Raden Ajeng Ratna Dewi Antarina 8 Juni 1962 Jakarta
Kebangsaan
Indonesia
Almamater
University of Pittsburgh
Gelar
Kanjeng Raden Ayu Tumenggung Kusumaningrum / K.R.Ay.T Kusumaningrum
Suami/istri
Farid Amir
Anak
4
Ratna Dewi Antarina atau dikenal juga dengan Antarina SF Amir, lahir di Jakarta, 8 Juni 1962 dengan nama Raden Ajeng Ratna Dewi Antarina, adalah seorang akademisi dan juga pendiri Sekolah HighScope Indonesia serta Presiden Direktur dari Redea (Research & Development for Advancement) Institute.[1] Wanita yang aktif di berbagai organisasi ini, menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah di KADIN[2] dan Dewan Pendiri/Pembina Asosiasi Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI).[butuh rujukan]
Ayah dari Antarina SF Amir adalah Drs. Sulianto Soeleiman, adik dari Prof. Dr. dr. Julie Sulianti Saroso, M.P.H., seorang tokoh kedokteran Indonesia yang namanya diabadikan menjadi nama sebuah rumah sakit di Jakarta, yaitu Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso. Keduanya merupakan anak dari Oemi Salamah dan dr. Moehammad Soeleiman,[3] tokoh pendiri dan wakil ketua organisasi Boedi Utomo. Ibu dari Antarina SF Amir bernama Suwarmilah Surjaningrat, S.H., yang merupakan keponakan dari Bapak Pendidikan Indonesia atau Ki Hajar Dewantara. Antarina SF Amir memiliki semangat yang sama dengan para leluhurnya, yaitu memajukan pendidikan di Indonesia.
Pada tahun 1996, Antarina SF Amir dan beberapa koleganya mendirikan prasekolah HighScope yang berasal dari Amerika Serikat.[4] Sekolah yang memiliki metode pembelajaran active learning (progressive-constructive learning) tersebut mendorong anak didik untuk mengembangkan pengetahuan dan pemahaman tentang dunia melalui pengalaman langsung dan refleksi diri. Sampai saat ini, Sekolah HighScope Indonesia sudah berada di 15 lokasi yang tersebar di Jakarta,[5] Bekasi, Bogor, Bandung, Palembang, Bengkulu, Medan, dan Bali.[butuh rujukan]
Life Skills for All Learners: How to Teach, Asses, and Report Education's New Essential
Pemikiranya mengenai pendidikan Indonesia tertuang dalam buku yang berjudul Menggugat Ujian Nasional,[6] pada bab "Mencegah Generasi yang Hilang". Antarina SF Amir juga menulis buku mengenai pengembangan metode berkelanjutan dalam membangun kecakapan hidup yang memiliki peranan penting bagi future-ready citizens dalam menghadapi perubahan dunia global. Buku yang diberi judul Life Skill for All Learners[7] bekerja sama dengan Prof. Thomas R. Guskey, Ph.D, seorang profesor dan ahli pendidikan yang berasal dari Amerika Serikat sebagai penulis bersama.[butuh rujukan]
↑Sahrasad, dkk, Herdi (Januari 2016). Bagelen: Historia Para Intelektual dan Jenderal yang Dilupakan. Freedom Foundation & Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Universitas Paramadina. hlm.277. ISBN978-1518658310. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)