Terdapat berbagai turunan yang digunakan sebagai obat luar, yang terbagi atas 2 kelas, ester dari asam salisilat dan ester salisilat dari asam organik. Di samping itu digunakan pula garamsalisilat. Turunannya yang paling dikenal asalah asam asetilsalisilat.
Asam salisilat mendapatkan namanya dari spesiesdedalu (bahasa Latin:salixcode: la is deprecated ), yang memiliki kandungan asam tersebut secara alamiah, dan dari situlah manusia mengisolasinya. Penggunaan dedalu dalam pengobatan tradisional telah dilakukan oleh bangsa Sumeria, Asyur dan sejumlah suku Indian seperti Cherokee. Pada saat ini, asam salisilat banyak diaplikasikan dalam pembuatan obat aspirin.
Salisilat umumnya bekerja melalui kandungan asamnya. Hal tersebut dikembangkan secara menetap ke dalam salisilat baru. Selain sebagai obat, asam salisilat juga merupakan hormon tumbuhan.
Asam salisilat terdapat dalam sediaan krim, gel, maupun plester dengan konsentrasi yang bervariasi. Zat ini sukar larut dalam air, tetapi lebih mudah larut dalam lemak. Formulasi asam salisilat harus memperhatikan nilai pH yang optimal mendekati 2,97, agar efek asam salisilat bekerja secara efektif.[3]
Sumber
Asam salisilat bisa didapatkan dari senyawa organik dan senyawa sintetis.
Senyawa organik
Berasal dari asam beta hidroksi pada senyawa alami tumbuhan, seperti kulit pohon willow (willow bark), wintergreen, spearmint, dan sweet birch, Camellia sinensis.
Senyawa sintetis
Diproduksi dengan proses pemanasan zat natrium fenol di bawah tekanan karbon dioksida, serta proses oksidasi zat naphthalene dengan menggunakan mikroba. Proses sintetis menghasilkan asam salisilat dengan sediaan kristal berwarna putih atau transparan.
Kegunaan
Sebagai anti inflamasi
Pada konsentrasi 0,5-5%, asam salisilat menghambat proses biosntetis prostaglandin.
Efek analgesik
Digunakan pada pengobatan nyeri otot dan persendian.
Pengobatan penyakit kulit
Pada penyakit kulit psoriasis dan dermatitits, asam salisilat dapat dikombinasikan dengan zat sulfur dan menghasilkan efek desmolitik yang meningkatkan kortikostreroid.
Photoaging
Digunakan sebagai agen pengelupas kulit untuk mengatasi melasma, jerawat, hiperpegmentasi, serta kerusakan kult akibat sinar UV. Asam salisilat akan mengaktivasi sel basal epidermis danfibroblas dan menghasilkan efek regenerasi kulit.
Toksisitas
Asam salisilat tidak boleh digunakan untuk anak di bawah usia 12 tahun, ibu hamil dan menyusui, penderita ulkus lambung, hemofilia, asma, dan sakit ginjal. Penggunaan asam salisilat dalam kadar ringan, masih berpotensi memunculkan efek samping seperti gangguan pencernaan, kerusakan sistem saraf pusat, gangguan pernafasan, maupun penyakit metabolik.
↑PubChem. "Salicylic Acid". pubchem.ncbi.nlm.nih.gov (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-03-22.
12Sulistyaningrum, dkk (Juli 2012). "Penggunaan Asam Salisilat dalam Dermatologi". Journal of the Indonesian Medical Association: Majalah Kedokteran Indonesia. Volume 6 (No. 7): 277–284.;