Sejarah
Sejak didirikan pada tanggal 1 April 1951 sebagai Komisi Administrasi Industri Penerbangan (Aviation Industry Administration Commission),[4] industri penerbangan Republik Rakyat Tiongkok telah melalui 12 reformasi sistemik.
AVIC membeli produsen mesin pesawat AS, Continental Motors, Inc. pada tahun 2010, produsen pesawat Cirrus pada tahun 2011, dan pemasok suku cadang khusus Align Aerospace pada tahun 2015.[5] Pada tahun 2015, AVIC dan BHR Partners mengakuisisi pemasok otomotif AS Henniges, melalui struktur usaha patungan.[6]
Pada tahun 2016, Aero Engine Corporation of China dibentuk, dengan modal US$7,5 miliar oleh Aviation Industry Corporation of China (AVIC) dan Commercial Aircraft Corporation of China, Ltd. (COMAC) untuk mengkonsolidasikan aero-engine dan teknologi terkait.
Pemisahan dan merger kembali
China Aviation Industry Corporation (CAIC) dipecah menjadi dua entitas terpisah, CAIC I dan CAIC II pada tahun 1999. Keduanya mempertahankan kemampuan produksi pesawat sipil dan militer, serta sejumlah usaha bisnis yang tidak terkait. Pemisahan ini dimaksudkan untuk menumbuhkan daya saing dalam industri kedirgantaraan Tiongkok.[7]
Pada tahun 2008, AVIC I dan AVIC II resmi bergabung kembali. Pemisahan sebelumnya mengakibatkan sumber daya terpecah dan menyebabkan proyek yang mubazir. Tujuan dari merger ini adalah untuk menghilangkan redundansi ini dan memisahkan kegiatan-kegiatan yang tidak terkait dengan bidang kedirgantaraan, seperti manufaktur sepeda motor dan suku cadang mobil.[8]
Invasi Rusia ke Ukraina
Pada bulan Februari 2023, Pusat Studi Pertahanan Tingkat Lanjut (Center for Advanced Defense Studies) melaporkan bahwa data bea cukai menunjukkan bahwa AVIC mengirimkan suku cadang untuk jet tempur Sukhoi Su-35 ke anak perusahaan perusahaan pertahanan Rusia Rostec, yang terkena sanksi setelah invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022.[13]