Saat ini terdapat dua subtipe reseptor ini yang dikenal, yang didefinisikan sebagai CCKA dan CCKB (juga disebut CCK-1 dan CCK-2). Reseptor CCKA terutama diekspresikan di usus halus, dan terlibat dalam pengaturan sekresi enzim oleh pankreas, sekresi asam lambung di lambung, motilitas usus, dan pensinyalan rasa kenyang. Reseptor CCKB terutama diekspresikan di sistem saraf pusat, dan memiliki fungsi yang berkaitan dengan kecemasan dan persepsi nyeri.[1]
Penelitian
Obat-obatan yang lebih baru telah dikembangkan yang selektif untuk salah satu atau kedua reseptor CCK. Antagonis reseptor CCKA selektif seperti lorglumida dan devazepida telah dikembangkan baik untuk efek anti-tukak maupun sebagai obat potensial untuk membatasi perkembangan kanker saluran cerna seperti kanker usus besar.[2] Antagonis selektif sentral yakni Ranquilon baru-baru ini telah mendapatkan persetujuan klinis untuk pengobatan kecemasan di Rusia.
Fokus utama penelitian antagonis reseptor CCK telah berpusat pada pengembangan antagonis reseptor CCKB selektif sebagai obat baru yang terutama diteliti untuk pengobatan kecemasan dan serangan panik, serta untuk peran lain seperti efek analgesik. Antagonis reseptor CCKB selektif pertama adalah molekul peptida yang dimodifikasi seperti CI-988 dan CI-1015 yang lebih stabil secara metabolik, namun obat-obatan ini memiliki kekurangan karena hanya dapat diberikan melalui injeksi dan cepat terurai di dalam tubuh, yang menyebabkan waktu paruh yang pendek dan kegunaan yang terbatas. Antagonis reseptor CCKB non-peptida seperti L-365,260, L-369,293, YF-476, RP-69758, LY-288,513, PD-145,942 dan agonis invers reseptor CCKB L-740,093 telah dikembangkan,[3] dan meskipun semua obat yang dikembangkan sejauh ini mengalami bioavailabilitas terbatas atau masalah lain yang menghambat pengembangan klinisnya, penelitian di bidang ini terus berlanjut.[4]
Reseptor CCKA juga diekspresikan di otak sampai batas tertentu, dan IQM-95333 selaku antagonis selektif untuk populasi reseptor CCKA ini, juga ditemukan dapat mengurangi kecemasan pada model hewan.[5] Sebaliknya, penghambatan reseptor CCKB di usus menghasilkan penghambatan sekresi asam lambung dan enzim pepsinogen yang serupa dengan yang terlihat pada penghambatan reseptor CCKA.[6]
Referensi
↑Rehfeld, JF (2004). "Clinical endocrinology and metabolism. Cholecystokinin". Best Practice & Research. Clinical Endocrinology & Metabolism. 18 (4): 569–86. doi:10.1016/j.beem.2004.07.002. PMID15533776.
↑González-Puga, C; García-Navarro, A; Escames, G; León, J; López-Cantarero, M; Ros, E; Acuña-Castroviejo, D (2005). "Selective CCK-A but not CCK-B receptor antagonists inhibit HT-29 cell proliferation: synergism with pharmacological levels of melatonin". Journal of Pineal Research. 39 (3): 243–50. doi:10.1111/j.1600-079X.2005.00239.x. PMID16150104. S2CID20187767.
↑Kalindjian, SB; Mcdonald, IM (2007). "Strategies for the design of non-peptide CCK2 receptor agonist and antagonist ligand". Current Topics in Medicinal Chemistry. 7 (12): 1195–204. doi:10.2174/156802607780960500. PMID17584141.