Pada masa pandemiCovid-19, banyak sekali antrean yang masih tidak tertib dan berkerumun di mana-mana. Contoh yang pertama adalah kerumunan ojek online ketika McDonalds merilis menu baru yang bekerja sama dengan boyband asal Korea Selatan, BTS, pada tanggal 9 Juni 2021. Para penggemar BTS sangat Menginginkan dan mengincar menu terbaru dari McDonalds tersebut agar mereka bisa mengonsumsi, memfoto, dan memposting makanan hasil dari pembelian mereka melalui ojek online ke media sosial seperti Instagram dan Twitter. Penyebab masyarakat tidak mengantre karena kurangnya kesadaran, kurangnya disiplin, dan ketidakpercayaan terhadap sistem antrean.
Menurut Elisabeth Filandow, dkk. (Institut Teknologi Bandung) hasil data masyarakat yang mengantre dengan tertib pada saat Covid-19 yang peroleh dari survei sebanyak 25 responden, sedangkan 56% dari 25 orang menjawab antrean selama pandemi masih berantakan, kemudian 44% dari 25 orang menjawab antrean sudah tertib. Selain itu, berdasarkan data survei sebanyak 20% dari 25 responden menjawab ya, sedangkan 80% lainnya menjawab tidak ada hubungan antara budaya antre dengan protokol kesehatan yang diedarakn oleh pemerintah. Pada kenyataannya perilaku susah antre tidak terkecuali pada masa pandemi Covid-19, Seolah-olah perilaku tersebut sudah menjadi budaya dari masyarakat Indonesia.
Budaya Antre merupakan hal yang sangat sederhana. Akan tetapi, jika dilihat secara nyata di lapangan penerapanya sampai sekarang masih minim di Indonesia. Hal tersebut terjadi karena kurangnya kesadaran dari masyarakat akan kedisplinan mengantre. Pada dasarnya, sikap disiplin sendiri membuat berbagai hal menjadi teratur dan tertib, tidak terkecuali dengan antrean. Bayangkan, apabila kesemrawutan antrean terjadi pada masa Covid 19, tentu lonjakan infeksi virus akan semakin tinggi lagi. mengingat, penyebaran virus ini tidak lepas dengan kerumunan orang. Dengan antrean yang tertib ditambah kewaspadaan diri akan membantu mencegah penularan Covid-19.
Fatimah[1] (2023), menyebutkan bahwa “Etika mengantre budaya mengantre harus diajarkan kepada masyarakat dini. Mulai dari anak diberikan informasi yang benar dan dibutuhkan oleh anak tersebut agar dapat mempraktikkan tingkah laku yang benar. Selain itu juga, anak harus diajarkan bagaimana cara menghargai orang lain bahkan orang yang lebih tua.
Referensi
↑Junita,, Ika Titian (29 April 2025). "Budaya Antre dalam Kehidupan Sehari-hari di Indonesia".Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.