Bakiak merupakan alas kaki tradisional yang terbuat dari kayu ringan pada bagian telapaknya, sedangkan pengikat kakinya dibuat dari potongan ban bekas yang dipaku pada kedua sisinya. Alas kaki ini dikenal luas oleh masyarakat karena bentuknya sederhana, mudah dibuat, dan memiliki harga yang terjangkau. Pada masa kondisi ekonomi sulit, bakiak menjadi pilihan masyarakat karena biaya pembuatannya relatif murah dibandingkan jenis alas kaki lainnya.[1]
Selain harganya yang ekonomis, bakiak juga memiliki daya tahan yang cukup baik. Bahan kayu yang digunakan membuat bakiak kuat untuk dipakai dalam kegiatan sehari-hari, sedangkan pengikat dari ban bekas menjadikannya lebih lentur dan nyaman digunakan. Kombinasi kedua bahan tersebut menyebabkan bakiak tahan terhadap air serta dapat digunakan pada kondisi cuaca panas maupun dingin. Oleh sebab itu, bakiak banyak digunakan oleh masyarakat, terutama di daerah pedesaan dan lingkungan kerja yang memerlukan alas kaki sederhana tetapi tahan lama.[2]
Keberadaan bakiak diperkirakan mendapat pengaruh dari budaya Jepang yang telah lama mengenal sandal kayu tradisional bernama Geta. Hal tersebut terlihat dari kesamaan bentuk dasar serta penggunaan kayu sebagai bahan utama. Namun, dalam perkembangannya, bakiak memiliki ciri khas tersendiri yang disesuaikan dengan kebutuhan dan budaya masyarakat Indonesia. Saat ini, bakiak tidak hanya digunakan sebagai alas kaki, tetapi juga sering dimanfaatkan dalam berbagai permainan tradisional dan perlombaan pada kegiatan masyarakat.[2]