Antoksantin (daribahasa Yunani Kunoἄνθος (ánthos), artinya "bunga",danξᾰνθός (xanthós), artinya "kuning") adalah sejenis pigmen flavonoid pada tumbuhan. Antoksantin adalah pigmen yang larut dalam air dengan warna yang bervariasi, mulai dari putih atau tak berwarna hingga krem hingga kuning, sering kali terdapat pada kelopak bunga. Pigmen ini umumnya lebih putih dalam media asam dan menguning dalam media basa. Pigmen ini sangat rentan terhadap perubahan warna akibat mineral dan ion logam, mirip dengan antosianin. Beberapa contoh antoksantin antara lain: apigeniun, luteolin, kaempferol, kuersetin.
Antosianin juga merupakan flavonoid, tetapi tulang punggungnya terbuat dari flavylium, bukan flavon dan flavonol yang ditemukan dalam antoksantin. Akibatnya, antosianin berwarna biru, bukan kuning yang merupakan ciri khas flavonoid (berasal dari kata Latin flavus, yang berarti kuning).[1] Modifikasi ini membutuhkan serangkaian gen khusus, sehingga antosianin lebih langka daripada antosantin di alam.[2]
Kegunaan
Seperti halnya semua flavonoid, antoksantin memiliki sifat antioksidan dan penting untuk nutrisi. Antoxantin terkadang digunakan sebagai zat aditif makanan untuk menambah warna atau rasa pada makanan. Salah satu antoksantin yang paling terkenal adalah kuersetin, yang ditemukan dalam banyak buah dan sayuran, termasuk kaper, bawang merah, dan kubis keriting.
Selain digunakan sebagai zat aditif makanan, antoksantin juga digunakan dalam produksi pewarna dan pigmen. Antoksantin juga dapat digunakan untuk menghasilkan pewarna kuning, oranye, atau merah untuk tekstil, kosmetik, dan produk lainnya.
Referensi
↑Isolation of a UDP-glucose: Flavonoid 5-O-glucosyltransferase gene and expression analysis of anthocyanin biosynthetic genes in herbaceous peony (Paeonia lactiflora Pall.). Da Qiu Zhao, Chen Xia Han, Jin Tao Ge and Jun Tao, Electronic Journal of Biotechnology, 15 November 2012, Volume 15, Number 6, DOI:10.2225/vol15-issue6-fulltext-7