Bahan bakar cair adalah jenis bahan bakar yang berwujud cairan yang terbuat dari hidrokarbon. Bahan bakar cair dibedakan menjadi bahan bakar cair alami dan bahan bakar cair hasil pengolahan. Bahan bakar cair dapat dihasilkan melalui konversi biomassa dengan proses pencairan dalam suhu rendah dan tekanan tinggi. Bahan bakar cair mudah digunakan tetapi sulit diproduksi. Bahan bakar cair telah mengalami kelangkaan akibat peningkatan kebutuhan energi oleh penduduk di dunia dan berkurangnya cadangan sumber energi yang berasal dari fosil. Mutu bahan bakar cair dapat berkurang akibat keberadaan air di dalamnya.
Unsur kimia penyusun
Bahan bakar cair merupakan salah satu jenis bahan bakar yang wujudnya berupa cairan.[1] Unsur kimia yang menjadi penyusun utama bagi bahan bakar cair sama seperti jenis bahan bakar lainnya yaitu berupa hidrogen dan karbon.[2] Gabungan kedua unsur kimia tersebut membentuk senyawa organik yang disebut hidrokarbon.[3]
Jenis
Bahan bakar cair dibedakan menjadi bahan bakar cair alami dan bahan bakar cair hasil pengolahan. Jenis bahan bakar cair alami ialah minyak bumi. Sedangkan bahan bakar cair hasil pengolahan merupakan bahan bakar cair yang disiapkan melalui pengolahan minyak bumi sebagai bahan bakar alami. Hasil pengolahannya dibedakan menjadi dua yaitu olahan minyak bumi dan olahan non-minyak bumi. Produk hasil olahan minyak bumi antara lain berupa bensin, minyak tanah, minyak solar, bahan bakar minyak, dan minyak pelumas. Sedangkan hasil olahan non-minyak bumi berupa benzol dan etanol.[2]
Produksi
Sebagian besar produk bahan bakar cair dihasilkan melalui turunan produk dari minyak bumi. Sementara itu, sebagian kecil lainnya dihasilkan melalui batu bara atau biomassa. Bahan bakar cair dihasilkan dari pemisahan hidrokarbon cair (± 84%) dengan sulfur (± 3%), nitrogen (± 0,5%), oksigen (± 0,5%), metal dan mineral yang ada di dalamnya. Proses pemisahannya dilakukan dengan metode pengilangan yang meliputi proses distilasi, pemecahan, pembaruan, dan penghilangan kotoran.[4]
Bahan bakar cair dari minyak bumi dapat digantikan menjadi bahan bakar cair dari biomassa yang dihasilkan oleh limbah.[5] Bahan bakar cair yang dihasilkan melalui konversi biomassa dengan proses pencairan. Biomassa dicairkan menggunakan katalis untuk menghasilkan bahan bakar cair. Pencairan dilakukan dengan menggunakan tekanan tinggi tetapi pada suhu yang rendah.[6] Bahan bakar cair juga dapat dihasilkan pada suhu 300−400°C melalui perlakuan pirolisis terhadap limbah plastik berbahan polipropilena selama 1 jam.[7]
Keunggulan dan kekurangan
Bahan bakar cair termasuk jenis bahan bakar yang mudah digunakan karena pengangkutan yang mudah dan hasil pembakaran yang hampir tidak meninggalkan sisa. Selain itu, alat bakar yang digunakan untuk bahan bakar cair sifatnya lebih kompak sehingga mudah ditangani penggunaannya.[3] Bahan bakar cair digunakan untuk menghasilkan api yang dipakai dalam pembakaran. Api yang dihasilkan oleh bahan bakar cair hampir sama sifatnya dengan bahan bakar gas.[8] Bahan bakar cair akan berubah menjadi gas selama pembakaran. Proses pengembunan mulai terjadi ketika penguapan permukaan telah terjadi.[9] Sementara itu, kekurangan dari bahan bakar cair yaitu memerlukan banyak tahap pemurnian yang komplek untuk menghasilkan kandungan yang sesuai dengan kebutuhan pengguna.[3]
Konsumsi dan cadangan
Bahan bakar cair telah mengalami kelangkaan akibat peningkatan kebutuhan energi oleh penduduk di dunia dan berkurangnya cadangan sumber energi yang berasal dari fosil.[10] Dalam International Energy Outlook 2010, tercatat bahwa jumlah konsumsi bahan bakar cair pada tahun 2010 sebanyak 84 juta barel per hari. Jumlah tersebut meningkat sebanyak 2 juta barel per hari dibandingkan pada tahun 2009.[11] Di sisi lain, pasokan bahan bakar cair dunia hanya memenuhi sebanyak 86,35 juta barel per hari pada tahun 2010 dan hanya mengalami penambahan sebesar 1,4 juta barel per hari dibandingkan tahun 2009.[12]
Penurunan mutu
Mutu bahan bakar cair dapat berkurang akibat keberadaan air di dalamnya. Air dapat tercampur dengan bahan bakar cair melalui proses pengembunan uap air dari udara yang masuk ke dalam tangki penyimpanan bahan bakar cair. Keberadaan air pada bahan bakar cair dapat menyebabkan terganggunya pelumasan pada bagian-bagian yang bergerak secara bergeser pada pompa dan sistem bahan bakar. Selain itu, air pada bahan bakar cair yang bersentuhan dengan permukaan bagian yang bergerak dapat menghasilkan karat dan mempercepat pengotoran saringan pada pompa dan sistem bahan bakar.[13] Pada bahan bakar cair yang terbuat dari limbah plastik, mutu bahan bakar cair ditentukan oleh bilangan asam.[14]