Bakul Tangkal adalah kerajinan anyaman bambu khas Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan, yang digunakan sebagai wadah untuk peralatan bayi dan obat-obatan masyarakat Melayu Musi. Kerajinan ini memiliki ciri khas yaitu empat kaki di bagian bawah dan tutup berbentuk mahkota yang unik, yang melambangkan harapan agar terhindar dari penyakit dan hal buruk.[1]
Pembuatan Bakul Tangkal
Bakul Tangkal memiliki desain dengan empat kaki dan tutup berbentuk mahkota yang tidak bisa dibuat oleh sembarang orang. Bakul Tangkal dibuat menggunakan bambu yang di belah kecil sekitar 2-3 cm selanjutnya di anyam menggunakan tangan, kesulitan pada pembutan bakul tangkal ketika membuat mahkotanya, tidak bisa dilakukan oleh masyarakat umum yang belum pernah belajar, tutup bakul yang menyerupai mahkota/candi menjadi ciri khas dari bakul tangkal. Cara pembuatan bakul tangkal ambil bambu yang sudah tua dengan panjang sesuai kebutuhan, selanjutnya bambu di bersihkan, selanjutnya bambu di belah tipis-tipis dan di jemur di bawah terik matahari, selanjutnya proses penganyaman bambu untuk dijadikan bakul tangkal biasanya memakan waktu 3-4 hari anyaman.[1]
Fungsi Bakul Tangkal
Fungsi utamanya adalah sebagai wadah peralatan bayi dan obat-obatan, namun mahkotanya memiliki makna filosofis sebagai penangkal penyakit dan hal buruk. Bakul Tangkal merupakan kerajinan anyaman yang dibuat oleh perempuan desa sebagai simbol ketekunan dan ekonomi rumah tangga.[2]
Upaya Pelestarian
Masyarakat dan pelaku seni budaya Sumatera Selatan mengantarkan 17 warisan budaya termasuk Bakul Tangkal kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sumatera Selatan untuk dimasukan sebagai usulan Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI) tahun 2025. Tidak hanya Dalam upaya menjaga kelestarian Bakul Tangkal, terdapat sentral kerajinan Bakul Tangkal yang berasal dari Desa Sukalali, Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Kerajinan ini masih dilestarikan dan diminati karena nilai kebudayaan dan ekonomi yang dihasilkannya.[3]