Api Tak Kunjung PadamApi Tak Kunjung Padam 00 20251122
Api Tak Kunjung Padam merupakan sebuah objek wisata yang berada di Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur.[1] Wisata ini merupakan sebuah fenomena alam dimana terdapat api yang terus menyala di permukaan tanah. Api ini disebut abadi karena tidak pernah benar-benar padam. Saat hujan deras, api bisa mati sesaat, tetapi akan menyala kembali begitu hujan berhenti. Fenomena ini ternyata terjadi karena tanah di kawasan itu mengandung belerang yang bereaksi dengan oksigen, sehingga membentuk nyala api terus menerus.[2]
Sejarah
Menurut cerita warga setempat, Wisata Api Tak Kunjung Padam ini pertama kali diciptakan oleh Raden Wignyo Kenongo, seorang pemuda yang sehari-hari hanya bekerja sebagai nelayan yang juga berperan sebagai penyebar ajaran Islam pada saat itu. Ia kemudian menyebarkan ilmu tersebut di Desa Larangan Tokol. Karena kepandaiannya inilah, warga sekitar memanggilnya "Ki Moko". [3]
Pada abad ke XVI, dijelaskan bahwa ia merasa kebingungan ketika mendengar kabar kedatangan rombongan kerajaan dari Palembang yang akan tiba di kediamannya dalam waktu dekat. Keadatangan rombongan itu bukan tanpa sebab, tetapi di karenakan sebelumnya ia pernah menyembuhkan putri raja bernama Siti Suminten. Berkat pertolongannya itu, akhirnya sang raja ingin menikahkan putrinya dengan Ki Moko sebagai imbalan. Ki Moko yang kesehariannya hidup sebagai orang sederhana merasa kebingungan untuk menyambut rombongan tersebut sehingga ia memutuskan untuk bersemedi dan memohon pertolongan pada Tuhan.[3]
Saat acara berlangsung, karena keadaan gelap, Ki Moko menancapkan tongkatnya ke tanah.[2] Seketika itu juga tercipta istana yang megah, sumber mata air dan juga api sebagai penerangannya. Pernikahan tersebut berjalan lancar. Namun, setelah pernikahan itu selesai dilaksanakan, hanya api yang terus menerangi lahan itu, sementara istana dan sumber air hilang saat itu juga. Menurut kisahnya, Ki Moko sudah menyuruh api itu untuk kembali ke asalnya, tapi api itu berkata pada Ki Moko untuk membiarkan si api tetap disana untuk menerangi dan menemani Ki Moko dan seluruh anak cucunya hingga akhir hayat nanti.[3]
Referensi
↑"Explore Madura". opensource.petra.ac.id. Diakses tanggal 2025-11-23.