Secara etimologis, kata amongo berarti "tikar" atau "alas". Dalam hal ini amongo merujuk pada tikar anyaman yang secara turun-temurun digunakan dalam berbagai kegiatan adat di Gorontalo, seperti tradisi tujuh bulanan (molonthalo),[3] kelahiran, akikah, sunat, pembeatan, hingga pernikahan.[1]
Bahan dan alat
Karya seni amongo yang dibuat dari bahan utama serat alami tanaman mendong (tiohu) dikenal sebagai amongo tiohu. Sementara, jika bahan dasar serat yang digunakan berasal dari daun silar, tikar yang dihasilkan disebut sebagai amongo tiladu.[3] Sebagai bahan pewarna, para perajin menggunakan bahan pewarna sintetis yang disebut kasumba, dengan warna utama merah (melamo) dan hijau (moidu). Adapun alat yang digunakan dalam pembuatan amongo berupa buboluta (alat pelurus dari bilah bambu dengan bentuk menyerupai pisau tumpul), serta panci dan kompor gas atau tungku untuk tahap perebusan pewarna.[1]
Pembuatan
Pembuatan amongo melibatkan beberapa tahap, dimulai dengan pengeringan tiohu di bawah sinar matahari selama 2–3 hari. Jika amongo ingin diberi motif berwarna, maka dilakukan pewarnaan dengan merendam tiohu dalam larutan bahan pewarna kasumba. Setelah itu, dilakukan pelurusan (mo buboluta) dengan buboluta, di mana setiap helai dari tiohu dipipihkan sebanyak sepuluh kali dari pangkal ke ujung. Proses anyaman amongo mengikuti teknik sasak, dimulai dari tahap permulaan, penyusunan, hingga penyelesaian akhir. Pada umumnya amongo yang diproduksi meliputi amongo polos dan kotak-kotak berwarna.[1]
Tantangan
Dahulu, bahan baku tanaman yang digunakan untuk pembuatan amongo dapat diperoleh perajin di sekitar Danau Limboto. Namun, saat ini ketersediaan bahan baku tersebut berkurang. Masyarakat juga mulai beralih pada penggunaan tikar modern, sehingga perajin karya seni ini juga menurun.[1][3] Sebagai bagian dari upaya revitalisasi, Pemerintah Daerah berupaya mendatangkan narasumber atau pelatih untuk membina perajin dalam mengembangkan kerajinan amongo ke bentuk yang lebih bervariasi, seperti tas atau dompet.[4][5]