Ayyūb as-Sikhtiyāni al-`Aniziy al-Baṣriy (أيوب السختياني العنزي البصري) (66-131 H/685-748 M)[2][3] atau Ayyub As-Sakhtiani ialah salah seorang pemuka Tabi'in yang telah meriwayatkan hadits dari Imam Nafi' pada banyak kesempatan dan narasinya terdapat dalam semua 6 kitab hadits utama. Ia dipanggil juga dengan nama Abu Bakar. Ia berasal dari Basrah (Kuwait) dan pernah melihat (bertemu dengan) Anas bin Malik, sahabat nabiMuhammad. Ia lahir pada masa Muawiyah.
Kehidupan
Hammad bin Zaid berkata, "Ayyub tidak pemah minum di saat dia membaca Al-Qur'an, dia berambut panjang yang hanya di cukur satu tahun sekali. Mungkin rambutnya ifu memanjang dan dia mengepangnya. Aku belum pemah melihat seorang pun yang paling ramah senyumnya kepada orang lain daripada Ayyub"[4]
Ibadahnya
Malik bin Anas berkata, "Kami menemui Ayyub As-Sakhtiani, ketika kami sebutkan sebuah hadits Rasulullah kepadanya, dia menangis hingga kami merasa iba kepadanya."[4]
Ayyub melakukan ibadah haji 40 kali. Ia selalu melakukan shalat malam, tetapi hal itu tetap dirahasiakannya. |ika shubuh menjelang dia mengeraskan suaranya, seolah-olah dia baru bangun pada saat itu. Ia sering menjadi imam shalat di masjidnya saat bulan Ramadhan tiba dan shalat bersama dengan mereka dengan durasi waktu kira-kira membaca 30 ayat dalam setiap rakaatnya.
Pandangan Ulama
Al-Hasan berkata,"Ayyub adalah tokoh terkemuka bagi generasi muda Bashrah."[4]
Jika Muhammad bin Sirin mendapat sebuah hadits dari Ayyub As-Sakhtiani, maka dia berkata, "Orang yang jujur dan dapat dipercaya telah memberitahukan kepadaku."
Muhammad bin Sa'ad berkata, " Ayyub adalah orang yang dapat dipercaya dan diakui kepakararurya dalam bidang hadits. Dia adalah seorang yang adil, wira'i, berpengetahuan luas, disamping sebagai huiiah bagi kaum muslimin."
Kematian
Ia wafat ketika terjadi wabah Tha'un di Basrah pada tahun 131 H/748 M di usia 63 tahun.[1][5]
Seorang hamba tidak pernah akan menjadi pemimpin kecuali jika dalam dirinya ada dua hal: Keterputusasaan (tidak tamak) terhadap apa yang ada di tangan orang lain dan melupakan apa yang pemah terjadi di antara mereka
Sesungguhnya kamu tidak akan mengetahui kesalahan guru yang mengajarmu, kecuali jika kamu mau belajar (juga) dengan yang lainnya dan banyak bergaul dengan orang lain.
Sesungguhnya jika suatu kaum itu sudah merasa sombong, maka Allah akan menghinakan dan menjadikan mereka rendah. Dan jika suatu kaum itu mau merendah, maka Allah akan mengangkat derajat mereka.
Berusahalah kamu untuk selalu pergi ke pasar (untuk mencari nafkah), karena sesungguhnya kamu akan selalu mulia di hadapan saudara-saudaramu selama kamu tidak membutuhkan (membebani) mereka (dengan cukup harta).