Angsabatu christmas (Papasula abbotti) merupakan burung laut yang terancam punah dari famili Sulidae, yang juga mencakup dendang laut dan angsa batu. Angsa batu ini berukuran besar dan termasuk dalam genus monotipenya sendiri. Burung laut ini pertama kali diidentifikasi dari spesimen yang dikumpulkan oleh William Louis Abbott yang menemukannya di Pulau Assumption pada 1892.[1][2]
Deskripsi
Burung laut ini bisa mencapai ukuran panjang hingga 80 cm dengan bobot tubuh sekitar 1460 gram.[3]EBird menggambarkan spesies ini sebagai "burung laut hitam-putih yang kurus dan tampak memanjang. Sangat ramping dan tampak aneh saat terbang. Berkembang biak di kanopi hutan hujan Pulau Natal, dan mencari makan di laut di sekitarnya. Beberapa burung, terutama yang belum dewasa, akan mencari makan lebih jauh, tetapi jangkauannya masih kurang dipahami. Profilnya yang berleher panjang dan bersayap ramping yang aneh menjadi keunikan tersendiri, dan seharusnya mudah membedakan spesies ini dari spesies lain di wilayah jelajahnya. Paruhnya berwarna merah muda pucat pada betina dan keabu-abuan pada jantan."[4]
Sebaran dan perilaku
Angsa batu christmas hanya berkembang biak di beberapa tempat di Pulau Natal, wilayah Australia, di Samudra Hindia bagian timur, meski sebelumnya memiliki wilayah jelajah yang jauh lebih luas. Burung ini memiliki bulu putih dengan tanda hitam dan beradaptasi untuk terbang jarak jauh. Angsa batu ini mencari makan di sekitar Pulau Natal, seringkali di sekitar arus laut yang kaya nutrisi, meskipun tiap-tiap burung dapat menempuh jarak ribuan kilometer. Pasangan-pasangan burung ini kawin seumur hidup dan membesarkan satu anak setiap dua atau tiga tahun, bersarang di dekat puncak pohon yang muncul di kanopi hutan hujan.[5]
Status konservasi dan ancaman
Populasinya telah lama mengalami tren penurunan, sehingga IUCN pada 2019 menetapkan statusnya sebagai spesies genting.[6] Secara historis, sebagian besar habitat aslinya ditebang untuk membuka lahan pertambangan fosfat. Beberapa penebangan masih berlanjut, dan dampak penebangan sebelumnya terus berpengaruh buruk pada populasi burung saat ini.[5] Ancaman lain disebabkan oleh masuknya semut gila kuning yang menurunkan kualitas habitat. Penurunan habitat yang minimal berdampak signifikan pada populasi burung. Semua area bersarangnya telah dimasukkan ke dalam taman nasional.[5]