Di Paris, vokal sengau tidak lagi diucapkan seperti dalam bahasa Prancis tradisional Paris: /ɑ̃/ → [ɒ̃], /ɛ̃/ → [æ̃], /ɔ̃/ → [õ], dan /œ̃/ → [æ̃]. Banyak pembeda yang hilang: /a/ dan /ɑ/, /ɛ/ dan /ɛː/, /ø/ dan /ə/, /ɛ̃/ dan /œ̃/ dan /nj/ dan /ɲ/. Selain itu, beberapa penutur masih membedakan /a/ dan /ɑ/ pada suku kata yang diberi tekanan, tetapi mereka melafalkan huruf "â" as [aː]: pâte [paːt].
Di Prancis bagian selatan, vokal sengau tidak berubah dan masih diucapkan seperti dalam bahasa Prancis tradisional Paris: enfant[ɑ̃ˈfɑ̃], pain[pɛ̃], bon[bɔ̃] dan brun[bʁœ̃]. Banyak pembeda yang hilang. Di akhir kata, sebagian besar penutur tidak dapat membedakan /e/ dan /ɛ/: baik livré maupun livret dilafalkan sebagai [liˈvʁe]. Dalam suku kata tertutup, mereka tidak lagi membedakan /ɔ/ dan /o/ atau /œ/ dan /ø/: baik notre maupun nôtre dilafalkan sebagai [nɔtʁ̥], dan baik jeune maupun jeûne dilafalkan sebagai [ʒœn]. Pembeda /a/ dan /ɑ/, /ɛ/ dan /ɛː/ telah hilang. Penutur yang lebih tua mengucapkan semua e: chaque[ˈʃakə] dan vêtement[ˈvɛtəmɑ̃].
Wilayah Utara
Di Prancis bagian utara, baik /a/ maupun /ɑ/ dilafalkan sebagai [ɔ] di akhir, dengan là dilafalkan sebagai [lɔ] dan mât sebagai [mɔ]. Vokal panjang masih dipertahankan: tête[teːt], côte[koːt].
Lorraine
Di Lorraine, vokal panjang fonemik masih dipertahankan: pâte[pɑːt] dan fête[fɛːt].[3] Before /ʁ/, /a/ changes to [ɑː]: guitare is pronounced [ɡiˈtɑːʁ] and voir[vwɑːʁ].