Anyaman yang berbahan dasar rumput mansiang diolah oleh tangan-tangan perajin lokal menjadi berbagai produk ramah lingkungan seperti dompet, tas, dan wadah serbaguna lainnya. Selain menunjukkan komitmen terhadap prinsip keberlanjutan, Anyaman mansiang juga mengangkat nuansa kearifan lokal yang kuat karena mengkolaborasikan desain yang modern dengan nilai tradisional khas masyarakat pesisir Sumatera Barat.[2]
Perkembangan Anyaman Mansiang
Seiring perjalanan waktu, perajin anyaman mansiang terus melakukan inovasi dengan memproduksi produk yang unik dan menarik. Salah satu dari produk yang dihasilkan adalah kombuik. Kombuik adalah kerajinan tas anyaman dari mansiang. Dulu kombuik biasanya dipakai oleh Ibu-Ibu sebagai kantong belanja di pasar. Namun sekarang sudah banyak anak muda yang menggunakan produk berbahan mansiang ini. Seperti tas, dompet, tempat pensil, souvenir dan sebagainya. Tentunya dikombinasikan dengan bahan baku lain sehingga menghasilkan bentuk yang cantik, khas, dan unik. Seperti ditambahkan elemen pita, elemen bunga, dan bisa diberi nama sesuai permintaan.[3]
Mansiang merupakan sejenis rumput anggota suku teki-tekian (Cyperaceae) yang sering dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat anyaman. Rumput ini biasanya tumbuh di payau dan rawa-rawa. Anyaman mansiang sudah ada sejak dulu dan diwariskan secara turun temurun oleh Masyarakat Jorong Taratak, Nagari Kubang, Kecamatan Guguak, Kabupaten Lima Puluh Kota. Beraneka produk anyaman mansiang dikerjakan oleh tangan-tangan terampil perajin dari Taratak. Saat ini produk dari anyaman mansiang tidak hanya dipakai oleh penduduk setempat saja, namum sudah sampai ke luar kota bahkan mancanegara.[3]
Kombuik bagi masyarakat Taratak
Kombuik adalah kerajinan tas anyaman yang terbuat dari padi mansiang. Padi mansiang tumbuh di sawah seperti layaknya tanaman padi, dan di panen setelah berumur 8 bulan. Anak-anak sejak kecil sudah diajarkan bagaimana menganyam padi mansiang menjadi sebuah kombuik. Kombuik memilki beragam jenis bentuk dan kegunaan. Kombuk menjadi kebiasaan kreatifitas turun menurun yang produktif bagi masyarakat Taratak. Dahulu masyarakat menggunakan kombuik sebagai tempat untuk membawa bekal saat bekerja ke sawah dan ladang. Selain itu, kombuik juga digunakan sebagai tas untuk meletakkan barang belanjaan ketika ke pasar tradisional atau yang disebut “pokan”. Seiring berjalannya waktu, perajin terus melakukan inovasi baru terhadap desain kombuik agar masyarakat luas mengenal kombuik. Saat ini, kombuik sering digunakan saat menghadiri acara pernikahan atau acara-acara lainnya baik dalam situasi formal ataupun non formal. Selain itu, kombuik juga digunakan untuk kemasan yang dapat digunakan kembali seperti hampers lebaran, karena kombuik sudah mulai memiliki beragam desain unik untuk berbagai keperluan.[4]
Pelestarian Anyaman Mansiang
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) menetapkan Anyaman Mansiang menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTb) pada Kamis 31 Agustus 2023. Penetapan itu bersamaan dengan 21 usulan WBTb dari Provinsi Sumatra Barat. Adanya langkah tindak lanjut dalam menjaga kelestarian oleh Pemerintah Daerah dan masyarakat setempat, sangat diperlukan untuk menjaga warisan budaya tersebut.[5]