Arum maculatum adalah tanaman berbunga yang tumbuh di hutan dan termasuk dalam keluarga Araceae. Tanaman ini berasal dari sebagian besar wilayah Eropa, serta wilayah timur Turki dan kawasan Kaukasus.
Seluruh bagian Arum maculatum dapat memicu reaksi alergi pada banyak orang, sehingga penanganannya harus dilakukan dengan hati-hati. Buahnya sangat beracun bagi banyak hewan, termasuk manusia, tetapi burung tidak terpengaruh dan justru membantu penyebaran bijinya.[2] Saat terjadi keracunan, belum ada penawar khusus yang diketahui, hanya perawatan fokus pada menjaga jalan napas dan pemberian cairan intensif untuk mencegah kerusakan ginjal.[3]
Deskripsi
Daun Arum maculatum muncul pada musim semi, yakni April–Mei di belahan bumi utara dan Oktober–November di belahan bumi selatan, dengan panjang 7 hingga 20 cm. Daunnya berbentuk segitiga dengan pangkal menyerupai kepala panah yang jelas, memiliki tangkai panjang, dan pembuluh darahnya berupa jaringan, bukan vena linier seperti pada monokotil umumnya. Beberapa daun hijau tua mungkin memiliki bercak ungu. Setelah daun muncul, tanaman ini berbunga dengan perbungaan berbentuk bunga tongkol yang sebagian tertutup oleh daun pelindung hijau pucat seperti tudung daun. Berdasarkan tinggi perbungaan relatif, Arum dibagi menjadi dua kelompok: spesies “samar”, yang perbungaan berada di tangkai pendek di tengah atau di bawah daun, dan spesies “bendera”, yang perbungaan muncul di atas daun di ujung tangkai panjang sehingga menjadikan A. maculatum termasuk spesies “samar”. Daun pelindung bisa mencapai tinggi 25 cm, sementara paku berbuah di akhir musim tumbuh hingga sekitar 5 cm. Bunganya tersembunyi, tersusun di pangkal spadix dengan bunga betina di bawah dan bunga jantan di atas. Daun tanaman ini bisa berbintik ungu (var. maculatum) atau polos tanpa noda (var. immaculatum).[4]
Kegunaan
Akar Arum maculatum, jika dipanggang dengan baik, bisa dikonsumsi dan pernah diperdagangkan sebagai “sagu Portland” setelah digiling. Akar ini digunakan seperti tepung anggrek untuk membuat sahlep, minuman populer sebelum teh atau kopi dikenal, dan juga bisa dijadikan pengganti singkong. Namun, jika tidak diolah dengan benar, tanaman ini sangat beracun.[5]
Di wilayah Andırın, Turki, Arum maculatum juga digunakan untuk membuat sup tradisional bernama Tirşik. Daunnya difermentasi bersama yogurt dan direbus selama berjam-jam, proses yang menghilangkan racun dan menghasilkan sup asam yang aman untuk dikonsumsi.[6]