijo, rumah Mas No, rumah Bu Siti, dan jalan kampung. Masing-masing bagian selalu dihubungkan melalui dialog singkat. Cerita yang diangkat adalah seputar kehidupan warga Kampung Riwil dengan problematikanya yang konyol, dibikin ribet, ada yang dirisak, dan ada yang jadi korban perisakan. Paijo dan Fandra sering muncul di antara dialog orang tua dengan kalimat-kalimat nylekit, bahkan kadang membuat orang-orang dewasa geleng kepala karena akal bulus mereka. Tidak lupa, bumbu asmara segi empat juga dimunculkan. Momon, pemuda kampung yang bekerja di jasa laundry Bu Siti, sering membuat galau Minthul, Mimin, dan Kenes. Namun demikian, di sela itu diselipkan nasihat bijak yang disampaikan oleh Pak Kliwon.
Tidak ada pemeran utama
Dalam film komedi Balada Kampung Riwil tidak ada pemeran utama. Semua pemain berperan sesuai porsi masing-masing. Siapa pun, dalam sebuah episode bisa menonjol, di episode lain bisa saja tidak menonjol. Dwi Mustanto selaku sutradara dan penulis skenario bekerja mengalir menyesuaikan kondisi kesiapan para pemain. Sehingga, apabila seorang pemain sedang sibuk di luar Bakar Production, tidak dimunculkan. Namun, sementara ini, karakter paling menonjol dan hampir tiap episode muncul adalah Momon, Minthul, dan Mimin yang terlibat "cinta segitiga".
Pemeran dan karakter
Billy Aldi Kusuma sebagai Pak RT, tetua kampung yang mengalami obesitas karena gemar makan chiki
Putri Kaguya sebagai Bu RT yang sering dijuluki 'Ibu Bidadari'
Tri Handoko Putro sebagai Pak Bogang, karyawan jasa laundry yang tidak mau kalah dalam berdebat, meskipun konyol argumennya
Rudy Momon sebagai Momon, karyawan jasa laundry, play boy kampung yang dicintai beberapa gadis
Mamik Indrawati sebagai Bu Siti, pemilik jasa laundry bersuara merdu
Mahanufi Faiza Hida sebagai Minthul, putri Bu Siti, mahasiswi yang belum bisa melupakan kenangan bersama mantan kekasihnya, Bebek (Denny Caknan),[7] tapi kadang memberi harapan kepada Momon
Doel Sumbing sebagai Pak Doel, seniman musik yang merangkap sebagai bandar judi dadu
Lega Jumpris sebagai Bu Mami, istri Pak Doel, penjual gorengan yang cerewet, tiap hari memarahi suaminya
Fandra Famekas sebagai Fandra, kelas 2 SMP, putra Pak Doel dan Bu Mami
Raja Bagus Guntur sebagai Paijo, kelas 2 SD, putra Pak Bogang, sahabat karib Fandra
Darmono sebagai Pak Kliwon, tokoh kampung yang selalu menyampaikan nasihat bijak
Josevee Sadie Mintari sebagai Mimin, mahasiswi yang jatuh cinta kepada Momon
Anom Kentang sebagai Mas No, pekerja serabutan, pendatang baru di Kampung Riwil
Shinta Dewi sebagai Kenes, adiknya Mas No, karyawan di Pasar Nusukan, janda kembang yang diincar oleh Momon
Pak Mul, tentara, ayah Mimin
Iswati Handayaningsih sebagai Iis Bukan Dahlia, pemilik warung yang judes
Sigit Wardoyo sebagai Kincer, pekerja serabutan, pemuda kampung yang berpacaran dengan Damai, putri Pak RT
Saiful sebagai Darso, warga kampung, berprofesi sebagai tukang cat yang mengaku ahli warna
Davigio Paes Raya Kurniawan sebagai Jolodot, kelas 3 SD, sahabat Paijo dan Fandra
Abednego Apriadi sebagai Kabul, warga kampung yang provokatif
Panggah Rudhita sebagai Bandi, kakak Momon yang sering menyutradarai pementasan ketoprak
Ivan Gendon sebagai Ivan Gendon, sales alat elektronik yang sering dipalak oleh Paijo dan Fandra
Bob Lancar Jaya, pacar Mimin yang klemar-klemer dan agak aneh perilakunya.
Rafael Raka Rambu Suyono sebagai Supra, anak Supri yang dititipkan di rumah Bogang.
Tim produksi
Sutradara: Dwi Mustanto
Produser: Tatak Prihantoro, Ali Yafie Muzaki & Bayu Roy Pradhana
Story: Dwi Mustanto
Skenario: Dwi Mustanto, Billy Aldi Kusuma & Panggah Rudhita
Lokasi pengambilan gambar merupakan kampung seniman kethoprak Balekambang, atas bantuan Pemerintah Kota Surakarta. Suasana seperti layaknya sebuah kampung, sehingga aktivitas warga setempat yang tidak terlibat dalam film kadang dibiarkan muncul.
Kebanyakan pemain Bakar Production bertempat tinggal di Kampung Riwil dan sekitarnya.
Bu RT dan Pak RT, dalam kehidupan nyata adalah suami-istri
Rumah Pak RT, dalam keseharian merupakan rumah milik keluarga Fandra
Rumah Bu Mami dan Pak Doel, dalam keseharian adalah rumah milik Bu Siti
Rumah yang ditempati Paijo dan Bogang, dalam kesehariannya merupakan rumah milik Dwi Mustanto
Kincer yang berpacaran dengan Damai, putri Pak RT, dalam keseharian adalah suami-istri. Kincer juga merupakan putra kandung dari Bu Siti.
Momon, kesehariannya merupakan kakak kandung dari Iis Bukan Dahlia
Tempat tinggal Momon, dalam kesehariannya merupakan rumah milik Bogang.