Bakarkhani, yang juga disebut baqarkhani atau bakorkhoni dan dikenal sebagai bakarkhani roti, adalah roti pipih tebal berbumbu yang menjadi bagian dari kuliner Mughlai. Bakarkhani disiapkan pada beberapa perayaan keagamaan Muslim di Asia Selatan dan kini dikenal sebagai roti manis.[4]
Bakarkhani memiliki tekstur mirip biskuit dengan bagian luar yang keras. Bahan utamanya meliputi tepung, semolina, gula, molase yang direndam dalam saffron, biji poppy atau nigella, garam, dan ghee.[5]
Legenda
Sebuah legenda mengaitkan nama roti ini dengan Mirza Agha Baqer, menantu Murshid Quli Khan II. Menurut kisah tersebut, Baqer yang bertugas sebagai jenderal di Chittagong di bawah Nawab Siraj ud-Daulah dari Bengal jatuh cinta pada seorang penari bernama Khani Begum dari Arambagh. Khani juga diminati oleh Zaynul Khan, kotwal kota sekaligus putra seorang wazir. Zaynul mencoba menyerang Khani ketika ditolak, dan Baqer turun tangan, mengalahkannya dalam pertarungan pedang. Dua pengikut Zaynul lalu membohongi ayahnya dan mengatakan bahwa Baqer telah membunuh Zaynul.[6]
Karena marah, sang wazir memerintahkan agar Baqer dimasukkan ke dalam kandang bersama seekor harimau. Baqer berhasil membunuh harimau itu dan pada saat yang sama terungkap bahwa kabar kematian Zaynul adalah bohong. Wazir Jahandar Khan dan Zaynul kemudian menculik Khani dan melarikan diri ke Bengal Selatan.[7] Pertarungan berlanjut ketika Baqer datang untuk menyelamatkannya. Dalam perkelahian berikutnya, Jahandar secara tidak sengaja membunuh Zaynul setelah Zaynul tanpa sengaja membunuh Khani. Khani kemudian dimakamkan di Bakla-Chandradwip (Patuakhali-Barisal). Baqer Khan membangun makam di atas pusaranya dan Bakla-Chandradwip kemudian dinamai Bakerganj untuk menghormatinya. Baqer sudah mengenal wilayah ini karena ia merupakan jagirdar di pargana Salimabad dan Umedpur di Barisal. Kisah cinta tragis Baqer Khan dan Khani Begum menginspirasi para pembuat roti untuk menamai roti kesukaan Baqer sebagai Bakerkhani. Toko bakarkhani pertama di Dhaka dibuka dekat Benteng Lalbagh dan banyak penjual bakarkhani di kota itu berasal dari Divisi Sylhet.[8]
Bengal Subah, khususnya Dhaka pada masa Mughal, merupakan pusat perdagangan bagi para pedagang dari berbagai wilayah di anak benua India hingga Timur Tengah dan Armenia. Melalui aktivitas perdagangan dan perjalanan, bakarkhani kemudian dikenal di luar Bengal termasuk di Kashmir, Bihar, Lucknow dan Hyderabad.[9]