Arja adalah semacam opera khas Bali,[1][2] merupakan sebuah dramatari yang dialognya ditembangkan secara macapat. Pertunjukan ini menggabungkan unsur seni, musik, sastra, dan teater dalam satu kesatuan etnis yang penuh akna budaya. Dramatari Arja ini adalah salah satu kesenian yang sangat digemari di kalangan masyarakat. Nama Arja diduga berasal dari kata Reja (bahasa Sanskerta) yang berarti keindahan.[3][4]Gamelan yang biasa dipakai mengiringi Arja disebut "Gaguntangan" yang bersuara lirih dan merdu sehingga dapat menambah keindahan tembang yang dilantunkan oleh para penari.[5][6]
Arja diperkirakan muncul pada tahun 1820-an, pada masa pemerintahan Raja Klungkung, I Dewa Agung Sakti. Menjelang berakhirnya abad 20 lahirlah Arja Muani, di mana semua pemainnya pria, sebagian memerankan wanita.[4] Kepopuleran teater Arja didorong oleh daya tarik keterlibatan para remaja putri, remaja putra, serta orang dewasa sebagai pelakunya. Di berbagai desa, kelompok Arja setempat berfungsi sebagai wadah hiburan bagi para pemuda dan pemudi di lingkungan tersebut.[1]
Fase
Perkembangan seni pertunjukan Arja dapat dipahami melalui tiga fase penting. Fase pertama ditandai dengan kemunculan Arja Doyong, yaitu bentuk awal Arja yang dimainkan oleh satu orang tanpa iringan gamelan. Fase berikutnya adalah Arja Gaguntangan, yang sudah menggunakan iringan gamelan gaguntangan serta melibatkan lebih dari satu pelaku. Tahap terakhir adalah Arja Gede, yakni bentuk Arja yang berkembang paling kompleks, dibawakan oleh sekitar 10 hingga 15 pelaku, dengan struktur pertunjukan yang telah tersusun baku sebagaimana dikenal hingga saat ini.[3]
Lakon
Sumber lakon Arja yang utama adalah cerita Panji (Malat),[7] kemudian lahirlah sejumlah cerita seperti Bandasura, Pakang Raras, Linggar Petak, I Godogan, Cipta Kelangen, Made Umbara, Cilinaya dan Dempu Awang yang dikenal secara luas oleh masyarakat.[8]
Arja juga menampilkan lakon-lakon dari cerita rakyat seperti Jayaprana, Sampik Ingtai, Basur dan Cupak Grantang serta beberapa lakon yang diangkat dari cerita Mahabharata dan Ramayana. Lakon apapun yang dibawakan Arja selalu menampilkan tokoh-tokoh utama yang meliputi Inya, Galuh, Desak (Desak Rai), Limbur, Liku, Panasar, Mantri Manis, Mantri Buduh dan dua pasang punakawan atau Panasar kakak beradik yang masing - masing terdiri dari Punta dan Kartala. Hampir semua daerah di Bali masih memiliki grup-grup Arja yang masih aktif.[3][9]
Referensi
12Shadily, Hassan; Sitompul, Binsar; Burhan, Firdaus; Suharto, Suharto; Sumaryo, Sumaryo; Sudharsono, Sudharsono; Suwondo, Bambang; Yunus, Ahmad (1979-01-01). Ensiklopedi musik indonesia seri a-e. Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan. hlm.25–27. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Prasetya, S. H. B., & Dana, I. W. (Ed.). (2014). Panji dalam berbagai tradisi Nusantara: Prosiding Seminar Tokoh Panji Indonesia. Jakarta: Direktorat Pembinaan Kesenian dan Perfilman, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.