Arkade adalah elemen arsitektur yang terdiri dari serangkaian lengkungan yang didukung oleh kolom, tiang, atau pilar. Arkade dapat berfungsi sebagai bagian dari bangunan atau berdiri sendiri sebagai struktur yang berdiri bebas. Arkade dapat menjadi bagian dari bangunan utama maupun berdiri sendiri sebagai elemen independen. Dalam berbagai peradaban, arkade digunakan untuk menciptakan jalur beratap yang memberikan perlindungan bagi pejalan kaki dari cuaca ekstrem, baik panas matahari maupun hujan.[1]
Beberapa karakteristik utama arkade meliputi:
Pola Lengkungan Berulang – Arkade umumnya terdiri atas rangkaian lengkungan yang diulang secara ritmis. Bentuk lengkungan ini bervariasi tergantung pada gaya arsitektur yang digunakan.
Struktur Penopang Berupa Kolom atau Pilar – Lengkungan arkade ditopang oleh kolom atau pilar, yang dapat memiliki ornamen dekoratif sesuai dengan gaya arsitektural bangunan atau tetap sederhana untuk menonjolkan aspek fungsionalitasnya.
Koridor Pejalan Kaki atau Area Semi-Tertutup – Arkade sering kali menciptakan jalur yang teduh dan terlindungi, yang dapat digunakan untuk keperluan pejalan kaki atau difungsikan sebagai ruang komersial.
Arkade telah menjadi bagian dari arsitektur berbagai peradaban sejak zaman kuno hingga era modern. Selain berfungsi sebagai elemen struktural dan praktis, arkade juga memiliki nilai estetika yang menambah keindahan suatu bangunan.
Sejarah Arkade
Periode Kuno
Konsep arkade telah dikenal sejak zaman peradaban kuno, khususnya dalam arsitektur Romawi dan Yunani. Bangsa Romawi secara luas mengadopsi penggunaan arkade dalam berbagai struktur monumental, di antaranya:
Aqueducts (saluran air) – Salah satu contoh terkenal adalah Pont du Gard di Prancis, yang memanfaatkan rangkaian lengkungan bertingkat untuk menyalurkan air ke pemukiman.
Amfiteater – Struktur seperti Colosseum di Roma mengandalkan arkade bertingkat untuk mendukung struktur tempat duduk serta menciptakan jalur pergerakan bagi penonton.
Forum dan Basilika – Kompleks publik seperti forum dan basilika di kota-kota Romawi sering kali dikelilingi oleh arkade, menciptakan ruang komunal yang luas dan tertata.
Abad Pertengahan
Pada masa Abad Pertengahan, arkade banyak digunakan dalam bangunan keagamaan dan benteng pertahanan. Salah satu penerapannya yang paling umum adalah di klaustrum (halaman tertutup di dalam kompleks Biara), yang memberikan ruang meditatif dan tenang bagi para biarawan. Contoh terkenal dari penerapan arkade di era ini antara lain:
Selain dalam bangunan keagamaan, arkade juga dimanfaatkan dalam desain pasar dan jalur perbelanjaan tertutup di kota-kota Eropa, memberikan perlindungan bagi pedagang dan pembeli.[2]
Renaisans dan Barok
Pada periode Renaisans dan Barok arkade tidak hanya berfungsi sebagai elemen struktural, tetapi juga menjadi bagian dari estetika yang lebih dekoratif dan monumental. Beberapa contoh arkade terkenal dari periode ini meliputi:
Piazza San Marco, Venesia – Alun-alun ini dikelilingi oleh arkade yang menyatu dengan berbagai bangunan bersejarah di sekitarnya.
Galleria degli Uffizi, Florence – Memiliki deretan arkade dengan kolom klasik yang membentuk koridor panjang dan elegan.
Place des Vosges, Paris – Salah satu contoh alun-alun pertama di Prancis yang mengintegrasikan arkade sebagai bagian dari tata kota.
Abad ke-19 dan ke-20
Pada abad ke-19, konsep arkade berkembang lebih lanjut dalam bentuk pusat perbelanjaan tertutup, yang dikenal sebagai shopping arcade. Pusat perbelanjaan ini menjadi cikal bakal mal modern. Beberapa contoh bersejarah meliputi:
Dalam arsitektur modern, arkade tetap digunakan dalam berbagai bentuk, baik sebagai bagian dari desain perkotaan maupun dalam pusat perbelanjaan dan jalur pedestrian tertutup.
Jenis-Jenis Arkade
Arkade dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa jenis berdasarkan desain dan fungsinya, antara lain:
Arkade Terbuka – Arkade yang menjadi bagian dari fasad bangunan tanpa atap pelindung tambahan, sering ditemukan pada gereja, istana, dan bangunan klasik.
Arkade Tertutup – Arkade yang memiliki atap kaca atau struktur pelindung lainnya, umumnya diterapkan pada pusat perbelanjaan tertutup.
Arkade Bertingkat – Arkade yang memiliki lebih dari satu tingkat lengkungan, sering ditemukan dalam arsitektur Romawi dan Renaisans.
Arkade Kolonial – Gaya arkade yang umum pada bangunan kolonial di Amerika Latin dan Asia Tenggara, sering kali digunakan dalam desain rumah besar dan bangunan pemerintahan. [3]
Arkade dalam Budaya Populer
Selain dalam arsitektur, istilah "arkade" juga merujuk pada beberapa aspek budaya populer, seperti:
Sebagai elemen arsitektural yang telah berkembang sejak zaman kuno, arkade memiliki nilai estetika dan fungsional yang signifikan dalam berbagai bentuk bangunan. Penggunaannya yang beragam, mulai dari saluran air Romawi hingga pusat perbelanjaan modern, mencerminkan adaptabilitas dan daya tariknya dalam berbagai konteks budaya. Selain itu, konsep arkade juga terus berkembang, baik dalam perancangan perkotaan maupun dalam budaya populer. Dengan sejarah panjang dan aplikasinya yang beragam, arkade tetap menjadi elemen desain yang relevan dalam arsitektur kontemporer.